Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2022

19. Nilai Pengetahuan

 Kembali ke Masalah Awal


Kita tahu bahwa masalah mendasar epistemologi adalah apakah manusia bisa mencapai kebenaran dan beroleh petunjuk mengenai kenyataan. Jika bisa, bagaimana? Apa saja patokan untuk kita membedakan konsep benar dari yang salah (dan bertentangan dengan kenyataan)? Yakni, pembahasan pokok epistemologi adalah “nilai pengetahuan”, juga hal-hal lain yang jadi pengantar dan pelengkapnya.


Karena ada bermacam jenis pengetahuan, maka wajar jika pembahasan nilai pengetahuan punya banyak sisi. Namun demikian, yang paling penting bagi filsafat adalah mencermati pengetahuan akli dan pembuktian mampu tidaknya akal memecahkan masalah epistemologi dan cabang-cabang filsafat lain.


Telah kami paparkan berbagai jenis pengetahuan yang umum, dan kita sampai pada kesimpulan bahwa ada jenis pengetahuan manusia yang tanpa perantara, yaitu pengetahuan langsung. Yakni, subjek langsung mendapatkan hakikatnya. Dalam pengetahuan semacam ini mustahil terjadi kesalahan. Namun faktanya pengetahuan semacam ini saja tak mampu memenuhi kebutuhan keilmuan manusia, maka kita bahas pula pengetahuan tak langsung dan semua jenisnya. Kami telah jelaskan pula peranan indera dan akal dalam hal itu.


Sekarang kita kembali ke pembahasan awal dan menjelaskan nilai dari pengetahuan tak langsung. Karena pengetahuan tak langsung setara dengan pembenaran dan pernyataan dalam hal kesesuaiannya dengan fakta, maka wajarnya penilaian pengetahuan tak langsung diperoleh dari sana. Jika konsep-konsep disebutkan maka secara langsung atau tidak ia adalah bagian dari pernyataan.


Apa itu Nyata?


Masalah mendasar dalam nilai pengetahuan adalah membuktikan apakah pengetahuan manusia selaras dengan kenyataan. Problem muncul saat ada perantara antara si tahu dengan yang ditahu. Si tahu dalam hal ini adalah subjek yang dikatakan berpengetahuan, sementara yang ditahu adalah objek yang disasar oleh pengetahuan. Yakni, pengetahuan kemudian berbeda dari yang ditahu. Dalam kasus tak berperantara, si tahu mendapati secara langsung yang ditahu, wajar jika tanya semacam itu tak muncul.


Karenanya, pengetahuan, yakni pengetahuan tak langsung, bisa benar dan bisa salah. Adapun pengetahuan langsung, ia pasti benar, maksudnya mustahil ia berbeda dari kenyataan.


Sementara definisi benar, yang dibahas dalam nilai pengetahuan, jelas adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan fakta yang diwakilinya. Namun, sangat mungkin ada definisi lain tentang benar. Misalnya definisi oleh kaum pragmatis, “Benar adalah konsep yang berguna bagi manusia secara praktek.” Atau definisi oleh relativis, “Benar adalah pengetahuan yang cocok dengan sistem berpikir yang sehat.” Atau definisi ketiga, “Benar adalah disetujui semua orang.” Atau definisi keempat, “Benar adalah pengetahuan yang bisa dibuktikan dengan pengalaman inderawi.” Semua ini di luar pokok masalah dan bukan jawaban atas masalah inti tentang nilai pengetahuan. Mereka dapat dipandang sebagai tanda ketak mampuan pendefinisi dalam memecahkan masalah ini. Dengan anggapan bahwa sebagiannya dimaknai secara tepat, atau dianggap sebagai definisi yang perlu untuk hal-hal khusus (meski jika definisi itu sendiri tidak tepat), yakni ia dianggap sebagai tanda-tanda khusus sebagian kebenaran, atau ia menandai beberapa istilah khusus, namun tetap saja tidak satu pun dari pembenaran ini bisa memecahkan masalah sebenarnya. Tanya tentang kebenaran dalam hal apakah pengetahuan sesuai dengan fakta tetap tak terjawab, padahal kita perlu jawab yang tepat dan terang.


Patokan Mengenali Kenyataan


Rasionalis berpegang bahwa patokan mengenali kenyataan adalah “sifat mendasar akal” (fitrah akal). Pernyataan yang disimpulkan secara tepat dari pernyataan-pernyataan yang langsung terbukti dan yang benar-benar bagian darinya maka bisa dipandang benar. Adapun pernyataan-pernyataan inderawi dan pengalaman hanya dipandang sahih jika dibuktikan dengan bantuan argumen akli. Namun demikian, kita tidak mendapati penjelasan apa pun mereka berikan tentang kesesuaian antara pernyataan yang langsung terbukti dan pernyataan fitri dengan fakta, kecuali apa yang diutarakan oleh Descartes. Ia bicara tentang kebijaksanaan dan kejujuran Tuhan dalam hal akal fitri. Kelemahannya jelas dan telah dikutip pada bab 17.


Tak diragukan bahwa akal, setelah memaknai subjek dan predikat pernyataan yang langsung terbukti, secara otomatis menilai kesatuannya, tanpa perlu pengalaman. Mereka yang ragu akan pernyataan seperti ini pasti tidak tepat memaknai subjek dan predikatnya, punya kelainan mental atau menyimpan niatan tertentu. Bahasan kita berkutat pada: entah pemahaman yang dikatakan fitri ini adalah prasyarat bagi penciptaan akal manusia, sehingga mungkin akal lain (misalnya saja akal jin) memahami pernyataan yang tepat sama namun dengan bentuk lain, atau jika akal manusia dicipta dalam cara yang lain akankah ia memahami dengan bentuk yang lain, atau apakah pahaman-pahaman ini sesuai sempurna dengan kenyataan dan adalah perwakilan dari hal-hal itu sendiri, dan bahwa maujud lain mana pun yang berakal akan paham dengan bentuk yang sama.


Pendek kata, yang dimaksud dengan pengetahuan akli bernilai dan benar adalah yang terakhir itu, namun kefitriannya saja (dengan anggapan dimaknai dengan tepat) tidak lantas menjadi bukti. Di sisi lain empirisis berpegang bahwa patokan kebenaran pengetahuan adalah kemampuannya dibuktikan dengan pengalaman, sebagiannya lagi menambahkan dibuktikan dengan pengalaman praktek.  Persoalan logika dan matematik murni tak dapat dinilai dengan patokan ini. Kedua, hasil pengalaman inderawi dan praktek mestinya dipahami dengan pengetahuan tak langsung. Tanya yang persis sama akan berulang terkait apakah yang menjamin benarnya pengetahuan tak langsung, dengan patokan apa kebenarannya didapat.


