Islam 100%
Islam adalah ajaran yang diturunkan untuk segenap manusia. Oleh Allah, sebagai bentuk kasihNya, disampaikan melalui segenap utusan mulia, dari Adam (as) hingga sang Nabi terakhir, Muhammad (saw). Sebagai satu ajaran yang utuh, dalam masa kenabian terakhir, Islam dibawa, dipahami, diamalkan, disampaikan, dijaga oleh Muhammad (saw). Pada masa ini beliaulah Islam itu sendiri. Sementara manusia lain, pada masa kenabian beliau, semuanya, adalah pelajar, peniru Islam, di hadapan beliau.
Namun demikian, salah satu kehilangan terbesar dalam sejarah manusia tampaknya harus terjadi. Muhammad (saw) berpulang pada tahun ke-10 hijrah, bertepatan dengan tahun ke-632 masehi. (Allah lebih tahu betapa besar kehilangan yang dirasakan kaum beriman dengan terputusnya wahyu, dengan wafatnya sang Nabi). Apakah kemudian Islam sebagai satu ajaran yang utuh terkubur bersama jasad mulia beliau?
Mari kita simak ilustrasi yang melatari tanya tsb. Ini adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman saja, mungkin bukan yang paling tepat, tapi insyaAllah menyampaikan maksud yang ingin saya sampaikan.
Katakan bahwa Muhammad (saw) adalah manifestasi sempurna Islam, seperti diungkap sebelumnya. Generasi yang belajar langsung tentang Islam kepada Nabi (saw) disebut dengan para sahabat (Nabi). Generasi yang selanjutnya belajar tentang Islam kepada para sahabat disebut tabiin. Dst.
Para sahabat beragam dalam hal kecerdasan, kesungguhan, juga lamanya belajar dari Nabi. Dari segi lamanya berinteraksi dengan Nabi misalnya. Ada sepupu Nabi, sekaligus anak angkat, juga menantunya yang telah mengenal dekat siapa Nabi, selama masa kerasulan, bahkan lebih lama lagi. Ada Abu Bakar, pedagang yang memeluk Islam pada masa awal kenabian, sebagai orang pertama di luar keluarga Muhammad yang mengakui kenabian beliau. Ada Abu Hurairah yang berislam sejak empat tahun menjelang wafat Nabi. Dengan asumsi bahwa ada bias dalam penerimaan ajaran Islam dari Nabi kepada para sahabat ini, atau setidaknya fakta bahwa Nabi tidak selalu bersama dengan masing-masing sahabat, maka kemudian apa yang ada pada Nabi tak sama persis dengan apa yang ada pada masing-masing sahabat.
Katakan bahwa Muhammad (saw) adalah Islam 100%, Abu Bakar memahami Islam 90%, Umar memahami 70% dari Islam, dst. Setelah itu ada generasi tabiin yang berguru tentang Islam kepada para sahabat, tentunya dengan kadar pemahaman yang lebih rendah dari para sahabat utama Nabi. (Toh?) Demikian seterusnya hingga kita yang hidup ratusan tahun, seribuan tahun lebih setelah Nabi wafat. Alhasil, berapa persen keislaman kita, atau keislaman para ahli Islam di zaman kita? 10%? 5%? Silahkan perhatikan narasi yang dibangun oleh sebagian orang yang menyatakan bahwa generasi terbaik adalah para sahabat. Setelah itu adalah tabiin. Setelahnya adalah tabiit tabiin. Dst. Betapa malang nasib anda, saudara! Anda lahir teramat jauh dari zaman Nabi. Anda lahir teramat jauh dari zaman dan predikat "terbaik". Takdir, terima saja!(?)
Jika dirunut kembali ke belakang pada saat Nabi saw berpulang, dengan teori keberagamaan seperti disebutkan, maka sebenarnya Islam sudah tiada. Mengapa? Bukankah yang ada adalah 90% Islam, 70% Islam, dst, bukan Islam sebagai satu bangunan utuh? Adakah yang akan bilang bahwa Islam tetap ada 100% dengan menggabungkan keislaman masing-masing sahabat? Saya berani jamin tak ada yang dapat menunjukkan Islam 100% seperti apa, dengan teori semacam itu.
Atau apakah Islam itu maksudnya semangat, spirit semata, tanpa rincian amaliah yang tertentu? Dalam Islam ada ajaran salat misalnya. Jika niatnya benar maka salatnya benar? Apakah salat yang beragam, masing-masing mazhab punya cara salatnya sendiri, itu benar semua (bergantung niatnya)? ###
Mari sejenak kembali kepada salah satu sumber ajaran Islam paling terpercaya. Yang diakui posisinya sebagai rujukan utama semua muslim. AlQuran. (Atau ada yang meragukan posisi dan keaslian alQuran? Bisa, bisa banget didiskusikan. Sambil ngopi?) Jadi apa yang alQuran katakan tentang polemik ini?
"Wahai sekalian kaum beriman masuklah dalam Islam, semua!..." Atau "Katakan: Jika kalian mencintai Allah maka tirulah saya (Muhammad)!..."
Apakah dengan ungkapan ini Allah bercanda? Mustahil menjadi seperti Nabi, yakni Islam 100%, tapi Allah mengajak semua mukmin menjadi seperti Nabi? Apakah Dia pernah bergurau dengan ungkapan semisal "Wahai sekalian manusia jadilah kecebong atau kampret (secara harfiah)!"? Perlukah Allah membanyol hanya untuk menyenangkan anda?
"Ia (alQuran) sungguh satu pernyataan tegas. Dan ia bukanlah candaan."
Semakin jauh menyelami alQuran dengan dada dan pikiran terbuka akan anda dapati bahwa menjadi seperti Nabi, bukanlah pepesan kosong. Itu bukan candaan sama sekali. Itu kalau belajar dari ahlinya. Siapa? Ya, Nabi lah. Atau yang serupa dengan beliau. Emang ada? ###
Alkisah. Kaum Nasrani dari Najran meyakini bahwa Isa bin Maryam adalah tuhan. Argumennya adalah bahwa ia tak punya ayah biologis. Pada Surah Ali Imran: 59 alQuran menjawab argumen tsb. "Perumpamaan Isa di sisi Allah sungguh seperti Adam. Dia menciptanya dari debu. Lalu Dia bilang kepadanya 'Jadi!' Maka terjadi."
Menjawab lebih lanjut keyakinan kaum Nasrani tsb Allah mempersilahkan Nabi, disertai orang-orang terdekatnya, mengajak kaum Nasrani bermubahalah. Yakni beradu doa di area umum, agar pihak yang klaimnya salah beroleh bencana dan kehancuran seketika. Tertarik dengan kelanjutannya? Silahkan cari buku tentang "mubahalah".
Kembali ke topik kita. Adapun yang menarik tentang kisah ini adalah bagaimana Allah dan alQuran mengungkapkan secara harfiah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Khususnya dari pihak Muhammad (saw).
"...maka katakan! Mari kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kalian, juga perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, juga diri-diri kami dan diri-diri kalian, lalu kita bermubahalah..."
Salah satu yang paling menarik adalah bagaimana Allah menyebutkan sebagian peserta mubahalah dengan ungkapan "diri-diri kami". Yakni orang selain Nabi yang Allah samakan dengan diri Nabi. ###
Seolah ayat-ayat tentang mubahalah tsb ingin mengungkapkan siapa ulul amr (secara harfiah: para pemilik otoritas) dalam Surah anNisa: 59. "Wahai kaum beriman sekalian taatilah Allah, taati pula sang Rasul dan ulul amr dari kalian..."
Betapa dalam ayat tsb ketaatan kepada ulul amr disandingkan dengan ketaatan kepada Allah dan rasulNya. Silahkan cermati bahwa secara tekstual ketaatan kepada ulul amr dalam hal ini tanpa syarat sebagaimana ketaatan kepada Allah, pun rasulNya. Mengapa demikian? Karena ulul amr dalam ungkapan Allah disetarakan dengan sang Rasul, seperti diungkapkan dengan frasa "diri-diri kami" pada rangkaian ayat mubahalah. ###
"Dan mereka yang ingkar akan bilang 'anda bukan seorang rasul'. Katakan! 'Cukuplah Allah sebagai saksi antara saya dan kalian, juga dia yang padanya pengetahuan sang kitab.'" (AlQuran Surah arRa'd: 43)
Sang kitab dalam hal ini adalah ungkapan lain untuk kitab yang terang, lembaran yang terjaga. Lauhul mahfuz.
