[27/11 5.26 AM] Saban Subiadi๐ค: (َูุฏْ َูุงَูุชْ َُููู
ْ ุฃُุณَْูุฉٌ ุญَุณََูุฉٌ ِูู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ َูุงَّูุฐَِูู ู
َุนَُู ุฅِุฐْ َูุงُููุง َِْูููู
ِِูู
ْ ุฅَِّูุง ุจُุฑَุขุกُ ู
ُِْููู
ْ َูู
ِู
َّุง ุชَุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู ََููุฑَْูุง ุจُِูู
ْ َูุจَุฏَุง ุจَََْูููุง َูุจََُْูููู
ُ ุงْูุนَุฏَุงَูุฉُ َูุงْูุจَุบْุถَุงุกُ ุฃَุจَุฏًุง ุญَุชَّٰู ุชُุคْู
ُِููุง ุจِุงَِّููู َูุญْุฏَُู ุฅَِّูุง ََْููู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ ِูุฃَุจِِูู َูุฃَุณْุชَุบِْูุฑََّู ََูู َูู
َุง ุฃَู
ُِْูู ََูู ู
َِู ุงَِّููู ู
ِْู ุดَْูุกٍ ۖ ุฑَุจََّูุง ุนَََْููู ุชََََّْููููุง َูุฅََِْููู ุฃََูุจَْูุง َูุฅََِْููู ุงْูู
َุตِูุฑُ)
[Surat Al-Mumtahanah 4]
lewat @QuranAndroid
[27/11 5.35 AM] Saban Subiadi๐ค: Nyata ada untuk kalian satu contoh menarik pd Ibrahim dan mrk yg bersamanya saat mrk telah bilang kpd kaum mrk. "Kami sungguh berlepas dr kalian, juga dr apa yg kalian sembah dr selain Allah. Kami telah mengingkari kalian, dan tampak permusuhan juga kebencian antara kami dan kalian, selamanya. Hingga kalian beriman dg Allah saja." Kecuali pernyataan Ibrahim kpd ayahnya, "sy sungguh akan meminta ampunan untuk anda. Sementara apa yg sy punya untuk anda dr Allah, sedikit saja? Tuan kami, kpd Anda kami bersandar, dan menuju Anda kami kembali, dan menuju Anda sang akhir perjalanan."
[27/11 5.36 AM] Saban Subiadi๐ค: (ุฅَِّู ุฃََْููู ุงَّููุงุณِ ุจِุฅِุจْุฑَุงِููู
َ ََّููุฐَِูู ุงุชَّุจَุนُُูู ََٰููุฐَุง ุงَّููุจُِّู َูุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ۗ َูุงَُّููู َُِّููู ุงْูู
ُุคْู
َِِููู)
[Surat Ali 'Imran 68]
lewat @QuranAndroid
[27/11 5.38 AM] Saban Subiadi๐ค: Umat manusia yg sungguh lebih sesuai dg Ibrahim adl mrk yg mengikutinya, juga sang Nabi ini, juga mrk yg beriman. Sementara Allah adl penolong kaum beriman.
[27/11 5.39 AM] Saban Subiadi๐ค: (َูุฅِุฐِ ุงุจْุชََٰูู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ ุฑَุจُُّู ุจَِِููู
َุงุชٍ َูุฃَุชَู
ََُّّูู ۖ َูุงَู ุฅِِّูู ุฌَุงุนَُِูู َِّูููุงุณِ ุฅِู
َุงู
ًุง ۖ َูุงَู َูู
ِْู ุฐُุฑَِّّูุชِู ۖ َูุงَู َูุง ََููุงُู ุนَْูุฏِู ุงูุธَّุงِูู
َِูู)
[Surat Al-Baqarah 124]
lewat @QuranAndroid
[27/11 5.43 AM] Saban Subiadi๐ค: Dan saat Tuannya telah menguji Ibrahim dg kata2 maka ia menyempurnakan itu. Dia telah bilang "Aku sungguh telah menjadikan anda imam bagi umat manusia." Ia telah bilang "juga dr keturunan sy?" Dia telah bilang "janjiKu tak berlaku untuk kaum zalim."
[27/11 5.45 AM] Saban Subiadi๐ค: (ุจِุณْู
ِ ุงَِّููู ุงูุฑَّุญْู
َِٰู ุงูุฑَّุญِูู
ِ َูุฏْ ุฃََْููุญَ ุงْูู
ُุคْู
َُِููู * ุงَّูุฐَِูู ُูู
ْ ِูู ุตََูุงุชِِูู
ْ ุฎَุงุดِุนَُูู)
[Surat Al-Mu'minun 1 - 2]
lewat @QuranAndroid
[27/11 5.46 AM] Saban Subiadi๐ค: Dg nama Allah Pemurah Pengasih nyata telah berhasil kaum beriman, yg adalah kaum khusyuk dlm shalat mrk.
Mereka yang berjuang dalam Kami pasti akan Kami sampaikan kepada jalan-jalan Kami. Dan Allah sungguh bersama para pelaku kebaikan.