Pembahasan


Kesulitan utama terkait pengetahuan tak langsung adalah bagaimana ia dapat dinilai punya kesesuaian (dengan fakta), sementara bentuk pengenalan dan pengetahuan tak langsung ini saja yang jadi perantara kita dengan dunia luar.


Karenanya, kunci pemecahan masalah ini harus dicari sehingga kita bisa punya gambaran umum akan bentuk pahaman sekaligus apa yang dirujuknya dan kita bisa memahami kesesuaiannya secara langsung tanpa perantara satu pun. Itulah pernyataan-pernyataan batiniah. Di satu sisi kita mendapati secara langsung fakta dengan kesadaran, misalnya rasa takut itu sendiri. Di sisi lain kita memahami secara langsung bentuk akli terkaitnya. Karenanya pernyataan “Saya ada,” atau “Saya takut”, atau “Saya ragu” sepenuhnya jelas. Maka pernyataan-pernyataan (batiniah) ini adalah pernyataan-pernyataan awal yang nilainya seratus persen terbukti, tak mungkin salah. Tentunya kita harus memastikan bahwa pernyataan-pernyataan ini tak bercampur dengan tafsiran akli, seperti kami singgung pada bab 13.


Kita mendapati cara pandang demikian ada juga dalam pernyataan-pernyataan logika, yang menggambarkan bentuk akli dan konsep lain. Meski gambaran dan objeknya berada di dua tahapan akal, kedua tahapan itu hadir bagi diri (yakni subjek yang memahami). Misalnya pernyataan “Konsep manusia adalah konsep umum”, ia adalah pernyataan yang menggambarkan ciri-ciri “konsep manusia”. Satu konsep yang hadir dalam benak. Kita bisa membedakan ciri-ciri ini dari pengalaman batin, yang tanpa penggunaan indera maupun perantara bentuk akli apa pun. Kita paham bahwa konsep ini tidak hanya menggambarkan sosok tertentu, namun ia berlaku pada banyak sekali sosok. Maka pernyataan “Konsep manusia adalah konsep umum” bernilai benar.


Melalui ini cara mengenali dua kelompok pernyataan telah terbuka, namun ini saja tak cukup untuk mengenali semua pengetahuan tak langsung. Jika kita bisa beroleh jaminan akan benarnya pernyataan-pernyataan primer yang langsung terbukti kita akan berhasil, karena dalam pancarannya kita akan mengenali dan menilai pernyataan-pernyataan teoritik seperti pernyataan-pernyataan inderawi dan praktek.


Demi tugas ini kita mesti jeli memperhatikan hakikat pernyataan-pernyataan ini. Di satu sisi kita harus memeriksa konsep yang diterapkan kepadanya dan menimbang jenis apa konsepnya, bagaimana pula mereka didapat. Di sisi lain kita harus melihat hubungan di antara mereka dan menimbang bagaimana akal mampu memutuskan kesatuan antara subjek dan predikatnya.


Sisi pertama telah dijelaskan pada bab 17. Kita tahu bahwa pernyataan-pernyataan ini adalah bentuk-bentuk konsep filsafat, konsep yang berujung pada pengetahuan langsung. Yakni, kelompok pertama konsep filsafat, seperti “butuh” dan “mandiri” juga “sebab” dan “akibat” disarikan dari pengetahuan langsung dan fakultas batin. Kita mendapati kecocokan dengan sumbernya melalui kehadiran. Sebagian konsep filsafat lain juga singkatnya demikian.


Sisi kedua, yakni nilai kesatuan antara subjek dan predikatnya menjadi jelas dengan pembandingan antara subjek predikat pernyataan-pernyataan ini satu sama lain. Makna dari semua pernyataan itu analitik, yakni konsep yang predikatnya didapat dari menganalisis konsep subjek. Misal pada pernyataan “Setiap akibat perlu sebab”, saat menganalisis konsep akibat kita akan sampai pada kesimpulan bahwa akibat adalah maujud yang keberadaannya bersandar kepada maujud lain, yakni ia butuh maujud lain, yang disebut sebab. Karenanya konsep butuh akan sebab tersirat dalam konsep akibat. Kesatuannya didapat dengan pengalaman batin. Sebaliknya, dalam pernyataan “Setiap maujud perlu sebab”, karena analisis akan konsep maujud tidak didapat konsep “perlu sebab”, kita tak bisa memandangnya sebagai pernyataan yang langsung terbukti. Tidak pula ia pernyataan dugaan yang benar.


Dengan demikian menjadi terang bahwa pernyataan primer yang langsung terbukti juga berujung pada pengetahuan dengan kehadiran, maka ia mendapati dirinya terjamin benar.


Satu soal mungkin akan mengemuka, jika yang kita dapati dengan pengetahuan langsung adalah akibat khusus, bagaimana kemudian kita menarik kesimpulan umum penilaiannya kepada setiap akibat dan memandang penilaian umum demikian sebagai pernyataan yang langsung terbukti?


Jawabnya, meski men-sari-kan konsep akibat dari fenomena tertentu, kita tidak menilainya sebagai hakikat tertentu, tapi karena maujud itu terkait dengan maujud lain. Misalnya saja niat kita, yang dipandang sebagai bagian dari kualitas jiwa. Maka di mana pun kualitas ini didapat maka penilaiannya juga terjadi. Tentu saja pembenaran akan kualitas ini pada kasus lain perlu pembuktian nalar. Karena itu, pernyataan ini dengan sendirinya tak bisa menjawab perlunya materi kepada sebab. Yakni kecuali telah ada pembuktian nalar akan hubungan keberadaannya. Insya Allah akan kami jelaskan pembuktiannya pada bab sebab akibat. Dengan pernyataan yang sama kita dapat pula menilai bahwa di mana pun ada hubungan keberadaan, di situ ada pula term dan hubungan, juga keberadaan sebabnya.


Alhasil, rahasia dari terjaganya pernyataan primer yang langsung terbukti adalah kebersandarannya kepada pengetahuan kehadiran.