Bagian akhir ayat ini seolah turut menjelaskan siapa ulul amr. Bukankah wajar bahwa seorang pemegang otoritas atas segenap manusia adalah setara dengan Nabi, juga seorang yang tahu tentang ilmu dalam lauhul mahfuz? Dan berita baiknya masih banyak lagi ayat lain yang turut menjelaskan siapa ulul amr. ###
Silahkan bertanya kepada para pakar sejarah Islam tentang siapa sosok yang dimaksud dengan ulul amr, atau "diri-diri kami", atau dia yang padanya ilmu sang kitab! Itu adalah orang yang sama. Itulah Islam 100% sebagaimana Nabi (saw). Para pakar itu tak akan punya sandaran kuat untuk menolak bahwa itu adalah tentang bin Abu Talib, Ali. ###
Menarik dibaca:
* AlQuran, Surah Ali Imran: 19, tentang Islam sebagai agama yang benar
* ibid, Surah Ali Imran: 59-61
* ibid, Surah Yunus: 61, tentang kitab yang terang
* ibid, Surah alBuruj: 22, tentang lembaran yang terjaga
* ibid, Surah alMaidah: 3, tentang Islam sebagai agama yang disenangiNya
* ibid, tentang lengkap dan tuntasnya agama (dengan kenabian Muhammad)
* ibid, Surah Ali Imran: 31, tentang meniru Muhammad (saw)
* ibid, Surah alBaqarah: 108
* ibid, Surah atTariq: 13-14
* ibid, Surah anNisa: 59
* ibid, Surah arRa'd: 43
* https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Hurairah
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakr
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ali
* https://id.m.wikipedia.org/wiki/Najran
* https://muslim.or.id/2406-inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html
* Imamate and Infallibility of Imams in the Quran, oleh Ridha Kardan. versi buku elektroniknya dapat diunduh di link ini. https://www.al-islam.org/imamate-and-infallibility-imams-quran-ridha-kardan
Mereka yang berjuang dalam Kami pasti akan Kami sampaikan kepada jalan-jalan Kami. Dan Allah sungguh bersama para pelaku kebaikan.
Label
- AlQuran (26)
- Filsafat (10)
- epistemologi (10)
- Akhlak (9)
- Tauhid (9)
- Logika (8)
- Misbah Yazdi (8)
- etika (3)
- pengetahuan (3)
- idea (2)
- kognisi (2)
- nilai (2)
- Hukum (1)
- abstraksi (1)
- diri (1)
- empiris (1)
- fakta (1)
- ideal (1)
- ilmu hudhuri (1)
- ilmu husuli (1)
- imaterial (1)
- inderawi (1)
- kenyataan (1)
- materialisme (1)
- mental (1)
- metafisika (1)
- nilai pengetahuan (1)
- pembenaran (1)
- pemikiran (1)
- pengetahuan akli (1)
- pengetahuan inderawi (1)
- pengetahuan langsung (1)
- pengetahuan tak langsung (1)
- positifis (1)
- positivisme (1)
- rasionalis (1)
- realita (1)
- universal (1)
Kamis, 02 Agustus 2018
Selasa, 17 Juli 2018
Pengumpul keping puzzle
pengumpul keping puzzle
Puzzle. Lebih lengkap maksud saya jigsaw puzzle. Adalah permainan merangkai kepingan-kepingan gambar untuk membentuk satu gambar besar yang utuh. Permainan ini melatih anak menumbuhkan sebagian kemampuan motorik, yakni kemampuan dalam mengkoordinasi alat-alat gerak, khususnya penglihatan dan tangan, dengan baik. Selain itu ia membantu anak mengembangkan proses kreatif. Untuk menyelesaikan permainan jigsaw puzzle anak dituntut mengimajinasikan sebuah gambar utuh atau setidaknya rangkaian beberapa gambar yang telah dan belum terpasang benar. Juga, jigsaw puzzle membantu pelatihan ingatan jangka pendek dan konsentrasi.
Satu hal yang bagi saya menarik dari puzzle ini adalah keunikan pada tiap-tiap kepingnya. Masing-masing keping puzzle punya tempat yang khas dalam papan permainan, tak bisa digantikan oleh keping lain yang manapun. Selain tempatnya harus pas, arah kepingan harus pula tepat. Dengan tempat yang benar sebuah keping puzzle ada kalanya harus diputar ke kanan, atau ke kiri, agar cocok dengan peruntukannya. Ada kalanya bahkan keping puzzle harus dibalik, pun diputar, agar arahnya tepat. ###
Mencermati segenap segmen perjalanan hidup bagi sebagian orang adalah seperti mengamati papan puzzle. Setiap bagian yang didapati dari kehidupan ibarat satu keping puzzle. Yang terserah si empunya menempatkannya di mana dalam arah bagaimana. Jangankan orang lain, bahkan Allah sendiri melarang diriNya mengganggu manusia dalam hal ini. Dari mana saya tahu? Dari keinginan Allah memberikan "berkehendak" kepada manusia.
Alhasil masing-masing orang lalu mengkhayalkan, secara detail ataupun tidak, gambar besar yang ingin diwujudkan dalam sepanjang hidup. Kebanyakan dari yang saya dapati, dari berinteraksi dengan orang-orang yang saya temui secara langsung atau tidak, gambar yang diinginkan oleh orang adalah "bahagia". Berbeda-beda bahagia. Dalam perinciannya, penjabarannya, bahagia ini kemudian dinyatakan dalam banyak variasi. Ada yang memaknai bahagia dengan keberlimpahan materi, ada yang berupa keyakinan kokoh, ada yang berupa kemanfaatan, ada yang berupa kenikmatan tak berujung, dst. ###
Mencermati dengan sungguh-sungguh segmen-segmen dalam hidup akan anda dapati bahwa sebagian darinya adalah seperti keping puzzle yang tak dapat diotak-atik. Ia punya tempat dan arah yang khas. Yang paling mudah didapati dari segmen hidup seperti ini adalah dari penalaran yang lurus. Saat seorang menalar dengan lurus dan apa adanya pasti akan ia dapati bahwa hasilnya adalah sebuah pengetahuan yang benar. Setiap pengetahuan yang benar tak mungkin dapat beralih menjadi pengetahuan yang tak benar. Bahkan ada kalanya sebuah pengetahuan benar kemudian mengantarkan kepada kerangka pengetahuan benar yang lebih luas. Ini seperti keping puzzle yang tak mungkin dibolak-balik atau diputar-putar lagi. Arahnya terpaku. Tempatnya dalam kerangka hidup khas pula. Seperti satu atau serangkai fakta yang tak mungkin dipungkiri atau ditiadakan.
Keping-keping yang terpaku ini menyenangkan bagi sebagian orang, namun bagi kebanyakan orang sepertinya mengganggu. Mengapa?
Dengan keping-keping terpaku sebagian orang tak dapat mewujudkan gambar utuh seperti dimau. Bukan hanya tak cocok dengan gambar besar materialisme. Mereka ini bahkan tak menyatu dengan ide bahagia abadi sebagian orang.
Penalaran yang lurus tak bisa begitu saja dipasangkan dengan keping-keping ini. Saya suka makanan enak. Bukan karena bermanfaat bagi kesehatan jasmani atau ruhani, tapi karena menyenangkan. Saya suka berpengetahuan luas. Bukan karena berharap manfaat ruhaniah darinya, tapi karena itu sepertinya menyenangkan. Saya suka hidup abadi di surga. Bukan karena itu yang diinginkan Tuhan, tapi karena itu terdengar menyenangkan.
Pendek kata penalaran lurus tak akan cocok dengan keping apapun yang berarah keakuan, berorientasi kesenangan semata.
Bagi para pencari kesejatian? Keping-keping berupa hasil penalaran, perenungan, yang lurus adalah sebagian dari hadiah terindah yang mungkin dikaruniakan kepada makhluk. Betapa tidak. Dengan menyelaraskan semua keping yang lain dengan itu, akan terbuka baginya rahasia semesta, rahasia sang Ada. Hanya dengan begitu ia akan dapat menikmati indahnya semesta sebagai satu keutuhan. Hanya itu jalan mengenal sang Indah, sang Utuh.
Penalaran yang lurus adalah gambaran, duplikat, dari realitas. Realitas dengan sistem dan segenap wujudnya adalah satu bangunan dalam penciptaan yang saling melengkapi dalam menggambarkan Dia. Itulah mengapa penalaran yang lurus adalah bagian dari gambaranNya yang alamiah apa adanya. ###
Ada kalanya segmen-segmen dalam hidup harus dilihat, dimaknai dari arah berbeda, atau bahkan dari arah sebaliknya, agar mereka dapat menyatu dengan penalaran lurus. Gambar besar apa yang mungkin tampak?
Ternyata bukan gambar menyenangkan tentang bahagia (semata). Tapi bahagia bersyarat. Bahagia dengan ketaatan kepadaNya. "...maka siapa mengikuti petunjukKu, maka tak ada (satu) takut pada mereka, dan mereka tak akan bersedih."
Bisa pula keseluruhan hidup yang utuh menyatu dan terberkati tergambar sebagai ketaatan kepadaNya saja. Dengan gambar ketaatan yang utuh pasti akan menyampaikan kepada bahagia. Seperti janji yang diungkap ayat tersebut.