Label
- AlQuran (26)
- Filsafat (10)
- epistemologi (10)
- Akhlak (9)
- Tauhid (9)
- Logika (8)
- Misbah Yazdi (8)
- etika (3)
- pengetahuan (3)
- idea (2)
- kognisi (2)
- nilai (2)
- Hukum (1)
- abstraksi (1)
- diri (1)
- empiris (1)
- fakta (1)
- ideal (1)
- ilmu hudhuri (1)
- ilmu husuli (1)
- imaterial (1)
- inderawi (1)
- kenyataan (1)
- materialisme (1)
- mental (1)
- metafisika (1)
- nilai pengetahuan (1)
- pembenaran (1)
- pemikiran (1)
- pengetahuan akli (1)
- pengetahuan inderawi (1)
- pengetahuan langsung (1)
- pengetahuan tak langsung (1)
- positifis (1)
- positivisme (1)
- rasionalis (1)
- realita (1)
- universal (1)
Selasa, 28 November 2017
Selasa, 14 November 2017
AnNaml:13-14
(ََููู
َّุง ุฌَุงุกَุชُْูู
ْ ุขَูุงุชَُูุง ู
ُุจْุตِุฑَุฉً َูุงُููุง َٰูุฐَุง ุณِุญْุฑٌ ู
ُุจٌِูู)
[Surat An-Naml 13]
lewat @QuranAndroid
(َูุฌَุญَุฏُูุง ุจَِูุง َูุงุณْุชَََْูููุชَْูุง ุฃَُْููุณُُูู ْ ุธُْูู ًุง َูุนًُُّููุง ۚ َูุงْูุธُุฑْ ََْููู َูุงَู ุนَุงِูุจَุฉُ ุงْูู ُْูุณِุฏَِูู)
[Surat An-Naml 14]
lewat @QuranAndroid
Maka saat mendatangi mrk tanda2 Kami, yg menampakkan, mrk bilang... Ini satu sihir yg nyata... Dan mrk mengingkarinya, sementara diri2 mrk diyakinkannya, satu kezaliman, juga satu kesombongan. Maka lihat bagaimana jadinya akhir para perusak. #anNaml:13-14
Ini sepertinya tentang kaum yg mengingkari pengetahuannya. Tau tentang Tuan tapi tak menyembahNya.
[Surat An-Naml 13]
lewat @QuranAndroid
(َูุฌَุญَุฏُูุง ุจَِูุง َูุงุณْุชَََْูููุชَْูุง ุฃَُْููุณُُูู ْ ุธُْูู ًุง َูุนًُُّููุง ۚ َูุงْูุธُุฑْ ََْููู َูุงَู ุนَุงِูุจَุฉُ ุงْูู ُْูุณِุฏَِูู)
[Surat An-Naml 14]
lewat @QuranAndroid
Maka saat mendatangi mrk tanda2 Kami, yg menampakkan, mrk bilang... Ini satu sihir yg nyata... Dan mrk mengingkarinya, sementara diri2 mrk diyakinkannya, satu kezaliman, juga satu kesombongan. Maka lihat bagaimana jadinya akhir para perusak. #anNaml:13-14
Ini sepertinya tentang kaum yg mengingkari pengetahuannya. Tau tentang Tuan tapi tak menyembahNya.
Rabu, 08 November 2017
AlJatsiyah:23-24
(ุฃََูุฑَุฃَْูุชَ ู
َِู ุงุชَّุฎَุฐَ ุฅََُِٰููู ََููุงُู َูุฃَุถََُّูู ุงَُّููู ุนََٰูู ุนِْูู
ٍ َูุฎَุชَู
َ ุนََٰูู ุณَู
ْุนِِู ََْูููุจِِู َูุฌَุนََู ุนََٰูู ุจَุตَุฑِِู ุบِุดَุงَูุฉً َูู
َْู َْููุฏِِูู ู
ِْู ุจَุนْุฏِ ุงَِّููู ۚ ุฃَََููุง ุชَุฐََّูุฑَُูู * ََููุงُููุง ู
َุง َِูู ุฅَِّูุง ุญََูุงุชَُูุง ุงูุฏَُّْููุง َูู
ُูุชُ ََููุญَْูุง َูู
َุง َُُِْูููููุง ุฅَِّูุง ุงูุฏَّْูุฑُ ۚ َูู
َุง َُููู
ْ ุจِุฐََِٰูู ู
ِْู ุนِْูู
ٍ ۖ ุฅِْู ُูู
ْ ุฅَِّูุง َูุธَُُّููู)
[Surat Al-Jatsiyah 23 - 24]
lewat @QuranAndroid
Maka apakah anda lihat siapa yg telah mengambil hasratnya tuhannya sementara Allah telah menyesatkannya, dg sengaja, dan Dia telah menutup pendengarannya, juga qalbunya, dan telah menjadikan pada penglihatannya tabir. Maka siapa akan menunjukinya dr setelah Allah? Maka tidakkah kalian perhatikan? Dan mrk telah bilang... Ia tak lain adl hidup duniawi kita, kita mati dan hidup. Dan tidak menghancurkan kita kecuali waktu... Dan mrk tak punya pengetahuan dg itu sedikitpun. Mrk tak lain hanya menduga. (AlJatsiyah:23-24)
[Surat Al-Jatsiyah 23 - 24]
lewat @QuranAndroid
Maka apakah anda lihat siapa yg telah mengambil hasratnya tuhannya sementara Allah telah menyesatkannya, dg sengaja, dan Dia telah menutup pendengarannya, juga qalbunya, dan telah menjadikan pada penglihatannya tabir. Maka siapa akan menunjukinya dr setelah Allah? Maka tidakkah kalian perhatikan? Dan mrk telah bilang... Ia tak lain adl hidup duniawi kita, kita mati dan hidup. Dan tidak menghancurkan kita kecuali waktu... Dan mrk tak punya pengetahuan dg itu sedikitpun. Mrk tak lain hanya menduga. (AlJatsiyah:23-24)
Senin, 06 November 2017
AlAn am:125
(َูู
َْู ُูุฑِุฏِ ุงَُّููู ุฃَْู َْููุฏَُِูู َูุดْุฑَุญْ ุตَุฏْุฑَُู ِْููุฅِุณَْูุงู
ِ ۖ َูู
َْู ُูุฑِุฏْ ุฃَْู ُูุถَُِّูู َูุฌْุนَْู ุตَุฏْุฑَُู ุถًَِّููุง ุญَุฑَุฌًุง َูุฃََّูู
َุง َูุตَّุนَّุฏُ ِูู ุงูุณَّู
َุงุกِ ۚ َูุฐََِٰูู َูุฌْุนَُู ุงَُّููู ุงูุฑِّุฌْุณَ ุนََูู ุงَّูุฐَِูู َูุง ُูุคْู
َُِููู)
[Surat Al-An'am 125]
lewat @QuranAndroid
Maka siapa yg Allah ingin menunjukinya Dia akan melapangkan dadanya untuk islam. Dan siapa yg Dia ingin menyesatkannya Dia akan jadikan dadanya adalah kesempitan, beban, seolah mendaki di langit. Demikianlah Allah akan menjadikan kejorokan pada mrk yg tak beriman. (AlAn am:125)
Ungkapan "menunjuki" dlm alquran biasanya merujuk kpd penyampaian kpd kebaikan, dg "menyesatkan" adl sebaliknya, yakni tidak menyampaikan kpd kebaikan.