Nilai Benar Salah Pernyataan


Dengan paparan kami tentang patokan kebenaran menjadi jelas bahwa pernyataan yang langsung terbukti dan pernyataan batiniah punya nilai pasti. Rahasia keterjagaannya adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan objeknya yang terbuktikan dengan pengetahuan langsung. Pernyataan yang tak terbukti secara langsung dinilai dengan patokan logika, yakni jika satu pernyataan didapat melalui hukum logika maka benar. Jika tidak demikian maka salah. Tentu saja harus dicermati bahwa ketidak benaran argumen tidak selalu berdampingan dengan tidak benarnya kesimpulan. Mungkin saja sesuatu yang benar disampaikan dengan argumen yang tidak benar. Karenanya, tidak sahihnya argumen hanya membuktikan ketidak kokohan kesimpulan,  bukan sandaran bagi kesalahannya secara aktual.


Mungkin sebuah keraguan akan muncul di sini. Sesuai definisi kebenaran yakni pengetahuan yang selaras dengan kenyataan, benar dan salah hanya didapat saat pernyataan dibandingkan dengan fakta di dunia luar. Pernyataan batin, bagaimanapun tak punya fakta luar. Karena ia tak bisa dipandang benar atau salah, maka ia lalu dikatakan absurd dan tak bermakna.


Keraguan ini muncul dengan asumsi bahwa fakta objektif luar adalah fakta material. Pertama, untuk menghilangkan keraguan ini perlu dicermati bahwa fakta objektif luar tidaklah terbatas pada fakta material, tetapi mencakup pula imaterial. Lebih dari itu, akan dibuktikan di tempat yang tepat bahwa imaterial jauh lebih berperan secara faktual dari materi. Kedua, fakta yang dimaksud adalah yang harus dirujuk oleh pernyataan, sementara dunia luar yang dimaksud adalah apa yang di luar konsep tentangnya. Meski fakta dan rujukan itu ada dalam akal atau batin. Seperti telah kami jelaskan bahwa pernyataan logika murni menggambarkan hal-hal batiniah lain. Hubungan antara tahap akal pernyataan dan tahap akal yang dirujuknya diibaratkan akal dan luar akal.


Karenanya patokan umum tentang benar dan salahnya pernyataan adalah sesuai tidaknya ia dengan konsep di luarnya. Yakni, pengenalan benar salah pernyataan empiris adalah pembandingan antara ia dengan fakta materialnya. Misalnya untuk menemukan benar salahnya pernyataan “Besi memuai saat dipanaskan”, kita memanaskan besi di dunia material dan mengamati perbedaan ukurannya. Adapun pernyataan logika, ia mesti diteliti dengan konsep akli lain yang terkait. Untuk menimbang benar salah pernyataan filsafat, orang harus menimbang hubungan antara bentuk akli dengan objeknya. Yaitu, ia dikata benar jika rujukan objektifnya, entah material atau imaterial selaras dengan konsep terkaitnya. Penimbangan ini terjadi secara langsung dalam hal pernyataan batiniah, terjadi dengan perantara dalam hal pernyataan lainnya, seperti dijelaskan.


Hal Itu Sendiri (Nafs al-Amr)


Kita mendapati ini dalam ungkapan banyak filosof, bahwa beberapa hal itu cocok dengan “hal itu sendiri”. Di antaranya adalah “pernyataan benar” yang sebagiannya tak punya contoh objek di dunia luar. Jika satu hal ada, maka predikat berlaku padanya, pernyataan ini akan bernilai benar. Dikatakan bahwa patokan benarnya pernyataan demikian adalah kesesuaiannya dengan hal itu sendiri. Ini karena tak semua contohnya ada di dunia luar untuk kita bisa menimbang kesesuaian antara maksud pernyataan dengannya. Tidak pula kita bisa bilang bahwa ia selaras dengan dunia luar.


Demikian pula dengan pernyataan yang terbentuk dari mafhum sekunder, seperti pernyataan logika dan pernyataan tentang ketiadaan atau kemustahilan, dikata bahwa penilaian akan benarnya adalah kesesuaiannya dengan dirinya sendiri.


Terkait pemaknaan ungkapan ini, ada beberapa kasus yang entah sangat mengada-ada atau malah tidak memecahkan masalahnya. Yang pertama misalnya ungkapan filosof yang menyatakan bahwa “hal” di sana adalah alam imaterial. Yang kedua misalnya bahwa ungkapan “nafs al-amr” adalah hal itu sendiri, ia membiarkan soalannya tak terjawab sama sekali untuk menimbang pernyataan-pernyataan ini, dengan apa ia dinilai?


Melalui bahasan benar salah pernyataan menjadi jelas bahwa maksud nafs al-amr adalah sesuatu selain maujud luar, ia adalah nama bagi maujud akli dalam banyak jenis. Dalam beberapa hal ia adalah tahap tertentu akal, seperti terkait pernyataan logika. Dalam hal lain ia adalah asumsi akan maujud luar, seperti rujukan bagi pernyataan mustahil bersatunya kontradiksi. Dalam hal ada kaitan kebetulan dengan dunia luar, seperti saat dikatakan, “Sebab bagi tiadanya akibat adalah tiadanya sebab”, maka disimpulkan bahwa kaitan sebab akibat sebenarnya adalah wujud sebab dan wujud akibat, dan kebetulan kaitan itu juga terjadi pada ketiadaannya. (Dari Philosophical Instructions, oleh M.T Misbah Yazdi)



Kamis, 12 November 2020

14. Pengetahuan Tak Langsung

 Telah kita pahami pengetahuan langsung adalah mendapati fakta tanpa perantara, dan karenanya tak ada celah bagi ragu atau tanya tentang validnya. Namun kita sadar bahwa cakupan pengetahuan langsung terbatas dan secara mandiri tak bisa menyajikan solusi bagi sekian banyak soalan epistemologi. 


Jika tak ada cara memastikan fakta-fakta melalui pengetahuan tak langsung, secara logis kita tak akan bisa membenarkan teori  keilmuan apapun. Bahkan, prinsip-prinsip dasar swabukti bisa kehilangan kepastian dan keniscayaannya, dengan hanya menyisakan label swabukti dan niscaya. Karenanya, kita perlu terus berupaya mengevaluasi pengetahuan tak langsung dan beroleh kriteria-kriteria validnya. Untuk itu berikut kita akan mengulas berbagai macam pengetahuan tak langsung. 


Gambaran dan Pembenaran


Logikawan membagi pengetahuan menjadi dua: gambaran (tasawwur) dan pembenaran (tasdiq). Mereka bahkan mendefinisi konsep pengetahuan sebagai pengetahuan tak langsung. Memperluas batasnya hingga mencakup pula gambaran sederhana. 


Makna harfiah tasawwur adalah "membentuk gambaran" dan "beroleh bentuk". Adapun bagi logikawan artinya penampakan akli sederhana yang bersifat menyingkap sesuatu di luar dirinya. Semisal gambaran akli Gunung Damavand dan konsep gunung. 