Masihkah tersisa tempat untuk berharap bidadari dan surga? ###
Menarik dibaca:
* AlQuran, Surah alBaqarah: 38
* AlQuran, Surah alBaqarah: 266, tentang angan bahagia yang tak terwujud
* AlQuran, Surah anNisa: 89, tentang berkehendak
* AlQuran, Surah arRum: 30, tentang agama lurus sebagai selaras dengan kemanusiaan
* Tauhid: Menuju Cinta, oleh penulis. Dapat diakses melalui browser di link berikut ini.
https://drive.google.com/file/d/13gziIvwdQj1UpQ-tdjsZEa3JndUrbbYj/view?usp=drivesdk
* Cordial Disciplines, dalam buku "Adab as-Salat: the Disciplines of the Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini
* http://www.schoolpouringrights.com/unik/puzzle-permainan-sederhana-namun-memiliki-banyak-manfaat/
Puzzle. Lebih lengkap maksud saya jigsaw puzzle. Adalah permainan merangkai kepingan-kepingan gambar untuk membentuk satu gambar besar yang utuh. Permainan ini melatih anak menumbuhkan sebagian kemampuan motorik, yakni kemampuan dalam mengkoordinasi alat-alat gerak, khususnya penglihatan dan tangan, dengan baik. Selain itu ia membantu anak mengembangkan proses kreatif. Untuk menyelesaikan permainan jigsaw puzzle anak dituntut mengimajinasikan sebuah gambar utuh atau setidaknya rangkaian beberapa gambar yang telah dan belum terpasang benar. Juga, jigsaw puzzle membantu pelatihan ingatan jangka pendek dan konsentrasi.
Satu hal yang bagi saya menarik dari puzzle ini adalah keunikan pada tiap-tiap kepingnya. Masing-masing keping puzzle punya tempat yang khas dalam papan permainan, tak bisa digantikan oleh keping lain yang manapun. Selain tempatnya harus pas, arah kepingan harus pula tepat. Dengan tempat yang benar sebuah keping puzzle ada kalanya harus diputar ke kanan, atau ke kiri, agar cocok dengan peruntukannya. Ada kalanya bahkan keping puzzle harus dibalik, pun diputar, agar arahnya tepat. ###
Mencermati segenap segmen perjalanan hidup bagi sebagian orang adalah seperti mengamati papan puzzle. Setiap bagian yang didapati dari kehidupan ibarat satu keping puzzle. Yang terserah si empunya menempatkannya di mana dalam arah bagaimana. Jangankan orang lain, bahkan Allah sendiri melarang diriNya mengganggu manusia dalam hal ini. Dari mana saya tahu? Dari keinginan Allah memberikan "berkehendak" kepada manusia.
Alhasil masing-masing orang lalu mengkhayalkan, secara detail ataupun tidak, gambar besar yang ingin diwujudkan dalam sepanjang hidup. Kebanyakan dari yang saya dapati, dari berinteraksi dengan orang-orang yang saya temui secara langsung atau tidak, gambar yang diinginkan oleh orang adalah "bahagia". Berbeda-beda bahagia. Dalam perinciannya, penjabarannya, bahagia ini kemudian dinyatakan dalam banyak variasi. Ada yang memaknai bahagia dengan keberlimpahan materi, ada yang berupa keyakinan kokoh, ada yang berupa kemanfaatan, ada yang berupa kenikmatan tak berujung, dst. ###
Mencermati dengan sungguh-sungguh segmen-segmen dalam hidup akan anda dapati bahwa sebagian darinya adalah seperti keping puzzle yang tak dapat diotak-atik. Ia punya tempat dan arah yang khas. Yang paling mudah didapati dari segmen hidup seperti ini adalah dari penalaran yang lurus. Saat seorang menalar dengan lurus dan apa adanya pasti akan ia dapati bahwa hasilnya adalah sebuah pengetahuan yang benar. Setiap pengetahuan yang benar tak mungkin dapat beralih menjadi pengetahuan yang tak benar. Bahkan ada kalanya sebuah pengetahuan benar kemudian mengantarkan kepada kerangka pengetahuan benar yang lebih luas. Ini seperti keping puzzle yang tak mungkin dibolak-balik atau diputar-putar lagi. Arahnya terpaku. Tempatnya dalam kerangka hidup khas pula. Seperti satu atau serangkai fakta yang tak mungkin dipungkiri atau ditiadakan.
Keping-keping yang terpaku ini menyenangkan bagi sebagian orang, namun bagi kebanyakan orang sepertinya mengganggu. Mengapa?
Dengan keping-keping terpaku sebagian orang tak dapat mewujudkan gambar utuh seperti dimau. Bukan hanya tak cocok dengan gambar besar materialisme. Mereka ini bahkan tak menyatu dengan ide bahagia abadi sebagian orang.
Penalaran yang lurus tak bisa begitu saja dipasangkan dengan keping-keping ini. Saya suka makanan enak. Bukan karena bermanfaat bagi kesehatan jasmani atau ruhani, tapi karena menyenangkan. Saya suka berpengetahuan luas. Bukan karena berharap manfaat ruhaniah darinya, tapi karena itu sepertinya menyenangkan. Saya suka hidup abadi di surga. Bukan karena itu yang diinginkan Tuhan, tapi karena itu terdengar menyenangkan.
Pendek kata penalaran lurus tak akan cocok dengan keping apapun yang berarah keakuan, berorientasi kesenangan semata.
Bagi para pencari kesejatian? Keping-keping berupa hasil penalaran, perenungan, yang lurus adalah sebagian dari hadiah terindah yang mungkin dikaruniakan kepada makhluk. Betapa tidak. Dengan menyelaraskan semua keping yang lain dengan itu, akan terbuka baginya rahasia semesta, rahasia sang Ada. Hanya dengan begitu ia akan dapat menikmati indahnya semesta sebagai satu keutuhan. Hanya itu jalan mengenal sang Indah, sang Utuh.
Penalaran yang lurus adalah gambaran, duplikat, dari realitas. Realitas dengan sistem dan segenap wujudnya adalah satu bangunan dalam penciptaan yang saling melengkapi dalam menggambarkan Dia. Itulah mengapa penalaran yang lurus adalah bagian dari gambaranNya yang alamiah apa adanya. ###
Ada kalanya segmen-segmen dalam hidup harus dilihat, dimaknai dari arah berbeda, atau bahkan dari arah sebaliknya, agar mereka dapat menyatu dengan penalaran lurus. Gambar besar apa yang mungkin tampak?
Ternyata bukan gambar menyenangkan tentang bahagia (semata). Tapi bahagia bersyarat. Bahagia dengan ketaatan kepadaNya. "...maka siapa mengikuti petunjukKu, maka tak ada (satu) takut pada mereka, dan mereka tak akan bersedih."
Bisa pula keseluruhan hidup yang utuh menyatu dan terberkati tergambar sebagai ketaatan kepadaNya saja. Dengan gambar ketaatan yang utuh pasti akan menyampaikan kepada bahagia. Seperti janji yang diungkap ayat tersebut.
Masihkah tersisa tempat untuk berharap bidadari dan surga? ###
Menarik dibaca:
* AlQuran, Surah alBaqarah: 38
* AlQuran, Surah alBaqarah: 266, tentang angan bahagia yang tak terwujud
* AlQuran, Surah anNisa: 89, tentang berkehendak
* AlQuran, Surah arRum: 30, tentang agama lurus sebagai selaras dengan kemanusiaan
* Tauhid: Menuju Cinta, oleh penulis. Dapat diakses melalui browser di link berikut ini.
https://drive.google.com/file/d/13gziIvwdQj1UpQ-tdjsZEa3JndUrbbYj/view?usp=drivesdk
* Cordial Disciplines, dalam buku "Adab as-Salat: the Disciplines of the Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini
* http://www.schoolpouringrights.com/unik/puzzle-permainan-sederhana-namun-memiliki-banyak-manfaat/
Selasa, 10 Juli 2018
Awal agama
Awal agama
Awal agama adalah mengenalNya, sempurnanya pengenalan akan Dia adalah bersaksi akan Dia, sempurnanya persaksian akan Dia adalah percaya akan ketunggalanNya, sempurnanya kepercayaan akan ketunggalanNya adalah mengakui kesucianNya, dan sempurnanya kesucian Dia adalah penyangkalan sifat-sifatNya...(Ali bin Abu Talib, dalam Nahjul Balaghah)
Ada yang bilang bahwa agama adalah sistem terdiri dari ajaran, tata nilai, ritual, dst yang menghubungkan manusia dengan hal adikodrati, luhur, ilahiah. Dalam kata-kata Ali bin Abu Talib sendiri agama dinyatakan sebagai pernyataan Allah tentang apa yang baik, apa yang buruk, apa yang diperintahkanNya, apa pula yang dilarangNya. Dalam dua definisi yang beririsan ini agama kemudian bersifat subjektif. Bagi sebagian orang satu hal bisa dipandang sebagai bagian dari agama, sementara bagi sebagian yang lain bukan. Contohnya ihwal memakai baju, bagi sebagian orang itu bukan bagian dari agama karena mereka tak melihat di sana adanya kaitan antara manusia dengan hal transenden, ilahiah, Tuhan, dst. Sementara bagi yang lain ihwal yang sama adalah bagian dari agama.