Dlm ayat ini Allah mensinonimkan islam dg iman, karena hakikat ke2nya mungkin sama. Berbeda dg konteks ayat berikut.
(َูุงَูุชِ ุงْูุฃَุนْุฑَุงุจُ ุขู ََّูุง ۖ ُْูู َูู ْ ุชُุคْู ُِููุง ََِْٰูููู ُُููููุง ุฃَุณَْูู َْูุง ََููู َّุง َูุฏْุฎُِู ุงْูุฅِูู َุงُู ِูู ُُูููุจُِูู ْ ۖ َูุฅِْู ุชُุทِูุนُูุง ุงََّููู َูุฑَุณَُُููู َูุง َِููุชُْูู ْ ู ِْู ุฃَุนْู َุงُِููู ْ ุดَْูุฆًุง ۚ ุฅَِّู ุงََّููู ุบَُููุฑٌ ุฑَุญِูู ٌ)
[Surat Al-Hujurat 14]
lewat @QuranAndroid
Telah berkata kaum nomaden...Kami beriman... Katakan... Kalian belum beriman, tapi katakan kami berserah, dan iman belum masuk ke qalbu2 kalian. Dan jika kalian mentaati Allah dan rasulNya Dia tak akan merugikan kalian dr amal2 kalian sedikitpun. Allah sungguh amat pengampun pengasih. (AlHujurat:14)
Berserah secara lahiriah tidaklah sama dg berserah scr batiniah, tidak sama dg iman.
(ุฃََูู َْู ุดَุฑَุญَ ุงَُّููู ุตَุฏْุฑَُู ِْููุฅِุณَْูุงู ِ ََُููู ุนََٰูู ُููุฑٍ ู ِْู ุฑَุจِِّู ۚ ٌََْูููู َِْูููุงุณَِูุฉِ ُُูููุจُُูู ْ ู ِْู ุฐِْูุฑِ ุงَِّููู ۚ ุฃَُٰููุฆَِู ِูู ุถََูุงٍู ู ُุจٍِูู)
[Surat Az-Zumar 22]
lewat @QuranAndroid
Maka apakah siapa yg Allah telah lapangkan dadanya untuk islam, maka ia pada cahaya dr Tuannya?...(azZumar:22)
[Surat Al-An'am 125]
lewat @QuranAndroid
Maka siapa yg Allah ingin menunjukinya Dia akan melapangkan dadanya untuk islam. Dan siapa yg Dia ingin menyesatkannya Dia akan jadikan dadanya adalah kesempitan, beban, seolah mendaki di langit. Demikianlah Allah akan menjadikan kejorokan pada mrk yg tak beriman. (AlAn am:125)
Ungkapan "menunjuki" dlm alquran biasanya merujuk kpd penyampaian kpd kebaikan, dg "menyesatkan" adl sebaliknya, yakni tidak menyampaikan kpd kebaikan.
Dlm ayat ini Allah mensinonimkan islam dg iman, karena hakikat ke2nya mungkin sama. Berbeda dg konteks ayat berikut.
(َูุงَูุชِ ุงْูุฃَุนْุฑَุงุจُ ุขู ََّูุง ۖ ُْูู َูู ْ ุชُุคْู ُِููุง ََِْٰูููู ُُููููุง ุฃَุณَْูู َْูุง ََููู َّุง َูุฏْุฎُِู ุงْูุฅِูู َุงُู ِูู ُُูููุจُِูู ْ ۖ َูุฅِْู ุชُุทِูุนُูุง ุงََّููู َูุฑَุณَُُููู َูุง َِููุชُْูู ْ ู ِْู ุฃَุนْู َุงُِููู ْ ุดَْูุฆًุง ۚ ุฅَِّู ุงََّููู ุบَُููุฑٌ ุฑَุญِูู ٌ)
[Surat Al-Hujurat 14]
lewat @QuranAndroid
Telah berkata kaum nomaden...Kami beriman... Katakan... Kalian belum beriman, tapi katakan kami berserah, dan iman belum masuk ke qalbu2 kalian. Dan jika kalian mentaati Allah dan rasulNya Dia tak akan merugikan kalian dr amal2 kalian sedikitpun. Allah sungguh amat pengampun pengasih. (AlHujurat:14)
Berserah secara lahiriah tidaklah sama dg berserah scr batiniah, tidak sama dg iman.