Makna harfiah tasdiq adalah "menganggap valid" dan "mengiyakan". Sementara bagi logikawan dan filosof maksudnya serupa, dan tampaknya multitafsir: 


a. Pernyataan logika yang secara garis besar mencakup subjek, predikat, dan penilaian berupa penyatuan [pernyataan positif, contoh: Saya ada.]; 


b. Penilaian an sich yakni hal sederhana dan menunjukkan keyakinan orang akan menyatunya subjek dan predikat. 


Sebagian logikawan barat modern menggambarkan "pembenaran" ini sebagai berpindahnya akal dari satu gambaran ke gambaran lain bersandar pada pola keterkaitan gambaran. Namun pahaman ini keliru, karena pembenaran tak selalu ada pada keterkaitan gambaran. Tidak pula keterkaitan gambaran harus ada pada setiap pembenaran. Tepatnya, pembenaran adalah penilaian, dan inilah beda sebenarnya antara proposisi dari sekian gambaran yang saling berjajar tersemat di akal tanpa kaitan satu sama lain. 


Unsur-unsur Pernyataan


Kita tau "pembenaran" sebagai bentuk penilaian adalah hal sederhana, namun sebagai bentuk pernyataan ia tersusun atas beberapa unsur. Ada beda pendapat tentang unsur-unsur penyusun pernyataan logika. 


Karena menilik satu-satu sekian pendapat tersebut akan menjadikan bahasan kita panjang lebar, di sini kita akan melihat sekilas saja. Sebagian orang bilang bahwa pernyataan predikatif terdiri atas dua unsur: subjek dan predikat. Sebagian lain menambahkan kaitan antara kedua unsur tadi sebagai unsur ketiga. Yang lain lagi menambahkan penilaian akan ada tidaknya kaitan sebagai unsur keempat. 


Sebagian membedakan pernyataan positif dan negatif dan bilang bahwa pada pernyataan negatif tidak ada penilaian, lebih tepatnya mereka katakan sebagai negasi penilaian. Yang lain menyangkal adanya kaitan pada "pernyataan keberadaan" (halliyyah basitah). Pernyataan keberadaan adalah pernyataan logika yang menyatakan subjek sebagai ada, di dunia luar. 


Tidak pula dibilang ada kaitan pada predikasi primer, yakni pernyataan yang subjeknya semakna dengan predikat. Seperti "manusia adalah hewan berakal." 


Bagaimanapun, tak satupun pernyataan logika tanpa kaitan atau penilaian. Sebagaimana kami katakan, pembenaran adalah penilaian, sementara penilaian adalah mengenai kedua unsur pernyataan. Dan, kadang kita mesti membedakan pernyataan bersudut filosofis dari pernyataan bersudut ontologis. 


Pembagian Gambaran Akli


Gambaran akli kadang dibedakan menjadi dua: umum [universal] dan khusus [partikular]. "Gambaran umum" adalah konsep yang dapat mewakili banyak hal atau banyak orang. Misal konsep "manusia" yang dapat diterapkan pada sekian juta sosok. "Gambaran khusus" adalah bentuk akli yang hanya mewakili satu wujud. Misal bentuk akli Sokrates. 


Masing-masing gambaran akli, baik umum maupun khusus, lebih jauh dapat dibagi sebagai berikut. 


Gambaran inderawi: fenomena sederhana dalam jiwa yang dihasilkan dari efek-efek relasi antara indera dengan realitas material. Misal gambar pemandangan yang dilihat dengan mata, atau suara yang didengar dengan telinga. Keberlangsungan gambaran ini bergantung pada hubungan langsung dengan dunia luar, setelah kontak dengan dunia eksternal terputus ia segera menghilang (sekitar sepersepuluh detik). 


Gambaran imajiner: fenomena khas sederhana dalam jiwa yang dihasilkan dari gambaran inderawi, dan dari kaitan dengan dunia luar. Namun keberlangsungannya tak bergantung pada kaitan langsung dengan dunia luar. Misal gambaran mental dari pemandangan sebuah taman yang tetap ada dalam benak meski setelah mata tertutup, dan dapat diingat kembali bahkan setelah bertahun kemudian. 


Gambaran perasaan: banyak filosof menyebutkan gambaran akli tertentu yang terkait dengan makna-makna khas. Ia dicontohkan dengan perasaan benci sebagian hewan terhadap sebagian hewan lain, yang memicu mereka untuk pergi menjauh. Sebagian filosof memperluas istilah ini hingga mencakup sebagian besar makna khusus, termasuk perasaan suka dan benci pada manusia. 


Tentu, konsep umum perasaan suka dan benci adalah gambaran akli yang umum (universal). Itu semua tak bisa dihitung sebagai jenis gambaran khusus (partikular). 


Kesadaran akan perasaan suka dan benci tertentu dalam diri si subjek. Perasaan suka atau benci yang ia rasakan terhadap dirinya atau selainnya, adalah benar-benar sejenis pengetahuan langsung tentang kualitas jiwa. Maka, kita tak dapat memandangnya sebagai pengetahuan tak langsung. 


Perasaan kita terkait kebencian orang lain, tak seperti itu, bukanlah perasaan tanpa perantara. Ia adalah pembandingan keadaan yang ia dapati dalam dirinya lalu dialamatkan kepada orang lain dalam kondisi serupa. Adapun penilaian tentang kesadaran hewan-hewan, tampaknya perlu pembahasan berbeda yang tak mungkin kita sertakan di sini. 


Yang dapat dipandang sebagai gambaran khusus adalah gambaran akli yang dihasilkan dari kondisi-kondisi jiwa, yang mungkin diingat kembali. Sebagaimana gambaran imajiner terkait gambaran inderawi, semisal mengingat rasa takut spesifik yang hadir di saat tertentu. Atau, perasaan suka spesifik yang ada di momen tertentu. Kadang gambaran perasaan ini dinyatakan tidak terkait dengan realitas manapun dan disebut "fantasi". 


Gambaran Umum Akli (Universal)


Telah kita lihat bahwa gambaran akli dapat dibagi ke dua bagian, umum (universal) dan khusus (partikular). Gambaran akli yang telah kita bahas sejauh ini adalah gambaran khusus. Gambaran umum, yakni "konsep-konsep akli" atau "mafhum" adalah pusat perdebatan filosofis yang penting, pun sejak dulu menjadi topik diskusi. 