Mungkin pertanyaan yang lebih umum begini. Apakah agama mencakup semua hal, atau tidak? Jika tidak, hal apa yang tidak dicakup oleh agama? Masing-masing kita mungkin punya jawaban untuk soalan-soalan ini, lengkap dengan argumen-argumennya. Namun demikian saya mengajak anda mencermati salah satu versi jawaban berikut.
Bagi mereka yang menilai bahwa segenap wujud, termasuk segenap hal di lingkup kemanusiaan, tak bisa dilepaskan dari tuhan, hal ilahiah, hal transenden, hal mulia, dst, jelaslah bahwa semua hal tercakup oleh agama. Perbuatannya, pengetahuannya, niatnya, dirinya, hidupnya, bahkan matinya, adalah bagian dari agama.
Bagaimana versi lainnya? Kedua, ada mereka yang memandang semesta sebagai perpaduan antara hal-hal yang terkait dengan tuhan, hal mulia, dst, juga hal-hal lain yang terlepas dari kaitan itu. Bagi mereka ada wilayah agama, ada wilayah non-agama.
Adakah versi ketiga, yakni ateisme, tak beragama? Nampaknya ndak ada. Sebagian orang menafikan tuhan personal, sosok serba maha, yang disembah oleh kaum beragama formal. Namun demikian mereka tak mungkin menafikan adanya kesempurnaan, keutamaan, kemuliaan, dst. Yang itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa mereka mengaitkan hal-hal dengan kesempurnaan, kemuliaan, dst. Bahwa mereka beragama juga. Hanya tak dalam bentuk formal.
Sedikit tambahan, ateisme sebenarnya bahkan bukan menafikan adanya sosok sembahan, tuhan. Bagi kaum ateis hasrat merekalah sosok tuhan yang disembah itu.
Alhasil, baik versi pertama maupun kedua, agama diakui keberadaannya. Termasuk pula, dengan demikian, hal transenden, hal mulia, hal ilahiah, diakui wujud. Dalam kata-kata Ali bin Abu Talib hal transenden, hal mulia, hal ilahiah itu dinyatakan sebagai bagian dari pengenalan akan Allah. Tidak sempurna. Pengenalan manusia akan hakikat ketuhanan ada kalanya jauh dari lengkap, namun bagaimanapun itulah yang kemudian menjadi titik tolak keberagamaannya. Menjadi landasan laku keluhuran. ###
Pengenalan sekilas akan keluhuran dapat mengantarkan seorang kepada perbuatan yang tampaknya luhur. Pengenalan yang lebih mendalam tentang keluhuran lebih mendekatkan seorang kepada sang Luhur, akan menyampaikannya kepada perbuatan yang luhur, sesuai kadar pengenalannya tsb. Pengenalan yang sempurna akan keluhuran kemudian menyampaikan seorang kepada perbuatan sang Luhur dengan dia sebagai perantaranya. Demikianlah, dangkal-dalamnya pengenalan seorang akan Allah menjadi pondasi bagi lakunya, agamanya. ###
Pengenalan akan Allah seperti apa dikatakan cukup? Dalam ungkap Ali bin Abu Talib pengenalan akan Dia dikatakan cukup, atau sempurna, saat pengenalan itu mengantarkan kepada kesaksian bahwa Allah adalah sang Tuan, yang menaungi segenap wujud, sekaligus Dialah sang Tuhan, satu-satunya yang dicinta dan dipuja. ###
Menarik dibaca:
* Khutbah 1, dalam buku "Nahjul Balaghah", oleh Ali bin Abu Talib
* Khutbah 85, ibid, tentang penjelasan term "agama"
* AlQuran Surah AlJatsiyah: 23, tentang menyembah hasrat
* AlQuran Surah AlBaqarah: 165, tentang sangat mencinta Allah
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religion
Awal agama adalah mengenalNya, sempurnanya pengenalan akan Dia adalah bersaksi akan Dia, sempurnanya persaksian akan Dia adalah percaya akan ketunggalanNya, sempurnanya kepercayaan akan ketunggalanNya adalah mengakui kesucianNya, dan sempurnanya kesucian Dia adalah penyangkalan sifat-sifatNya...(Ali bin Abu Talib, dalam Nahjul Balaghah)
Ada yang bilang bahwa agama adalah sistem terdiri dari ajaran, tata nilai, ritual, dst yang menghubungkan manusia dengan hal adikodrati, luhur, ilahiah. Dalam kata-kata Ali bin Abu Talib sendiri agama dinyatakan sebagai pernyataan Allah tentang apa yang baik, apa yang buruk, apa yang diperintahkanNya, apa pula yang dilarangNya. Dalam dua definisi yang beririsan ini agama kemudian bersifat subjektif. Bagi sebagian orang satu hal bisa dipandang sebagai bagian dari agama, sementara bagi sebagian yang lain bukan. Contohnya ihwal memakai baju, bagi sebagian orang itu bukan bagian dari agama karena mereka tak melihat di sana adanya kaitan antara manusia dengan hal transenden, ilahiah, Tuhan, dst. Sementara bagi yang lain ihwal yang sama adalah bagian dari agama.
Mungkin pertanyaan yang lebih umum begini. Apakah agama mencakup semua hal, atau tidak? Jika tidak, hal apa yang tidak dicakup oleh agama? Masing-masing kita mungkin punya jawaban untuk soalan-soalan ini, lengkap dengan argumen-argumennya. Namun demikian saya mengajak anda mencermati salah satu versi jawaban berikut.
Bagi mereka yang menilai bahwa segenap wujud, termasuk segenap hal di lingkup kemanusiaan, tak bisa dilepaskan dari tuhan, hal ilahiah, hal transenden, hal mulia, dst, jelaslah bahwa semua hal tercakup oleh agama. Perbuatannya, pengetahuannya, niatnya, dirinya, hidupnya, bahkan matinya, adalah bagian dari agama.
Bagaimana versi lainnya? Kedua, ada mereka yang memandang semesta sebagai perpaduan antara hal-hal yang terkait dengan tuhan, hal mulia, dst, juga hal-hal lain yang terlepas dari kaitan itu. Bagi mereka ada wilayah agama, ada wilayah non-agama.
Adakah versi ketiga, yakni ateisme, tak beragama? Nampaknya ndak ada. Sebagian orang menafikan tuhan personal, sosok serba maha, yang disembah oleh kaum beragama formal. Namun demikian mereka tak mungkin menafikan adanya kesempurnaan, keutamaan, kemuliaan, dst. Yang itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa mereka mengaitkan hal-hal dengan kesempurnaan, kemuliaan, dst. Bahwa mereka beragama juga. Hanya tak dalam bentuk formal.
Sedikit tambahan, ateisme sebenarnya bahkan bukan menafikan adanya sosok sembahan, tuhan. Bagi kaum ateis hasrat merekalah sosok tuhan yang disembah itu.