(ุฃََูู َْู ุดَุฑَุญَ ุงَُّููู ุตَุฏْุฑَُู ِْููุฅِุณَْูุงู ِ ََُููู ุนََٰูู ُููุฑٍ ู ِْู ุฑَุจِِّู ۚ ٌََْูููู َِْูููุงุณَِูุฉِ ُُูููุจُُูู ْ ู ِْู ุฐِْูุฑِ ุงَِّููู ۚ ุฃَُٰููุฆَِู ِูู ุถََูุงٍู ู ُุจٍِูู)
[Surat Az-Zumar 22]
lewat @QuranAndroid
Maka apakah siapa yg Allah telah lapangkan dadanya untuk islam, maka ia pada cahaya dr Tuannya?...(azZumar:22)
Kamis, 02 November 2017
AlBayyinah:1-2
(ุจِุณْู
ِ ุงَِّููู ุงูุฑَّุญْู
َِٰู ุงูุฑَّุญِูู
ِ َูู
ْ َُِููู ุงَّูุฐَِูู ََููุฑُูุง ู
ِْู ุฃَِْูู ุงِْููุชَุงุจِ َูุงْูู
ُุดْุฑَِِููู ู
ََُِّْููููู ุญَุชَّٰู ุชَุฃْุชَُِููู
ُ ุงْูุจََِّููุฉُ * ุฑَุณٌُูู ู
َِู ุงَِّููู َูุชُْูู ุตُุญًُูุง ู
ُุทََّูุฑَุฉً)
[Surat Al-Bayyinah 1 - 2]
lewat @QuranAndroid
Dg nama Allah Pemurah Pengasih, kaum yg ingkar dr ahli kitab dan musyrikin tak akan meninggalkan hingga mendatangi mrk sang bukti nyata, satu utusan dr Allah membacakan lembaran2 yg disucikan. (AlBayyinah:1-2).
Di sini tidak dinyatakan bahwa rasul dlm hal ini adl manusia atau malaikat.
(ุงَُّููู َูุตْุทَِูู ู َِู ุงْูู ََูุงุฆَِูุฉِ ุฑُุณًُูุง َูู َِู ุงَّููุงุณِ ۚ ุฅَِّู ุงََّููู ุณَู ِูุนٌ ุจَุตِูุฑٌ)
[Surat Al-Hajj 75]
lewat @QuranAndroid
Allah akan memilih dr para malaikat para utusan, juga dr para manusia... (AlHajj:75)
(ุจَْู ُูุฑِูุฏُ ُُّูู ุงู ْุฑِุฆٍ ู ُِْููู ْ ุฃَْู ُูุคْุชَٰู ุตُุญًُูุง ู َُูุดَّุฑَุฉً)
[Surat Al-Muddatstsir 52]
lewat @QuranAndroid
Tapi masing2 dr mereka ingin diberi lembaran2 terbuka. (AlMuddatsir:52)
Inti yg disampaikan pd AlMuddatsir:52 tampaknya senada dg alBayyinah:1-2, bahwa para pengingkar ini menilai diri mrk tidak kalah dr Muhammad saw, mengapa bukan mrk saja yg jadi rasul dr kalangan manusia, dg datangnya rasul dr kalangan malaikat kpd mrk. Monggo koreksinya...
[Surat Al-Bayyinah 1 - 2]
lewat @QuranAndroid
Dg nama Allah Pemurah Pengasih, kaum yg ingkar dr ahli kitab dan musyrikin tak akan meninggalkan hingga mendatangi mrk sang bukti nyata, satu utusan dr Allah membacakan lembaran2 yg disucikan. (AlBayyinah:1-2).
Di sini tidak dinyatakan bahwa rasul dlm hal ini adl manusia atau malaikat.
(ุงَُّููู َูุตْุทَِูู ู َِู ุงْูู ََูุงุฆَِูุฉِ ุฑُุณًُูุง َูู َِู ุงَّููุงุณِ ۚ ุฅَِّู ุงََّููู ุณَู ِูุนٌ ุจَุตِูุฑٌ)
[Surat Al-Hajj 75]
lewat @QuranAndroid
Allah akan memilih dr para malaikat para utusan, juga dr para manusia... (AlHajj:75)
(ุจَْู ُูุฑِูุฏُ ُُّูู ุงู ْุฑِุฆٍ ู ُِْููู ْ ุฃَْู ُูุคْุชَٰู ุตُุญًُูุง ู َُูุดَّุฑَุฉً)
[Surat Al-Muddatstsir 52]
lewat @QuranAndroid
Tapi masing2 dr mereka ingin diberi lembaran2 terbuka. (AlMuddatsir:52)
Inti yg disampaikan pd AlMuddatsir:52 tampaknya senada dg alBayyinah:1-2, bahwa para pengingkar ini menilai diri mrk tidak kalah dr Muhammad saw, mengapa bukan mrk saja yg jadi rasul dr kalangan manusia, dg datangnya rasul dr kalangan malaikat kpd mrk. Monggo koreksinya...