Dari zaman kuno ada pandangan bahwa pada dasarnya tak ada konsep yang berlaku umum. Istilah-istilah yang digunakan untuk menunjuk konsep umum hakikatnya adalah semacam istilah ambigu yang menunjuk banyak hal. Misal, istilah "orang" yang digunakan untuk menunjuk banyak sosok adalah seperti nama diri yang digunakan oleh beberapa keluarga untuk menamai anak-anaknya, atau seperti sebuah nama keluarga yang berlaku pada semua anggotanya. 


Para pendukung teori ini dikenal sebagai "nominalis". Pada akhir abad pertengahan William dari Ockham condong pada teori ini, kemudian diiyakan oleh Berkeley. Di zaman modern, positivis dan beberapa aliran lain dipastikan berpegang pada posisi serupa. 


Teori lain yang serupa dengan itu adalah bahwa gambaran umum adalah gambaran khusus yang mengambang, yakni beberapa bagian yang khusus dan spesifik dapat diabaikan sehingga bisa sesuai dengan hal atau sosok lain. Misal, gambaran kita tentang sosok tertentu dapat diterapkan kepada saudaranya dengan menghapus beberapa bagian. Dengan menghapus lebih banyak bagian lain ia bahkan dapat diterapkan pada lebih banyak orang. Demikian seterusnya gambaran akli jadi lebih umum dan berlaku pada jauh lebih banyak orang hingga akhirnya bahkan dapat diterapkan pada hewan-hewan, atau bahkan tanam-tanaman dan bebatuan.  Seperti bayangan yang nampak dari kejauhan, karena samar ia dapat sesuai dengan gambaran batu, pohon, hewan, atau orang. Inilah sebabnya pada kilasan pertama kita ragu apakah itu orang atau yang lain. Semakin mendekat dan semakin jelas kita lihat, semakin terbatas cakupan dan kemungkinannya. Hingga akhirnya, kita mendapati sosok atau hal yang tertentu. 


Hume meyakini semacam itu tentang gambaran umum, dan banyak lagi yang berpandangan demikian tentang gambaran umum (universal). 


Di sisi lain ada filosof kuno, seperti Plato. Mereka berkeras akan keberadaan konsep umum, dan bahkan memandangnya memiliki semacam wujud mandiri di luar lingkup ruang-waktu. Gambaran umum (universal) adalah semacam pengamatan terhadap wujud nonmateri dan model akli (gambaran akli Platonis). 


Teori ini telah ditafsirkan dalam berbagai cara dan banyak teori lain bersumber darinya. Yakni, sebagian berpandangan bahwa jiwa manusia sebelum beroleh tubuh telah melihat hakikat akli di alam immateri. Setelah beroleh tubuh ia lupa.  Dengan melihat sosok-sosok material, jiwa diingatkan lagi kepada hakikat-hakikat immateri. Pahaman akan gambaran umum (universal) adalah pengingatan ini. Adapun mereka yang tak mengakui wujud jiwa sebelum melekat pada tubuh, memahami pahaman inderawi sebagai alat bagi diri mempersiapkan pengamatan wujud immateri. 


Pengamatan yang didapat dengan kemampuan ini adalah pengamatan dari kejauhan. Pahaman akan gambaran umum adalah pengamatan serupa akan wujud-wujud nonmateri dari kejauhan. Ia berbeda dari penyingkapan mistis, yang didapat dengan persiapan tertentu, teramati dari dekat. 


Sebagian filosof Islam, seperti Mulla Sadra dan Allamah Tabatabai mengiyakan tafsiran ini. 


Teori paling mafhum akan gambaran umum adalah bahwa itu adalah konsep akli khas yang disadari dengan label keumuman dalam tingkatan (martabah) benak tertentu. Bahkan benak sendiri ada yang mendefinisi sebagai alat memahami gambaran umum. Teori ini dialamatkan kepada Aristoteles dan diiyakan oleh hampir semua filosof Islam. 


Teori yang pertama dan kedua berdampak pada penyangkalan pahaman akli. Itu merupakan titik tumpu penolakan metafisika dan peremehan diskusi literatif serta analisis kebahasaan. Karenanya penggalian lebih dalam tentang hal ini penting, untuk beroleh pondasi yang kokoh bagi diskusi kita kemudian. 


Tentang Gambaran Umum


Nominalis berpandangan bahwa gambaran umum melibatkan semacam ekuivokasi atau semacamnya sehingga bisa mengacu kepada banyak hal. Karenanya, untuk menjawab mereka dengan pasti perlu kiranya  penjelasan tentang ambiguitas (mustarak lafzi) dan makna umum (mustarak maanawi). 


Ambiguitas (mustarak lafzi) adalah ungkapan tertentu yang digunakan untuk beberapa objek berbeda. Ia terjadi saat satu kata memberikan beberapa penunjukan atau digunakan untuk merujuk makna-makna berbeda melalui banyak kesepakatan. Seperti kata "spring" yang digunakan untuk pegas, musim, mata air, dan lompatan. 


Adapun makna umum (mustarak maanawi), ia terjadi saat satu ungkapan oleh satu kesepakatan merujuk kepada sisi umum beberapa kasus. Dengan satu makna ia menunjukkan kesemuanya. Beberapa perbedaan terpenting ambiguitas dengan makna umum adalah seperti berikut.


1. Ambiguitas perlu banyak kesepakatan dasar, sementara makna umum perlu hanya satu darinya. 


2. Makna umum mungkin memiliki sosok atau objek sejumlah tak terbatas, sementara ambiguitas hanya mungkin memiliki sejumlah tertentu makna. 


3. Makna umum adalah satu makna lazim yang dipahami tanpa pembandingan, sementara ambiguitas melibatkan beberapa makna tujuan yang perlu perujukan tertentu [yang sesuai]. 


Berdasar pembedaan tersebut mari kita simpulkan diskusi kita tentang ungkapan seperti "manusia", "hewan", dst. Apakah masing-masing ungkapan ini dapat dipahami punya satu makna tanpa perlu penjelasan tentang perujukannya? Apakah beberapa makna hadir dalam akal siapapun saat mendengarnya? Apakah tak ada lagi pertanyaan tentang perujukan mana yang dimaksud oleh pembicara? 


Tak diragukan, kita tak menganggap Muhammad, Ali, Hasan, dan Husain sebagai makna kata "manusia". Karenanya, saat kita mendengar ungkapan "manusia" ini kita tak ragu tentang kewajaran ungkapan ini, yakni tak menanyakan lagi tentang maknanya. Bahkan kita tau bahwa ungkapan ini punya satu makna yang berlaku umum bagi sosok-sosok ini, juga selainnya. Itu bukanlah ambiguitas. 