Alhasil, baik versi pertama maupun kedua, agama diakui keberadaannya. Termasuk pula, dengan demikian, hal transenden, hal mulia, hal ilahiah, diakui wujud. Dalam kata-kata Ali bin Abu Talib hal transenden, hal mulia, hal ilahiah itu dinyatakan sebagai bagian dari pengenalan akan Allah. Tidak sempurna. Pengenalan manusia akan hakikat ketuhanan ada kalanya jauh dari lengkap, namun bagaimanapun itulah yang kemudian menjadi titik tolak keberagamaannya. Menjadi landasan laku keluhuran. ###
Pengenalan sekilas akan keluhuran dapat mengantarkan seorang kepada perbuatan yang tampaknya luhur. Pengenalan yang lebih mendalam tentang keluhuran lebih mendekatkan seorang kepada sang Luhur, akan menyampaikannya kepada perbuatan yang luhur, sesuai kadar pengenalannya tsb. Pengenalan yang sempurna akan keluhuran kemudian menyampaikan seorang kepada perbuatan sang Luhur dengan dia sebagai perantaranya. Demikianlah, dangkal-dalamnya pengenalan seorang akan Allah menjadi pondasi bagi lakunya, agamanya. ###
Pengenalan akan Allah seperti apa dikatakan cukup? Dalam ungkap Ali bin Abu Talib pengenalan akan Dia dikatakan cukup, atau sempurna, saat pengenalan itu mengantarkan kepada kesaksian bahwa Allah adalah sang Tuan, yang menaungi segenap wujud, sekaligus Dialah sang Tuhan, satu-satunya yang dicinta dan dipuja. ###
Menarik dibaca:
* Khutbah 1, dalam buku "Nahjul Balaghah", oleh Ali bin Abu Talib
* Khutbah 85, ibid, tentang penjelasan term "agama"
* AlQuran Surah AlJatsiyah: 23, tentang menyembah hasrat
* AlQuran Surah AlBaqarah: 165, tentang sangat mencinta Allah
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religion
Rabu, 13 Juni 2018
Kitab suci, mestinya untuk anda
Kitab suci, mestinya untuk anda
Sampai di titik ini anda tahu bahwa adalah hak anda untuk mentaati sang Tuan, adalah hak anda untuk meniruNya. Sementara anda tahu pula bahwa Dia tak mungkin abai dengan hak anda. Sementara Dia juga tahu bahwa bersandar pada penalaran akan menyampaikan kepada beberapa hal, bukan semua hal yang perlu. Pendek kata, karena kepedulianNya kepada umat manusia sang Tuan lalu mengirimkan tanda-tanda besarNya, yakni para jiwa suci, sebagai para pemandu menuju kebaikan, keadilan, dan cinta. Sebagian orang menyebutnya nabi, yang membawa ajaran ilahiah berupa kitab suci.
Oke, sekarang umpamakan ada sebuah pesan disampaikan kepada anda:
___________________
Salam. Saya suka anda. Jadilah teman saya.
Ttd. Rahasia
___________________
Anda mungkin tak seharusnya menganggap terlalu serius pesan semacam ini. Mengapa? Kemungkinan pertama, maksud yang ingin disampaikan adalah bercanda. Keseriusan niat baik biasanya ditandai dengan keterbukaan dan keterus terangan. Kemungkinan kedua, maksud yang ingin disampaikan sungguh-sungguh tapi pengirimnya tak ingin dikenali. Untuk apa keinginan mengenali ditujukan kepada sosok yang tak ingin dikenali? Mestinya anda membiarkan saja pesan itu apa adanya, titik.
Sekarang bayangkan ada teks yang dianggap kitab suci tapi tak tertulis di sana secara terbuka bahwa ia berasal dari sang Tuan, atau sang Tuhan, atau Allah, atau sang Pencipta, dst. Kesimpulannya, anda tak perlu menganggap bahwa ia benar berasal dari sang Tuan, yang berisi ajaran kebaikan, keadilan, dan cinta. Mungkin itu hanyalah hasil penalaran, semisal novel dan roman.
###
Sekarang umpamakan ada pesan lain untuk anda:
____________________
Serahkan semua harta anda sekarang! Atau nyawa anda sebagai gantinya.
Ttd. Sang dermawan
_____________________
Hanya ada satu kemungkinan untuk pesan seperti ini, bohong.
Ketika ada teks yang dianggap sebagai kitab suci, tapi di dalamnya tak menggambarkan sang Tuan sebagai mestinya. Pasti itu hanya kitab candaan.
Perjalanan menuju sang Tuan masih panjang, sementara yang harus anda punya hanyalah ketulusan, optimisme, dan kewarasan.
Anda harus menempuh penelaahan yang cukup mendalam untuk menemukan jejak-jejak sang Tuan. Saran saya, cermatilah teks-teks yang kata orang adalah kitab-kitab suci itu! Yakinkan diri anda sendiri tentang keasliannya! Mulailah dari yang ada dalam jangkauan anda! Di sini misalnya,
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_text
Sementara itu, saya tak dapat menjadi teman karib anda dalam hal ini.
Sampai berjumpa di terminal yang sama. Bukankah orang-orang yang menuju arah yang sama harus berkumpul di terminal yang sama?
Teman anda, Saban Subiadi.
Sampai di titik ini anda tahu bahwa adalah hak anda untuk mentaati sang Tuan, adalah hak anda untuk meniruNya. Sementara anda tahu pula bahwa Dia tak mungkin abai dengan hak anda. Sementara Dia juga tahu bahwa bersandar pada penalaran akan menyampaikan kepada beberapa hal, bukan semua hal yang perlu. Pendek kata, karena kepedulianNya kepada umat manusia sang Tuan lalu mengirimkan tanda-tanda besarNya, yakni para jiwa suci, sebagai para pemandu menuju kebaikan, keadilan, dan cinta. Sebagian orang menyebutnya nabi, yang membawa ajaran ilahiah berupa kitab suci.
Oke, sekarang umpamakan ada sebuah pesan disampaikan kepada anda:
___________________
Salam. Saya suka anda. Jadilah teman saya.
Ttd. Rahasia
___________________
Anda mungkin tak seharusnya menganggap terlalu serius pesan semacam ini. Mengapa? Kemungkinan pertama, maksud yang ingin disampaikan adalah bercanda. Keseriusan niat baik biasanya ditandai dengan keterbukaan dan keterus terangan. Kemungkinan kedua, maksud yang ingin disampaikan sungguh-sungguh tapi pengirimnya tak ingin dikenali. Untuk apa keinginan mengenali ditujukan kepada sosok yang tak ingin dikenali? Mestinya anda membiarkan saja pesan itu apa adanya, titik.
Sekarang bayangkan ada teks yang dianggap kitab suci tapi tak tertulis di sana secara terbuka bahwa ia berasal dari sang Tuan, atau sang Tuhan, atau Allah, atau sang Pencipta, dst. Kesimpulannya, anda tak perlu menganggap bahwa ia benar berasal dari sang Tuan, yang berisi ajaran kebaikan, keadilan, dan cinta. Mungkin itu hanyalah hasil penalaran, semisal novel dan roman.
###
Sekarang umpamakan ada pesan lain untuk anda:
____________________
Serahkan semua harta anda sekarang! Atau nyawa anda sebagai gantinya.
Ttd. Sang dermawan
_____________________
Hanya ada satu kemungkinan untuk pesan seperti ini, bohong.
Ketika ada teks yang dianggap sebagai kitab suci, tapi di dalamnya tak menggambarkan sang Tuan sebagai mestinya. Pasti itu hanya kitab candaan.
Perjalanan menuju sang Tuan masih panjang, sementara yang harus anda punya hanyalah ketulusan, optimisme, dan kewarasan.
Anda harus menempuh penelaahan yang cukup mendalam untuk menemukan jejak-jejak sang Tuan. Saran saya, cermatilah teks-teks yang kata orang adalah kitab-kitab suci itu! Yakinkan diri anda sendiri tentang keasliannya! Mulailah dari yang ada dalam jangkauan anda! Di sini misalnya,
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_text
Sementara itu, saya tak dapat menjadi teman karib anda dalam hal ini.
Sampai berjumpa di terminal yang sama. Bukankah orang-orang yang menuju arah yang sama harus berkumpul di terminal yang sama?
Teman anda, Saban Subiadi.
Senin, 11 Juni 2018
8. Baik adalah...
8. Baik adalah...
Bertolak dari pendapat, "Apalah artinya perbuatan yang tak membawa kebaikan. Apa pula nilai percakapan tanpa kebaikan." Sampailah kita pada bahasan tentang apa itu kebaikan.
Perlu sepertinya saya sampaikan bahwa mencari kebaikan ada kalanya menyampaikan kepada apa yang tak anda harapkan.
Sebelumnya telah jelas bahwa sang Tuan adalah tunggal dan sederhana. Perwujudan ketunggalan dan kesederhanaan itu kemudian adalah bahwa segenap wujud selaras satu sama lain. Karenanya kemudian segenap wujud menjadi ada karena mengikuti satu pola yang sama. Pola ini kemudian dalam batas-batas tertentu dapat dikenali dengan penalaran. Sebagian kita kemudian menyebutnya kebaikan. Memberi, misalnya, atau menjaga kehidupan, adalah baik karena sejalan dengan konsep mencipta. Merampas, misalnya, atau mematikan, adalah tak baik karena tak sejalan dengan konsep mencipta.
Ada kalanya kebaikan disamakan dengan keadilan. Yakni menempatkan segala sesuatu pada posisi yang sesuai. Contohnya, dimensi yang sesuai untuk makhluk adalah alam ciptaan yang faktual, bukan alam potensi. Karenanya kemudian sang Tuan mencipta. Contoh lainnya, makhluk yang baik dibalas dengan kebaikan berupa kenikmatan, makhluk yang jahat dibalas dengan keburukan berupa siksa. Karenanya kemudian ada surga yang abadi, ada neraka yang abadi.
Masalahnya lalu siapa yang menentukan "posisi yang sesuai" sebagai syarat keadilan? Apakah penalaran?