Ali Imran:7
(َُูู ุงَّูุฐِู ุฃَْูุฒََู ุนَََْููู ุงِْููุชَุงุจَ ู
ُِْูู ุขَูุงุชٌ ู
ُุญَْูู
َุงุชٌ َُّูู ุฃُู
ُّ ุงِْููุชَุงุจِ َูุฃُุฎَุฑُ ู
ُุชَุดَุงุจَِูุงุชٌ ۖ َูุฃَู
َّุง ุงَّูุฐَِูู ِูู ُُูููุจِِูู
ْ ุฒَْูุบٌ ََููุชَّุจِุนَُูู ู
َุง ุชَุดَุงุจََู ู
ُِْูู ุงุจْุชِุบَุงุกَ ุงِْููุชَْูุฉِ َูุงุจْุชِุบَุงุกَ ุชَุฃِِِْูููู ۗ َูู
َุง َูุนَْูู
ُ ุชَุฃَُِْูููู ุฅَِّูุง ุงَُّููู ۗ َูุงูุฑَّุงุณِุฎَُูู ِูู ุงْูุนِْูู
ِ ََُُูููููู ุขู
ََّูุง ุจِِู ٌُّูู ู
ِْู ุนِْูุฏِ ุฑَุจَِّูุง ۗ َูู
َุง َูุฐََّّูุฑُ ุฅَِّูุง ุฃُُููู ุงْูุฃَْูุจَุงุจِ)
[Surat Ali 'Imran 7]
lewat @QuranAndroid
Dia yg telah menurunkan kpd anda sang kitab, sebagiannya ayat2 pasti, itu induk sang kitab, dan lainnya ambigu. Maka adapun mrk yg dlm qalbu2nya satu penyimpangan maka akan mengikuti apa yg ambigu drnya, mencari untuk kesesatan, juga mencari untuk takwilnya, sementara tak mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan mrk yg pengetahuannya mendalam akan bilang... Kami beriman dgnya, seluruhnya dr sisi Tuan kami. Dan tak memperhatikan kecuali para pemilik pahaman. (Ali Imran:7)
[Surat Ali 'Imran 7]
lewat @QuranAndroid
Dia yg telah menurunkan kpd anda sang kitab, sebagiannya ayat2 pasti, itu induk sang kitab, dan lainnya ambigu. Maka adapun mrk yg dlm qalbu2nya satu penyimpangan maka akan mengikuti apa yg ambigu drnya, mencari untuk kesesatan, juga mencari untuk takwilnya, sementara tak mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan mrk yg pengetahuannya mendalam akan bilang... Kami beriman dgnya, seluruhnya dr sisi Tuan kami. Dan tak memperhatikan kecuali para pemilik pahaman. (Ali Imran:7)
Selasa, 31 Oktober 2017
Beroleh manfaat alQuran
Beroleh Manfaat Al-Quran
Oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini
Karena anda telah mengenal topik-topik dan sasaran-sasaran sang kitab ilahiah, seharusnya anda bersiap akan satu hal penting, dengan melakukannya pintu beroleh manfaat al-Quran akan terbuka bagi anda, jalur menuju pengetahuan dan hikmah akan terbuka lebar untuk anda. Yakni, memandang kitab cemerlang ini sebagai kitab pendidikan, buku pelajaran yang selayaknya anda beroleh manfaatnya, memandang bahwa tugas andalah belajar darinya. Belajar, mengajar, beroleh manfaat, dan memberi manfaat dengan al-Quran yang kami maksud bukanlah dalam hal ragam penulisan, pembentukan kalimat, dan morfologinya, bukan pula kefasihan dan retorikanya atau poin-poin keindahannya, bukan pula tentang cerita-cerita, kisah-kisah, dan episode-episodenya dari sudut pandang sejarah untuk beroleh berita tentang bangsa-bangsa di masa lalu. Tak satupun darinya adalah sasaran al-Quran, bahkan semua itup berada jauh dari sasaran kitab ilahiah ini.
Kenyataan bahwa manfaat yang kami dapatkan dari kitab besar ini sangat sedikit adalah karena kami biasanya tidak memandangnya sebagai buku pelajaran dan pendidikan. Kami membaca al-Quran untuk beroleh pahalanya. Makanya kami hanya memperhatikan intonasi saat membacanya. Kami ingin bacaan kami sempurna dan benar sehingga beroleh pahala, lalu kami berhenti pada itu dan berpuas diri dengannya. Demikianlah, kami menghabiskan sekira empat puluh tahun usia membaca al-Quran tanpa beroleh manfaat darinya, kecuali mungkin pahala bacaannya. Jika kami benar memandang kepada sisi pembelajaran dan pendidikannya, kami menyibukkan diri dengan kefasihan dan pembentukan baitbaitnya juga sisi-sisi kemukjizatannya, atau bahkan sesuatu yang lebih tinggi, kami menyibukkan diri dengan sejarah-sejarah yang dinukilnya, kesempatan-kesempatan pewahyuan ayat-ayatnya, waktuwaktu turunnya, surah mana atau ayat-ayat mana yang diwahyukan di Makkah dan mana yang diwahyukan di Madinah, ragam bacaan dan penafsirannya di kalangan sunnah dan syiah, juga ihwal sekunder lain-lainnya yang sebenarnya di luar sasaran utama al-Quran dan semua itu menyebabkan kami terhalang dari al-Quran dan mengabaikan zikir akan Allah. Bahkan para penafsir al-Quran kita sangat tertarik dengan satu atau beberapa dari ihwal yang telah disampaikan tadi, tanpa membukakan pintu pembelajaran bagi umat manusia.