Sekarang mari lihat apakah ungkapan semacam ini punya  keterbatasan jumlah objek. Atau ia berlaku bagi sejumlah tak terbatas objek? Jelas bahwa makna ungkapan ini tidak punya semacam batasan jumlah objek, yakni bisa berlaku pada sejumlah tak terbatas objek. 


Kemudian, kita lihat bahwa tak satupun dari ungkapan manapun yang punya sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan. Tak seorangpun bisa membayangkan di benaknya sejumlah tak terbatas figur, sementara menentukan sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan untuk satu ungkapan tertentu. Di sisi lain, kita lihat bahwa kita sendiri bisa menentukan satu ungkapan sedemikian sehingga ia selaras dengan sejumlah tak terbatas figur. Demikianlah, makna umum (universal) tak perlu sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan. 


Kesimpulannya, gambaran umum adalah istilah dengan makna umum, bukan istilah yang ambigu. 


Mungkin ada yang menyangkal bahwa ungkapan tersebut tidaklah cukup untuk menjelaskan mustahilnya banyak kesepakatan penunjukan, karena mungkin saja seorang yang menunjuk membayangkan satu hal (dan bukan sejumlah tak hingga hal) di benaknya, dan memakai satu ungkapan untuk semua figur yang serupa. 


Kita tau bahwa orang ini harus membayangkan makna "semua" dan "figur" dan "serupa" untuk membuat sebuah konvensi (ketentuan). Maka pertanyaannya kembali kepada bagaimana ungkapan ini ditujukan. Bagaimana itu bisa diterapkan kepada sejumlah tak terbatas kasus? Kita tak punya pilihan selain membenarkan bahwa benak punya kemampuan menampung konsep yang berlaku pada sejumlah tak terbatas kasus. Karenanya, mustahil konsep demikian dipakai untuk sejumlah tak terbatas kasus di satu waktu, karena ini tak terjangkau oleh manusia manapun. 


Tanggapan atas Keraguan


Nominalis, dalam menyangkal adanya gambaran umum (universal), memunculkan keraguan berikut: setiap gambaran yang muncul dalam satu benak adalah gambaran yang khusus dan spesifik, yang beda dari gambaran serupa pada benak lain. Bahkan jika seorang menyadari gambaran yang sama pada waktu lain, itu sebenarnya gambaran yang lain. Bagaimana dikata bahwa gambaran umum ada dalam benak dengan label keumuman dan ketunggalan? 


Keraguan ini berasal dari kebingungan antara gambaran dengan wujud, yakni bingung antara prinsip logika dengan prinsip filsafat. Kita tak ragu bahwa setiap gambaran, sejauh itu ada, adalah khusus, dalam bahasa filosofis "wujud adalah setara dengan kekhususan". Saat dibayangkan lagi, ia akan punya wujud lain, namun keumuman dan ketunggalan aklinya bukanlah dalam hal wujud melainkan dalam hal ia akli, yakni dalam hal mewakili berbagai figur dan objek. 


Saat benak kita memandang satu gambaran dari sudut fungsi, bahwa ia mencerminkan, dan menilai fungsi tersebut terkait berbagai objek, nilai keumuman terabstraksi darinya. Sebaliknya, saat wujudnya disadari ada dalam akal, itu adalah contoh kekhususan. 


Sekilas Pandangan Lain


Mereka yang menduga gambaran umum akli sebagai gambaran khusus yang samar, pun makna umum menunjuk pola samar dan lemah yang sama [seolah kekhususan telah dipisahkan darinya], tak akan menemukan hakikat makna umum. 


Cara terbaik menunjukkan kesalahan mereka adalah memperhatikan makna yang tak punya wujud di dunia luar, seperti "nonwujud" atau "mustahil". Atau, yang tak punya wujud material atau inderawi, seperti makna Tuhan, malaikat, dan ruh. Atau, yang sesuai dengan wujud material dan nonmaterial sekaligus, seperti makna sebab dan akibat. Makna-makna tersebut tak bisa dikatakan pola-pola yang lemah. Juga, terkait makna-makna yang benar untuk hal-hal berlawanan, seperti warna, yang berlaku untuk hitam dan putih. Tak bisa dikatakan warna putih demikian samar sehingga ia menjadi bentuk absolut warna yang juga benar untuk hitam. Atau, bahwa warna hitam menjadi demikian lemah dan pucat hingga mungkin berlaku untuk putih. 


Platonis juga beroleh masalah, karena kebanyakan makna, seperti nonwujud dan mustahil, tak punya model mafhum, sehingga mereka tak mungkin berkeras bahwa persepsi kata umum adalah pengamatan kepada semacam wujud akli dan nonmaterial. Karenanya, posisi yang tepat adalah yang dipegang oleh kebanyakan filosof Islam dan rasionalis. Yakni, kita punya kemampuan kognitif khas yang disebut akal, berfungsi menangkap gambaran umum mental, entah itu wujud inderawi atau tidak.


(Dari Philosophical Instructions, oleh M.T. Misbah Yazdi)


Kamis, 04 Juni 2020

13. Pembagian Pengetahuan

Mencari Batu Pijakan Pengetahuan


Disebut dalam bahasan sebelumnya bahwa sebagian pengetahuan dan persepsi sepenuhnya pasti. Bahkan, sekian argumen yang diajukan kaum skeptis untuk membenarkan pandangan-pandangan menyimpang mereka, yang bersandar pada penyangkalan mutlak pengetahuan, justru menunjukkan dan mengharuskan adanya pengetahuan. Namun di sisi lain, kita sadar bahwa tak semua "pengetahuan" dan keyakinan kita benar atau sesuai fakta, lebih jauh, dalam banyak hal kita sendiri menemukan sekian kesalahan. 

Membandingkan dua sisi ini, lalu muncul soalan tentang apa saja yang membedakan sekian macam persepsi manusia. Apa-apa persepsi yang pasti dan luput dari kesalahan, apa-apa pula yang bisa salah dan boleh diragukan. Bagaimana memilahnya. 

Mafhum bahwa Descartes coba meramu filsafat yang solid dalam memerangi skeptisisme, ia menggunakan ketakpastian ragu itu sendiri sebagai batu pijakan filsafat. Lebih jauh, adanya "diri" si peragu dan pemikir adalah kemestian yang ia sandarkan pada pondasi itu. Selain itu, ia mengajukan kejelasan dan keterbedaan sebagai syarat bagi kepastian. Ia jadikan keduanya sebagai patokan dalam memilah benar dari ide-ide yang salah. Ia juga coba menerapkan pendekatan matematis pada filsafat, yakni dalam mengenalkan logika yang baru. 