Apakah mencipta kejahatan, atau keburukan, misalnya, adalah sejalan dengan prinsip keadilan? Apa benar bahwa semua yang ada hanya kebaikan? Kenapa bisa muncul konsep keburukan dalam akal jika faktanya tak ada? Dst. Sebagian penalar mungkin akan sampai kepada pertanyaan-pertanyaan demikian. Hal ini dapat dimaklumi karena bahan-bahan penalaran ada kalanya berupa fungsi, ihwal material, yang bukan wujud hakiki.
"Posisi yang sesuai" sebagai syarat keadilan mestinya dikembalikan kepada sang Tuan, karena Dia yang membuat pernyataan, karena Dia yang mencipta. Dengan penalaran yang benar kemudian akalpun akan sampai kepada "posisi yang sesuai" sebagaimana diinginkan oleh sang Tuan. Hal ini jelas karena semua wujud hakikatnya mengikuti satu pola saja. Dalam kerangka penalaran keadilan ini nampak jelas bahwa manusia, seorang hamba, hanya akan sampai kepada pahaman keadilan dan kebaikan jika dan hanya jika tunduk pada definisi yang disampaikan oleh sang Tuan. Sebuah gambaran yang cukup jelas tentang ketaatan seorang hamba kepada sang Tuan.
Ini sebuah alternatif.
###
Ada kalanya mencari kebaikan, dengan kemurahan sang Tuan, menyampaikan kepada sesuatu yang jauh melampaui harapan.
Bayangkan ada seorang yang selalu memperhatikan anda, menjaga anda dari bahaya, tahu kebutuhan-kebutuhan anda pun menyediakan sarana-sarananya. Hal ini tak akan aneh saat anda telah berbuat kebaikan kepadanya. Atau setidaknya anda menyadari kedermawanannya, bersimpati, kemudian membalas dengan yang serupa. Lalu dia kembali lagi bersikap baik kepada anda. Anehnya dia tak peduli anda berterima kasih atau tidak. Dia tak peduli anda memperhatikannya atau mengabaikannya. Bahkan saat anda mencaci maki, menyakiti, dan mengusirnya, tetap dia tak mengubah sikapnya. Ketika anda bahkan menganggapnya tak ada, dia tetap bersikap sama. Mungkin sebagian orang menyebut dia dungu dan buta...
Tapi sebagian yang lain menyebutnya jatuh cinta.
Begitulah gambaran tentang sikap sang Tuan kepada anda. Anda begitu penting bagiNya. Dia mencinta anda setulusnya.
###
Ada kalanya anda merasakan rela, lega, saat membantu makhluk lain yang dalam kesulitan. Saat itu tak terpikirkan dalam benak anda berharap balasan. Ada kalanya bahkan anda lupa meminta sekedar kata terima kasih. Demikianlah Dia mengajarkan kedekatan dan cinta, yang menyenangkan.
Ada kalanya anda merasakan hidup begitu menghimpit dan berat. Yang anda harapkan tak kunjung datang. Yang jadi tempat bergantung tak juga mengerti dan peduli. Anda saat itu hanya tak menyadari bahwa Dia ingin dikenali, ingin pula Dia dicintai. Demikianlah Dia mengajarkan rindu dan keterpisahan, yang menyiksa.
Dalam kerangka ini cukup jelas bahwa manusia, sang hamba, hanya akan mencapai kebaikan dengan meniruNya.
Ini sebuah alternatif yang lain. Dan puji hanya untuk Allah, sang Tuhan, yang disembah dan ditiru oleh segenap wujud dan alam.
Bertolak dari pendapat, "Apalah artinya perbuatan yang tak membawa kebaikan. Apa pula nilai percakapan tanpa kebaikan." Sampailah kita pada bahasan tentang apa itu kebaikan.
Perlu sepertinya saya sampaikan bahwa mencari kebaikan ada kalanya menyampaikan kepada apa yang tak anda harapkan.
Sebelumnya telah jelas bahwa sang Tuan adalah tunggal dan sederhana. Perwujudan ketunggalan dan kesederhanaan itu kemudian adalah bahwa segenap wujud selaras satu sama lain. Karenanya kemudian segenap wujud menjadi ada karena mengikuti satu pola yang sama. Pola ini kemudian dalam batas-batas tertentu dapat dikenali dengan penalaran. Sebagian kita kemudian menyebutnya kebaikan. Memberi, misalnya, atau menjaga kehidupan, adalah baik karena sejalan dengan konsep mencipta. Merampas, misalnya, atau mematikan, adalah tak baik karena tak sejalan dengan konsep mencipta.
Ada kalanya kebaikan disamakan dengan keadilan. Yakni menempatkan segala sesuatu pada posisi yang sesuai. Contohnya, dimensi yang sesuai untuk makhluk adalah alam ciptaan yang faktual, bukan alam potensi. Karenanya kemudian sang Tuan mencipta. Contoh lainnya, makhluk yang baik dibalas dengan kebaikan berupa kenikmatan, makhluk yang jahat dibalas dengan keburukan berupa siksa. Karenanya kemudian ada surga yang abadi, ada neraka yang abadi.
Masalahnya lalu siapa yang menentukan "posisi yang sesuai" sebagai syarat keadilan? Apakah penalaran?
Apakah mencipta kejahatan, atau keburukan, misalnya, adalah sejalan dengan prinsip keadilan? Apa benar bahwa semua yang ada hanya kebaikan? Kenapa bisa muncul konsep keburukan dalam akal jika faktanya tak ada? Dst. Sebagian penalar mungkin akan sampai kepada pertanyaan-pertanyaan demikian. Hal ini dapat dimaklumi karena bahan-bahan penalaran ada kalanya berupa fungsi, ihwal material, yang bukan wujud hakiki.
"Posisi yang sesuai" sebagai syarat keadilan mestinya dikembalikan kepada sang Tuan, karena Dia yang membuat pernyataan, karena Dia yang mencipta. Dengan penalaran yang benar kemudian akalpun akan sampai kepada "posisi yang sesuai" sebagaimana diinginkan oleh sang Tuan. Hal ini jelas karena semua wujud hakikatnya mengikuti satu pola saja. Dalam kerangka penalaran keadilan ini nampak jelas bahwa manusia, seorang hamba, hanya akan sampai kepada pahaman keadilan dan kebaikan jika dan hanya jika tunduk pada definisi yang disampaikan oleh sang Tuan. Sebuah gambaran yang cukup jelas tentang ketaatan seorang hamba kepada sang Tuan.
Ini sebuah alternatif.
###
Ada kalanya mencari kebaikan, dengan kemurahan sang Tuan, menyampaikan kepada sesuatu yang jauh melampaui harapan.
Bayangkan ada seorang yang selalu memperhatikan anda, menjaga anda dari bahaya, tahu kebutuhan-kebutuhan anda pun menyediakan sarana-sarananya. Hal ini tak akan aneh saat anda telah berbuat kebaikan kepadanya. Atau setidaknya anda menyadari kedermawanannya, bersimpati, kemudian membalas dengan yang serupa. Lalu dia kembali lagi bersikap baik kepada anda. Anehnya dia tak peduli anda berterima kasih atau tidak. Dia tak peduli anda memperhatikannya atau mengabaikannya. Bahkan saat anda mencaci maki, menyakiti, dan mengusirnya, tetap dia tak mengubah sikapnya. Ketika anda bahkan menganggapnya tak ada, dia tetap bersikap sama. Mungkin sebagian orang menyebut dia dungu dan buta...
Tapi sebagian yang lain menyebutnya jatuh cinta.
Begitulah gambaran tentang sikap sang Tuan kepada anda. Anda begitu penting bagiNya. Dia mencinta anda setulusnya.
###
Ada kalanya anda merasakan rela, lega, saat membantu makhluk lain yang dalam kesulitan. Saat itu tak terpikirkan dalam benak anda berharap balasan. Ada kalanya bahkan anda lupa meminta sekedar kata terima kasih. Demikianlah Dia mengajarkan kedekatan dan cinta, yang menyenangkan.
Ada kalanya anda merasakan hidup begitu menghimpit dan berat. Yang anda harapkan tak kunjung datang. Yang jadi tempat bergantung tak juga mengerti dan peduli. Anda saat itu hanya tak menyadari bahwa Dia ingin dikenali, ingin pula Dia dicintai. Demikianlah Dia mengajarkan rindu dan keterpisahan, yang menyiksa.
Dalam kerangka ini cukup jelas bahwa manusia, sang hamba, hanya akan mencapai kebaikan dengan meniruNya.
Ini sebuah alternatif yang lain. Dan puji hanya untuk Allah, sang Tuhan, yang disembah dan ditiru oleh segenap wujud dan alam.