Penulis ini percaya bahwa sampai sejauh ini tidak ada tafsir yang telah dituliskan untuk sang kitab Allah. Hal ini karena secara umum, menuliskan tafsir satu kitab berarti menjelaskan sasaran-sasaran kitab itu dan mengarahkan perhatian pembaca kepada apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Kitab mulia ini, yang Allah sang Mulia nyatakan sebagai kitab bimbingan dan pembelajaran, juga cahaya jalan safir manusia, tafsirnya harusnya menunjukkan dalam tiap kisahnya, atau bahkan dalam tiap ayatnya, panduan yang jelas kepada alam gaib, menunjukkan pula kepada para pembacanya jalan kebahagiaan, hikmah, dan kemanusiaan. Seorang mufassir adalah dia yang menyampaikan kepada kita apa “sasaran” dari apa yang diwahyukan, bukan “kapan” ia diwahyukan sebagaimana dijelaskan pada tafsir-tafsir yang ada. Dalam kisah Adam-Hawa dan ihwal mereka dengan iblis misalnya, dari saat penciptaan mereka hingga diturunkannya mereka ke bumi, kisah yang diulang oleh Allah beberapa kali dalam al-Quran, ada banyak sekali hikmah tersurat dan tersirat juga peringatan-peringatan, ia juga mengingatkan kita akan banyak sekali cacat-cacat ruhani dan sifat-sifat setani, juga banyak kesempurnaan-kesempurnaan jiwa dan pengetahuan manusia, yang itu semua masih kita abaikan.
Pendek kata, kitab Allah adalah kitab hikmah dan akhlak, dan satu seruan kepada bahagia dan kesempurnaan. Makanya, tafsir-tafsirnya harusnya juga buku tentang hikmah ilahiah dan akhlak, menjelaskan sudut pandang hikmah ilahiah dan moral, juga sudut-sudut lain dari seruan kepada bahagia. Pembedah al-Quran yang mengabaikan poin-poin ini, menyepelekannya atau tak menyematkan pentingnya hal itu, pada hakikatnya mengabaikan sasaran al-Quran dan tujuan pokok pewahyuan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul. Ini kesalahan fatal yang menghalangi umat manusia selama berabad-abad dari beroleh manfaat al-Quran agung, dan itu memblokir jalan pembimbingan di hadapan mereka. Kita harusnya belajar sasaran pewahyuan al-Quran— kesampingkan dulu sudut-sudut pandang intelektual dan argumentatif, yang coba menunjukkan sasaran al-Quran dengan jalannya masing-masing—dari al-Quran sendiri. Penulis buku pastinya lebih tahu sasaran yang ia maksud. Karena itu, mari kita tengok sekilas pada apa yang disampaikan oleh sang Penulis kitab ini ihwal al-Quran. Dia bilang “Itulah sang kitab, tiada keraguan di dalamnya, panduan bagi kaum bertakwa,” (al-Quran, 2:2) Dia menggambarkan kitabNya sebagai kitab panduan. Dalam satu surah pendek Dia mengulangi hal itu dengan “Dan nyata telah Kami mudahkan al-Quran untuk zikir, maka adakah sebagian yang peduli?” (al-Quran, 54:17) Dia berkata “...Dan Kami turunkan kepada anda sang zikir untuk anda menjelaskan kepada umat manusia apa yang diturunkan untuk mereka dan mudah-mudahan mereka merenungkan.” (alQuran, 16:44) juga “Kitab yang diturunkanNya kepada anda, terberkati, untuk mereka renungi ayat-ayatnya, dan supaya merenungkan kaum yang paham.” (al-Quran, 38:29) juga banyak ayat lain, yang penyebutannya akan menjadikan panjang lebar.
Pendapat kami ini bukan bermaksud mengkritik tafsir-tafsir yang ada, karena masing-masing penulisnya telah menanggung banyak kepayahan dan berupaya dengan keras untuk menulis buku tafsirnya, semoga Allah memberkati mereka dan memberi mereka pahala yang baik. Niatan kami adalah bilang bahwa pintu beroleh manfaat dari kitab ini harus dibuka di hadapan umat manusia, yang itu adalah satu-satunya yang mengarahkan kepada Allah dan satu-satunya yang mendidik jiwa-jiwa dengan adab-adab dan hukum-hukum ilahiah, sarana terbaik yang menghubungkan makhluk dan Pencipta, sang pegangan kokoh dan tali kuat dalam keterikatan pada kuasa ilahiah. Biarlah kaum terpelajar dan para pengkaji menulis tafsir-tafsir dalam bahasa Persia dan bahasa Arab dengan tujuan menjelaskan pelajaran-pelajaran dan panduan-panduan irfan dan akhlak, menunjukkan jalan yang menghubungkan makhluk kepada sang Pencipta, juga menguraikan hijrah dari rumah kepalsuan menuju rumah kesenangan dan keabadian, sesuai apa yang tersimpan dalam kitab mulia ini. Sang Penulis kitab ini bukanlah as-Sakkaki atau sang Syaikh, yang tujuannya adalah kefasihan dan retorika, bukan pula Dia Sibawayh atau al-Khalil, yang tujuannya adalah tata bahasa dan pembentukan kalimat benar, bukan pula Dia al-Masudi atau bin Khillakan, yang tujuannya adalah berkutat dengan sejarah dunia. Kitab ini tidak seperti tongkatnya Musa atau tangan putihnya, bukan pula ia seperti nafas Isa yang mampu membangkitkan orang mati (dengan izin Allah), yang diturunkan hanya sebagai mukjizat untuk