Sekarang kita tak dalam posisi menilai filsafat Descartes, tak pula melihat sejauh mana ia berhasil dalam target pribadinya. Kami ingin menekankan bahwa memakai keraguan sebagai titik tolak perdebatan dengan skeptis cukuplah masuk akal. Ini seperti nampak pada bahasan terdahulu. Namun, jika ada yang membayangkan bahwa tak ada apapun yang cukup jelas dan pasti, hingga adanya si peragu harus disimpulkan dari keraguan, ini keliru. Adanya "diri" yang sadar dan berpikir mestinya paling tidak sejelas dan sepasti adanya ragu itu sendiri, yang merupakan salah satu keadaan diri. 

Demikian pula, jelas dan keterbedaan tak bisa dipandang sebagai syarat umum dalam memilah ide benar dari ide yang salah. Hal ini karena syarat ini sendiri tak cukup jelas dan terbedakan tak pula bebas dari multitafsir. Bukan pula patokan yang pokok dan paling signifikan, wajar ia tak mampu menguak rahasia pastinya beberapa macam persepsi. Bahkan, sekian pendapat Descartes dapat didebat panjang lebar. Namun, evaluasi demikian akan di luar kajian kita sekarang. 

Pembagian Mendasar Pengetahuan


Pembagian mendasar pengetahuan yang perlu dipertimbangkan adalah beda dua hal ini:

1) pengetahuan yang ditau langsung dari esensi/zat objek, dalam hal ini adanya objek pengetahuan secara nyata dan asli tersingkap bagi si penerima atau si tau, 

2) pengetahuan yang adanya objek secara eksternal tak teramati atau tersaksikan "langsung" oleh si tau.  Alih-alih, ia menyadarinya melalui perantara sesuatu yang mewakilinya, yakni bentuk akli atau konsep aklinya. 

Macam pertama disebut pengetahuan dengan kehadiran atau pengetahuan langsung (ilm al hudhuri), yang kedua disebut pengetahuan tak langsung (ilm al husuli). 

Pembagian pengetahuan ke dalam dua jenis ini masuk akal, menyeluruh, dan khas. Dengan cara ini tak ada posisi pengetahuan ketiga yang dapat menyanding keduanya. Yakni tak ada pengetahuan selain dua jenis pengetahuan ini. Ada perantara antara sosok yang tau dengan esensi objek yang ditau, dengannya persepsi diperoleh, inilah pengetahuan "tak langsung". Atau, jika tak ada keperantaraan, inilah pengetahuan "langsung". Selanjutnya, dua macam pengetahuan ini pada manusia kiranya perlu dijelaskan. 

Pengetahuan Langsung


Pengetahuan dan persepsi yang dipunya setiap orang tentang dirinya sendiri sebagai wujud yang menyadari adalah satu pengetahuan yang tak terbantah. Sofis sekalipun, yang memandang manusia sebagai patokan ukur semua hal, tak membantah adanya manusia beserta pengetahuan pribadi yang dipunyainya. 

Tentu manusia, yakni "diri", adalah dia yang merasa, yang berpikir. Dia yang dengan penyaksian internal menyadari diri sendiri, tidak melalui sensasi atau pengalaman, tidak pula melalui bentuk dan konsep akli. Yakni, ia sendirilah pengetahuan itu, dalam pengetahuan dan persepsi ini tak ada kejamakan atau beda antara pengetahuan, si tau, dengan objek yang ditau. Seperti disebut sebelumnya, "ketunggalan si tau dan yang ditau" adalah contoh paling sempurna tentang "hadirnya objek yang ditau pada subjeknya". 

Adapun, persepsi manusia tentang warna, bentuk, dan sifat-sifat lain tubuh tidaklah demikian. Ia diperoleh dengan penglihatan, sentuhan, dan indera-indera lain, juga dengan bentuk-bentuk akli. Juga, bahwa di dalam tubuh ada banyak sekali organ internal yang tak kita sadari langsung. Namun, kita mengenalnya melalui sekian tanda dan efek, atau kita menyadarinya dengan belajar anatomi, fisiologi, dan ilmu biologi lain. 

Demikian, pengetahuan tentang diri adalah sederhana dan tak terbagi, tak semacam proposisi, "saya adalah", atau "saya ada", yang tersusun dari beberapa konsep. Jadi, maksud "mengetahui diri" adalah kesadaran yang sangat intuitif, sederhana, dan langsung akan jiwa-jiwa kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran inilah ciri mendasar "mengetahui diri". Akan dibuktikan pada tempat yang tepat, bahwa jiwa adalah nonmateri, pun bahwa setiap wujud nonmateri mengetahui akan dirinya. Topik-topik ini terkait ontologi dan psikologi filosofis, tentunya bahasan ini bukanlah tempat untuk mengulasnya. 

Pengetahuan kita akan keadaan, kecenderungan, dan hasrat psikologis kita sendiri adalah juga contoh pengetahuan langsung. Saat takut, seketika kita tau akan keadaan psikologis ini tanpa perantara apapun, tanpa media bentuk atau konsep akli apapun. Saat menyukai seorang atau sesuatu, kita mendapati kecenderungan ini dalam diri sendiri. Saat memutuskan untuk melakukan satu hal, kita tau akan keputusan dan niat kita. Takut akan sesuatu, atau suka dengan sesuatu, atau memutuskan melakukan sesuatu tanpa tau akan rasa takut, rasa suka, atau niat adalah omong kosong. Dengan cara yang sama, adanya ragu atau dugaan adalah tak terbantah. Tak seorangpun bisa mengklaim ia tak tau tentang keraguannya sendiri, tidak pula bahwa ia ragu akan adanya keraguan dirinya. 

Contoh lain pengetahuan langsung adalah pengetahuan tentang kemampuan perseptif [berpikir, merenung, dst] dan kemampuan motorik. Kesadaran diri akan kemampuannya berpikir dan mengkhayal atau akan berbagai kemampuan motorik merupakan pengetahuan dengan kehadiran dan langsung. Ini semua tak ditau melalui bentuk dan konsep akli. Karena itu seorang tak pernah salah dalam penempatannya. Ia tak pernah menggunakan kemampuan perseptif menggantikan motorik, tak pula menggunakan kecakapan bergerak menggantikan berpikir akan sesuatu. 