7. Yang ada hanya immateri
7. Yang ada hanya immateri
Sedikit lebih jauh tentang wujud. Setiap wujud adalah tunggal dan sederhana. Tidak seperti fungsi, yakni hal material, yakni sesuatu yang dianggap ada karena pengenalan semu. Contoh fungsi adalah tangan. Adakah tangan? Tidak. Yang ada adalah jaringan-jaringannya, yakni kulit, tulang, otot dst. Kita ambil salah satunya, kulit misalnya. Adakah kulit? Tidak ada juga. Yang ada adalah sel-sel kulit. Adakah sel kulit? Tidak ada juga. Yang ada adalah bagian-bagian sel kulit.... Demikian seterusnya tanpa ujung. Semakin anda perhatikan lebih rinci ternyata kesemua fungsi itu, kesemua hal material itu hakikatnya tak ada. Lalu apakah tidak ada yang ada dari alam material? Alhasil harus ada sesuatu, atau banyak sesuatu, yang ada secara hakiki yang menghasilkan fungsi-fungsi itu, yang membuahkan hal-hal material itu. Itulah sepertinya gambaran paling jauh yang dapat diperoleh tentang alam material.
Bandingkan dengan pengetahuan anda sendiri. Tentang tangan yang sama misalnya. Dari melihat fenomena tangan kemudian anda menduga bahwa tangan ada. Dugaan anda itu, cukup mengejutkan, ternyata ada, benar-benar ada dalam benak anda. Dan kalau diperhatikan dengan seksama ia tunggal dan sederhana. Ia adalah ia saja, tanpa bagian ini itu. Hanya saja kadang ia dinyatakan, disampaikan tanda-tandanya dengan kata-kata, menjadikannya seolah terdiri dari konsep-konsep ini itu, bunyi-bunyi ini itu, dst.
Silahkan bandingkan pula fungsi dengan rasa anda. Saat anda merasakan lapar misalnya. Saat itu anda yakin, tahu 100% bahwa rasa itu ada, juga ia tunggal dan sederhana. Sama juga, ada kalanya ia dinyatakan dengan kata-kata, sehingga seolah tersusun.
Silahkan pula resapi keakuan, kedirian anda. Samakah kewujudannya dengan fatamorgana berupa hal-hal material yang disebut fungsi?
###
Bagaimana dengan sang Pencipta, apakah Dia ini semacam fungsi atau semacam wujud? Mungkin pertanyaannya harusnya begini. Adakah yang lebih hakiki wujudnya dari sang Pencipta? (Sementara semua wujud dan fungsi bergantung hanya kepadaNya.)
###
Bayangkan satu ketika hanya sang Pencipta yang ada, sendirian. Adakah sesuatu yang dapat ditambahkan kepadaNya oleh selain diriNya? Jelas tak ada, kan Dia sendirian.
Sekarang bayangkan Dia mencipta makhluk-makhluk, yakni ada wujud selainNya. Adakah sesuatu yang dapat ditambahkan kepadaNya oleh selain diriNya? Masih sama juga, tak ada. Bukankah jelas bahwa makhluk adalah akibat yang bahan gerak dan alat geraknya adalah Dia sendirian?
Sebagaimana jelas bahwa segenap wujud selain Dia hanyalah perbuatanNya, hanya akibatNya, jelas pula kemudian bahwa tak ada satupun yang dapat menambahkan apapun kepada diriNya. Demikianlah kaya itu. Begitulah mandiri itu. Demikianlah Dia menguasai semua wujud. Jadilah Dia sang Tuan.
###
Oke, katakan bahwa sang Pencipta itu tunggal dan sederhana. Tapi bagaimana kemudian Dia memunculkan keragaman pada makhluk-makhluk? Tidakkah cukup aneh bahwa kesederhanaan yang tunggal lalu membuahkan keragaman? Jangan-jangan sang Pencipta ini memang tidak tunggal dan sederhana...
Karena Dia tunggal dan sederhana maka perbuatanNya, yakni makhluk yang diciptaNya (secara langsung) hanya satu saja. Karena yang Dia tahu hanya diriNya saja maka wajarlah jika makhluk ini kemudian adalah keserupaanNya. Namun bagaimanapun ternyata Dia tak mampu menjadikan makhluk ini benar-benar sama denganNya. Dalam hal kaya, yakni tak membutuhkan, dalam hal mandiri, dalam hal menguasai segenap wujud. Kemustahilan, yakni kontradiksi wujudi, itulah yang menjadikannya demikian.
Dari sudut pandang sang Pencipta yang ada hanya kesederhanaan dan ketunggalan. Namun dari sudut makhluk yang ada kemudian adalah keragaman, ada sang Pencipta ada makhluk, ada kaya ada miskin, ada mandiri ada bergantung, ada yang berkuasa ada yang dikuasai.
Keserupaan makhluk pertama, katakan begitu, dengan sang Pencipta kemudian adalah pada sifat-sifat selain hakikat ke-Tuan-an. Di antara keserupaan itu adalah berbuat, yakni mencipta. Makhluk pertama kemudian mencipta makhluk kedua. Anda lihat bahwa keragaman itu lalu semakin bertambah. Ada sang Pencipta, ada makhluk pertama, ada makhluk kedua. Dan bertambah, dan bertambah.
Sedikit lebih jauh tentang wujud. Setiap wujud adalah tunggal dan sederhana. Tidak seperti fungsi, yakni hal material, yakni sesuatu yang dianggap ada karena pengenalan semu. Contoh fungsi adalah tangan. Adakah tangan? Tidak. Yang ada adalah jaringan-jaringannya, yakni kulit, tulang, otot dst. Kita ambil salah satunya, kulit misalnya. Adakah kulit? Tidak ada juga. Yang ada adalah sel-sel kulit. Adakah sel kulit? Tidak ada juga. Yang ada adalah bagian-bagian sel kulit.... Demikian seterusnya tanpa ujung. Semakin anda perhatikan lebih rinci ternyata kesemua fungsi itu, kesemua hal material itu hakikatnya tak ada. Lalu apakah tidak ada yang ada dari alam material? Alhasil harus ada sesuatu, atau banyak sesuatu, yang ada secara hakiki yang menghasilkan fungsi-fungsi itu, yang membuahkan hal-hal material itu. Itulah sepertinya gambaran paling jauh yang dapat diperoleh tentang alam material.
Bandingkan dengan pengetahuan anda sendiri. Tentang tangan yang sama misalnya. Dari melihat fenomena tangan kemudian anda menduga bahwa tangan ada. Dugaan anda itu, cukup mengejutkan, ternyata ada, benar-benar ada dalam benak anda. Dan kalau diperhatikan dengan seksama ia tunggal dan sederhana. Ia adalah ia saja, tanpa bagian ini itu. Hanya saja kadang ia dinyatakan, disampaikan tanda-tandanya dengan kata-kata, menjadikannya seolah terdiri dari konsep-konsep ini itu, bunyi-bunyi ini itu, dst.
Silahkan bandingkan pula fungsi dengan rasa anda. Saat anda merasakan lapar misalnya. Saat itu anda yakin, tahu 100% bahwa rasa itu ada, juga ia tunggal dan sederhana. Sama juga, ada kalanya ia dinyatakan dengan kata-kata, sehingga seolah tersusun.
Silahkan pula resapi keakuan, kedirian anda. Samakah kewujudannya dengan fatamorgana berupa hal-hal material yang disebut fungsi?
###
Bagaimana dengan sang Pencipta, apakah Dia ini semacam fungsi atau semacam wujud? Mungkin pertanyaannya harusnya begini. Adakah yang lebih hakiki wujudnya dari sang Pencipta? (Sementara semua wujud dan fungsi bergantung hanya kepadaNya.)
###
Bayangkan satu ketika hanya sang Pencipta yang ada, sendirian. Adakah sesuatu yang dapat ditambahkan kepadaNya oleh selain diriNya? Jelas tak ada, kan Dia sendirian.
Sekarang bayangkan Dia mencipta makhluk-makhluk, yakni ada wujud selainNya. Adakah sesuatu yang dapat ditambahkan kepadaNya oleh selain diriNya? Masih sama juga, tak ada. Bukankah jelas bahwa makhluk adalah akibat yang bahan gerak dan alat geraknya adalah Dia sendirian?
Sebagaimana jelas bahwa segenap wujud selain Dia hanyalah perbuatanNya, hanya akibatNya, jelas pula kemudian bahwa tak ada satupun yang dapat menambahkan apapun kepada diriNya. Demikianlah kaya itu. Begitulah mandiri itu. Demikianlah Dia menguasai semua wujud. Jadilah Dia sang Tuan.
###
Oke, katakan bahwa sang Pencipta itu tunggal dan sederhana. Tapi bagaimana kemudian Dia memunculkan keragaman pada makhluk-makhluk? Tidakkah cukup aneh bahwa kesederhanaan yang tunggal lalu membuahkan keragaman? Jangan-jangan sang Pencipta ini memang tidak tunggal dan sederhana...