membuktikan benarnya kenabian sang Nabi suci. Kitab ilahiah ini, faktanya, adalah kitab yang menghidupkan hati dengan hidup abadi dan hikmah ilahiah. Ia adalah kitab Allah yang menyeru kepada ihwal ilahiah. Makanya, pembedahnya harusnya mengajarkan ihwal-ihwal ilahiah ini kepada umat manusia, dan umat manusia harusnya merujuk kepada ulasan-ulasan ini untuk belajar ihwal-ihwal tadi, sehingga mereka dapat beroleh manfaat “Dan Kami turunkan dari al-Quran apa-apa yang adalah penyembuh dan kasih bagi kaum beriman, dan tidak menambahkan bagi kaum zalim selain kerugian.” (al-Quran, 17:82) Kutukan apakah yang lebih berat dari bahwa kita terus membaca kitab ilahiah ini selama tiga puluh atau empat puluh tahun juga merujuk kepada tafsir-tafsirnya, namun kita tak mendapati tujuan-tujuan yang diinginkannya? “Pemelihara kami! Kami menzalimi diri-diri kami, dan jika Anda tak mengampuni kami dan mengasihi kami pastilah jadinya kami bagian kaum merugi.” (al-Quran, 7:23)
Oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini
Karena anda telah mengenal topik-topik dan sasaran-sasaran sang kitab ilahiah, seharusnya anda bersiap akan satu hal penting, dengan melakukannya pintu beroleh manfaat al-Quran akan terbuka bagi anda, jalur menuju pengetahuan dan hikmah akan terbuka lebar untuk anda. Yakni, memandang kitab cemerlang ini sebagai kitab pendidikan, buku pelajaran yang selayaknya anda beroleh manfaatnya, memandang bahwa tugas andalah belajar darinya. Belajar, mengajar, beroleh manfaat, dan memberi manfaat dengan al-Quran yang kami maksud bukanlah dalam hal ragam penulisan, pembentukan kalimat, dan morfologinya, bukan pula kefasihan dan retorikanya atau poin-poin keindahannya, bukan pula tentang cerita-cerita, kisah-kisah, dan episode-episodenya dari sudut pandang sejarah untuk beroleh berita tentang bangsa-bangsa di masa lalu. Tak satupun darinya adalah sasaran al-Quran, bahkan semua itup berada jauh dari sasaran kitab ilahiah ini.
Kenyataan bahwa manfaat yang kami dapatkan dari kitab besar ini sangat sedikit adalah karena kami biasanya tidak memandangnya sebagai buku pelajaran dan pendidikan. Kami membaca al-Quran untuk beroleh pahalanya. Makanya kami hanya memperhatikan intonasi saat membacanya. Kami ingin bacaan kami sempurna dan benar sehingga beroleh pahala, lalu kami berhenti pada itu dan berpuas diri dengannya. Demikianlah, kami menghabiskan sekira empat puluh tahun usia membaca al-Quran tanpa beroleh manfaat darinya, kecuali mungkin pahala bacaannya. Jika kami benar memandang kepada sisi pembelajaran dan pendidikannya, kami menyibukkan diri dengan kefasihan dan pembentukan baitbaitnya juga sisi-sisi kemukjizatannya, atau bahkan sesuatu yang lebih tinggi, kami menyibukkan diri dengan sejarah-sejarah yang dinukilnya, kesempatan-kesempatan pewahyuan ayat-ayatnya, waktuwaktu turunnya, surah mana atau ayat-ayat mana yang diwahyukan di Makkah dan mana yang diwahyukan di Madinah, ragam bacaan dan penafsirannya di kalangan sunnah dan syiah, juga ihwal sekunder lain-lainnya yang sebenarnya di luar sasaran utama al-Quran dan semua itu menyebabkan kami terhalang dari al-Quran dan mengabaikan zikir akan Allah. Bahkan para penafsir al-Quran kita sangat tertarik dengan satu atau beberapa dari ihwal yang telah disampaikan tadi, tanpa membukakan pintu pembelajaran bagi umat manusia.
Penulis ini percaya bahwa sampai sejauh ini tidak ada tafsir yang telah dituliskan untuk sang kitab Allah. Hal ini karena secara umum, menuliskan tafsir satu kitab berarti menjelaskan sasaran-sasaran kitab itu dan mengarahkan perhatian pembaca kepada apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Kitab mulia ini, yang Allah sang Mulia nyatakan sebagai kitab bimbingan dan pembelajaran, juga cahaya jalan safir manusia, tafsirnya harusnya menunjukkan dalam tiap kisahnya, atau bahkan dalam tiap ayatnya, panduan yang jelas kepada alam gaib, menunjukkan pula kepada para pembacanya jalan kebahagiaan, hikmah, dan kemanusiaan. Seorang mufassir adalah dia yang menyampaikan kepada kita apa “sasaran” dari apa yang diwahyukan, bukan “kapan” ia diwahyukan sebagaimana dijelaskan pada tafsir-tafsir yang ada. Dalam kisah Adam-Hawa dan ihwal mereka dengan iblis misalnya, dari saat penciptaan mereka hingga diturunkannya mereka ke bumi, kisah yang diulang oleh Allah beberapa kali dalam al-Quran, ada banyak sekali hikmah tersurat dan tersirat juga peringatan-peringatan, ia juga mengingatkan kita akan banyak sekali cacat-cacat ruhani dan sifat-sifat setani, juga banyak kesempurnaan-kesempurnaan jiwa dan pengetahuan manusia, yang itu semua masih kita abaikan.