Karena Dia tunggal dan sederhana maka perbuatanNya, yakni makhluk yang diciptaNya (secara langsung) hanya satu saja. Karena yang Dia tahu hanya diriNya saja maka wajarlah jika makhluk ini kemudian adalah keserupaanNya. Namun bagaimanapun ternyata Dia tak mampu menjadikan makhluk ini benar-benar sama denganNya. Dalam hal kaya, yakni tak membutuhkan, dalam hal mandiri, dalam hal menguasai segenap wujud. Kemustahilan, yakni kontradiksi wujudi, itulah yang menjadikannya demikian.
Dari sudut pandang sang Pencipta yang ada hanya kesederhanaan dan ketunggalan. Namun dari sudut makhluk yang ada kemudian adalah keragaman, ada sang Pencipta ada makhluk, ada kaya ada miskin, ada mandiri ada bergantung, ada yang berkuasa ada yang dikuasai.
Keserupaan makhluk pertama, katakan begitu, dengan sang Pencipta kemudian adalah pada sifat-sifat selain hakikat ke-Tuan-an. Di antara keserupaan itu adalah berbuat, yakni mencipta. Makhluk pertama kemudian mencipta makhluk kedua. Anda lihat bahwa keragaman itu lalu semakin bertambah. Ada sang Pencipta, ada makhluk pertama, ada makhluk kedua. Dan bertambah, dan bertambah.
Kamis, 07 Juni 2018
6. Ada, saling berkait
6. Ada, saling berkait
Dalam hal pencipta dengan ciptaannya maka jelas bahwa keduanya berkaitan. Kaitan ini tidak seperti hubungan antara subjek dengan objek, tapi lebih erat dari itu yakni seperti hubungan subjek dengan predikatnya, seperti hubungan subjek dengan perbuatannya. Hanya dalam konsep tampaknya dapat dipisahkan perbuatan dari subjeknya. Dapatkah dalam fakta perbuatan dilepaskan dari subjeknya?
Bagaimana kemudian kaitan antara ciptaan yang satu dengan ciptaan lainnya, dengan pencipta yang sama? Pertama, ciptaan-ciptaan itu dapat saling mempengaruhi. Ciptaan yang satu dapat menjadi alat gerak bagi ciptaan lainnya. Contoh penggambarannya seperti angin yang menggerakkan daun-daun, atau seperti panas yang mengubah sifat-sifat benda yang dikenainya. Pencipta dalam hal ini menjadikan ciptaan-ciptaannya sebagai gambaran alat gerak. Hakikatnya yang menjadi alat gerak tentu pencipta itu juga. Bukan begitu? Kedua, jika diperhatikan lebih dalam, bahkan wujudnya ciptaan yang satu kemudian memaksa ciptaan yang lain tidak menempati dimensi (gambarannya dalam alam materi adalah ruang-waktu) yang sama. Ibarat dua perbuatan yang berbeda oleh subjek yang sama, ia meniscayakan perbedaan dimensi itu. Bukankah mustahil satu subjek melakukan dua perbuatan dalam dimensi yang sama? Contoh penggambarannya seorang berjalan dan melihat di waktu yang sama. Meskipun waktunya sama, unsur keruangan berjalan berbeda dari melihat. Itu artinya berjalan dan melihat saling membatasi, yakni saling mempengaruhi juga, kan?
Bagaimana kemudian kaitan antara ciptaan yang satu dengan ciptaan yang lain, oleh pencipta yang berbeda? Bagaimana, misalnya, kaitan antara pengetahuan seorang dengan pengetahuan orang lain? Sulit menilai? Ternyata tidak. Kedua pengetahuan tersebut jelas menempati dimensi yang berbeda. Artinya keduanya hakikatnya saling membatasi juga. Artinya dua pengetahuan oleh dua subjek berbeda hakikatnya saling berkait juga secara dimensional.
Dengan demikian semua wujud kemudian adalah saling berkaitan. Hakikatnya tak ada yang namanya banyak alam itu. Yang ada hanya satu alam saja, satu semesta wujud saja, mungkin dengan banyak semesta bagian.
Artinya? Segenap wujud hanyalah gambaran, hanyalah perbuatan oleh satu subjek saja, sebut saja sang Pencipta.
###
Sampai di titik ini anda mungkin akan bertanya lagi. Katakan bahwa semua yang ada itu berasal dari satu wujud saja, tapi satu wujud itu ada dari mana? Apakah ia berasal dari ada atau dari tiada? Tidakkah cukup jelas bahwa tiada itu artinya juga ketiadaan pengaruh, tiadanya akibat? Faktanya?
Jelaslah kemudian bahwa sang Pencipta tak berawal. Apakah Dia juga lalu tak berakhir kepada ketiadaan? Katakan bahwa adanya Dia sekarang adalah sebab bagi adanya Dia kemudian. Ketika sesuatu ada maka pengaruhnya, akibatnya, juga ada. Ketika Dia sekarang ada maka kemudian, yakni salah satu akibat dari wujudnya yang sekarang, Dia pun ada. Demikian seterusnya, tanpa akhir. Maka jelas bahwa Diapun tak berakhir kepada tiada. Agak aman (ada kemungkinan kita tak berakhir pada ketiadaan)...
Dalam hal pencipta dengan ciptaannya maka jelas bahwa keduanya berkaitan. Kaitan ini tidak seperti hubungan antara subjek dengan objek, tapi lebih erat dari itu yakni seperti hubungan subjek dengan predikatnya, seperti hubungan subjek dengan perbuatannya. Hanya dalam konsep tampaknya dapat dipisahkan perbuatan dari subjeknya. Dapatkah dalam fakta perbuatan dilepaskan dari subjeknya?
Bagaimana kemudian kaitan antara ciptaan yang satu dengan ciptaan lainnya, dengan pencipta yang sama? Pertama, ciptaan-ciptaan itu dapat saling mempengaruhi. Ciptaan yang satu dapat menjadi alat gerak bagi ciptaan lainnya. Contoh penggambarannya seperti angin yang menggerakkan daun-daun, atau seperti panas yang mengubah sifat-sifat benda yang dikenainya. Pencipta dalam hal ini menjadikan ciptaan-ciptaannya sebagai gambaran alat gerak. Hakikatnya yang menjadi alat gerak tentu pencipta itu juga. Bukan begitu? Kedua, jika diperhatikan lebih dalam, bahkan wujudnya ciptaan yang satu kemudian memaksa ciptaan yang lain tidak menempati dimensi (gambarannya dalam alam materi adalah ruang-waktu) yang sama. Ibarat dua perbuatan yang berbeda oleh subjek yang sama, ia meniscayakan perbedaan dimensi itu. Bukankah mustahil satu subjek melakukan dua perbuatan dalam dimensi yang sama? Contoh penggambarannya seorang berjalan dan melihat di waktu yang sama. Meskipun waktunya sama, unsur keruangan berjalan berbeda dari melihat. Itu artinya berjalan dan melihat saling membatasi, yakni saling mempengaruhi juga, kan?
Bagaimana kemudian kaitan antara ciptaan yang satu dengan ciptaan yang lain, oleh pencipta yang berbeda? Bagaimana, misalnya, kaitan antara pengetahuan seorang dengan pengetahuan orang lain? Sulit menilai? Ternyata tidak. Kedua pengetahuan tersebut jelas menempati dimensi yang berbeda. Artinya keduanya hakikatnya saling membatasi juga. Artinya dua pengetahuan oleh dua subjek berbeda hakikatnya saling berkait juga secara dimensional.
Dengan demikian semua wujud kemudian adalah saling berkaitan. Hakikatnya tak ada yang namanya banyak alam itu. Yang ada hanya satu alam saja, satu semesta wujud saja, mungkin dengan banyak semesta bagian.
Artinya? Segenap wujud hanyalah gambaran, hanyalah perbuatan oleh satu subjek saja, sebut saja sang Pencipta.
###
Sampai di titik ini anda mungkin akan bertanya lagi. Katakan bahwa semua yang ada itu berasal dari satu wujud saja, tapi satu wujud itu ada dari mana? Apakah ia berasal dari ada atau dari tiada? Tidakkah cukup jelas bahwa tiada itu artinya juga ketiadaan pengaruh, tiadanya akibat? Faktanya?
Jelaslah kemudian bahwa sang Pencipta tak berawal. Apakah Dia juga lalu tak berakhir kepada ketiadaan? Katakan bahwa adanya Dia sekarang adalah sebab bagi adanya Dia kemudian. Ketika sesuatu ada maka pengaruhnya, akibatnya, juga ada. Ketika Dia sekarang ada maka kemudian, yakni salah satu akibat dari wujudnya yang sekarang, Dia pun ada. Demikian seterusnya, tanpa akhir. Maka jelas bahwa Diapun tak berakhir kepada tiada. Agak aman (ada kemungkinan kita tak berakhir pada ketiadaan)...
Langganan:
Postingan (Atom)