Pendek kata, kitab Allah adalah kitab hikmah dan akhlak, dan satu seruan kepada bahagia dan kesempurnaan. Makanya, tafsir-tafsirnya harusnya juga buku tentang hikmah ilahiah dan akhlak, menjelaskan sudut pandang hikmah ilahiah dan moral, juga sudut-sudut lain dari seruan kepada bahagia. Pembedah al-Quran yang mengabaikan poin-poin ini, menyepelekannya atau tak menyematkan pentingnya hal itu, pada hakikatnya mengabaikan sasaran al-Quran dan tujuan pokok pewahyuan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul. Ini kesalahan fatal yang menghalangi umat manusia selama berabad-abad dari beroleh manfaat al-Quran agung, dan itu memblokir jalan pembimbingan di hadapan mereka. Kita harusnya belajar sasaran pewahyuan al-Quran— kesampingkan dulu sudut-sudut pandang intelektual dan argumentatif, yang coba menunjukkan sasaran al-Quran dengan jalannya masing-masing—dari al-Quran sendiri. Penulis buku pastinya lebih tahu sasaran yang ia maksud. Karena itu, mari kita tengok sekilas pada apa yang disampaikan oleh sang Penulis kitab ini ihwal al-Quran. Dia bilang “Itulah sang kitab, tiada keraguan di dalamnya, panduan bagi kaum bertakwa,” (al-Quran, 2:2) Dia menggambarkan kitabNya sebagai kitab panduan. Dalam satu surah pendek Dia mengulangi hal itu dengan “Dan nyata telah Kami mudahkan al-Quran untuk zikir, maka adakah sebagian yang peduli?” (al-Quran, 54:17) Dia berkata “...Dan Kami turunkan kepada anda sang zikir untuk anda menjelaskan kepada umat manusia apa yang diturunkan untuk mereka dan mudah-mudahan mereka merenungkan.” (alQuran, 16:44) juga “Kitab yang diturunkanNya kepada anda, terberkati, untuk mereka renungi ayat-ayatnya, dan supaya merenungkan kaum yang paham.” (al-Quran, 38:29) juga banyak ayat lain, yang penyebutannya akan menjadikan panjang lebar.
Pendapat kami ini bukan bermaksud mengkritik tafsir-tafsir yang ada, karena masing-masing penulisnya telah menanggung banyak kepayahan dan berupaya dengan keras untuk menulis buku tafsirnya, semoga Allah memberkati mereka dan memberi mereka pahala yang baik. Niatan kami adalah bilang bahwa pintu beroleh manfaat dari kitab ini harus dibuka di hadapan umat manusia, yang itu adalah satu-satunya yang mengarahkan kepada Allah dan satu-satunya yang mendidik jiwa-jiwa dengan adab-adab dan hukum-hukum ilahiah, sarana terbaik yang menghubungkan makhluk dan Pencipta, sang pegangan kokoh dan tali kuat dalam keterikatan pada kuasa ilahiah. Biarlah kaum terpelajar dan para pengkaji menulis tafsir-tafsir dalam bahasa Persia dan bahasa Arab dengan tujuan menjelaskan pelajaran-pelajaran dan panduan-panduan irfan dan akhlak, menunjukkan jalan yang menghubungkan makhluk kepada sang Pencipta, juga menguraikan hijrah dari rumah kepalsuan menuju rumah kesenangan dan keabadian, sesuai apa yang tersimpan dalam kitab mulia ini. Sang Penulis kitab ini bukanlah as-Sakkaki atau sang Syaikh, yang tujuannya adalah kefasihan dan retorika, bukan pula Dia Sibawayh atau al-Khalil, yang tujuannya adalah tata bahasa dan pembentukan kalimat benar, bukan pula Dia al-Masudi atau bin Khillakan, yang tujuannya adalah berkutat dengan sejarah dunia. Kitab ini tidak seperti tongkatnya Musa atau tangan putihnya, bukan pula ia seperti nafas Isa yang mampu membangkitkan orang mati (dengan izin Allah), yang diturunkan hanya sebagai mukjizat untuk membuktikan benarnya kenabian sang Nabi suci. Kitab ilahiah ini, faktanya, adalah kitab yang menghidupkan hati dengan hidup abadi dan hikmah ilahiah. Ia adalah kitab Allah yang menyeru kepada ihwal ilahiah. Makanya, pembedahnya harusnya mengajarkan ihwal-ihwal ilahiah ini kepada umat manusia, dan umat manusia harusnya merujuk kepada ulasan-ulasan ini untuk belajar ihwal-ihwal tadi, sehingga mereka dapat beroleh manfaat “Dan Kami turunkan dari al-Quran apa-apa yang adalah penyembuh dan kasih bagi kaum beriman, dan tidak menambahkan bagi kaum zalim selain kerugian.” (al-Quran, 17:82) Kutukan apakah yang lebih berat dari bahwa kita terus membaca kitab ilahiah ini selama tiga puluh atau empat puluh tahun juga merujuk kepada tafsir-tafsirnya, namun kita tak mendapati tujuan-tujuan yang diinginkannya? “Pemelihara kami! Kami menzalimi diri-diri kami, dan jika Anda tak mengampuni kami dan mengasihi kami pastilah jadinya kami bagian kaum merugi.” (al-Quran, 7:23)
Langganan:
Postingan (Atom)