Di antara hal-hal yang ditau dengan kehadiran adalah bentuk dan konsep akli, yang ditau tanpa melalui perantara bentuk dan konsep akli lainnya. Jika pengetahuan akan apapun harus diperoleh melalui bentuk dan konsep akli, manusia mestinya tau setiap bentuk akli melalui bentuk akli yang lain. Pengetahuan akan bentuk akli tersebut juga melalui bentuk akli yang lain lagi. Dengan begini, untuk setiap hal yang anda tau anda harus mengenal sejumlah tak terbatas hal lain dan harus punya bentuk akli sebanyak tak terbatas. 

Mungkin ada yang bertanya, jika pengetahuan langsung adalah hadirnya objek pengetahuan itu sendiri, dan pengetahuan tak langsung adalah yang berperantara, maka bentuk-bentuk akli adalah pengetahuan langsung sekaligus tak langsung. Bentuk-bentuk akli ini di satu sisi dikenal secara langsung, yakni pengetahuan dengan kehadiran. Di sisi lain mereka dinyatakan sebagai pengetahuan tak langsung akan hal-hal eksternal. Bagaimana mungkin satu pengetahuan adalah langsung sekaligus tak langsung? 

Bentuk-bentuk akli bersifat mencerminkan dan mewakili objek eksternal, dan memang mereka adalah sarana untuk mengenal hal-hal di luar diri. Dengan begini dianggaplah mereka sebagai contoh pengetahuan tak langsung. Dari sisi faktual bahwa mereka hadir di hadapan diri, dan diri mengetahui mereka secara langsung, dihitunglah mereka sebagai pengetahuan langsung. Dua sisi ini beda satu sama lain: di satu sisi mereka hadir yakni mereka secara langsung disadari, di sisi lain mereka tak langsung yakni mewakili ihwal eksternal. 

Lebih jauh tentang hal ini, mari cermati analogi cermin. Kita bisa mengamati satu cermin dari dua cara pandang berbeda. Dari satu cara pandang katakan ada orang yang ingin membeli cermin, ia mengamati kedua sisinya ada yang cacat atau tidak. Dari cara pandang lain ada orang yang memakai cermin, melihat cermin untuk menatap wajah, meski arah pandang adalah pada cermin, perhatiannya tertuju pada wajah bukan pada cermin. 

Bentuk-bentuk akli dapat secara langsung disasar oleh diri, inilah kita bilang mereka sebagai pengetahuan langsung. Mereka dapat pula menjadi sarana untuk mengenal berbagai hal dan sekian sosok luar, di sini kita bilang mereka sebagai pengetahuan tak langsung. Perlu dicatat bahwa maksud penjelasan ini bukanlah memisahkan kedua kasus itu dalam waktu; melainkan pembedaan dua sudut pandang saja. Saat konsep akli adalah contoh pengetahuan tak langsung akan objek luar, tak mesti bahwa ia tak disadari secara langsung, tak mesti ia kehilangan sisi kehadirannya. 

Sahihnya Pengetahuan Langsung


Dari keterangan tentang pengetahuan langsung dan pengetahuan tak langsung serta beda keduanya, menjadi jelas mengapa pengetahuan tentang diri, rasa, dan contoh lain pengetahuan langsung bersifat pasti. Ini karena fakta itu sendiri yang teramati. Sebaliknya, pada pengetahuan tak langsung, bentuk dan konsep akli berperan sebagai perantara, dan mungkin tidak  persis serupa dengan fakta dan sosok luarnya. 

Atau, salah persepsi dapat terjadi saat ada perantara antara si tau dengan entitas yang ditau, lalu ada pengetahuan diperoleh. Dalam hal ini mungkin ada yang bertanya, apakah bentuk atau konsep yang menengahi si tau dengan objek yang ditau mewakili objek tersebut secara tepat dan persis serupa dengannya atau tidak. Kecuali terbukti bahwa bentuk dan konsep akli tepat sesuai dengan objek yang ditau, keyakinan akan sahihnya persepsi tak akan didapat. 

Namun, jika sesuatu atau sosok yang ditau hadir secara langsung bagi si tau tanpa perantara apapun, atau bahkan menyatu dengannya, maka tak ada celah kekeliruan, tak bisa dipertanyakan apakah pengetahuan itu sesuai atau tidak dengan objeknya, karena di sini pengetahuannya adalah objek itu sendiri. 

Sejauh ini pahaman tentang persepsi yang sahih dan keliru telah jelas. Sahih artinya persepsi yang sesuai dengan fakta dan sepenuhnya mengungkapkannya. Keliru artinya keyakinan yang tak sesuai dengan fakta. 

Pengetahuan Tak Langsung yang Serempak dengan Pengetahuan Langsung


Ada satu hal, akal selalu memotret apa yang hadir seperti mesin otomatis. Darinya ia mendapat bentuk dan konsep khas lalu menganalisa dan menafsirkannya. Contoh, saat seorang merasa takut, akalnya akan memotret kondisi takut itu, yang akan dapat diingat kembali setelahnya. Selanjutnya ia menangkap konsep umum darinya dan dengan menyematkan konsep lain ia menampilkan pernyataan (proposisi) seperti "saya takut", atau "saya punya rasa takut", atau "takut ada pada saya". Ia menafsirkan hadirnya kondisi psikologis ini serta merta berdasar pengetahuan sebelumnya dan mencoba cari sebabnya. 

Segenap proses akal ini, yang terjadi sangat cepat, beda dari kondisi takut dan pengetahuan langsungnya. Dan, keserempakannya dengan pengetahuan langsung sering jadi sumber kekeliruan. Orang kadang menduga bahwa karena ia mendapati rasa takut dan pengetahuan langsung iapun tau sebabnya dengan pengetahuan langsung. Nyatanya apa yang ditangkap dengan pengetahuan langsung adalah sederhana, tanpa bentuk atau konsep akli sama sekali, bebas pula dari tafsir bagaimanapun, makanya itu tak mungkin salah. Sebaliknya, tafsir yang seketika ada adalah dari persepsi tak langsung, yang pada dasarnya tak selalu benar dan tak selalu sesuai fakta. Menjadi jelas kemudian mengapa dan bagaimana kesalahan-kesalahan terjadi pada sebagian pengetahuan tak langsung. 

Contoh: orang merasa lapar dan langsung beranggapan bahwa ia perlu makanan. Sementara kadang yang ada adalah hasrat yang keliru, yakni ia tidak benar-benar perlu makanan. Apa yang sebenarnya ditangkap oleh pengetahuan langsung yang pasti benar adalah rasa khasnya. Yang itu seketika diikuti oleh tafsir akli, berdasar pembandingan dengan rasa-rasa semisal, itu disebabkan oleh perlu makanan. 

Pembandingan ini tentu saja tidak selalu tepat dan karenanya sebuah kesalahan dapat terjadi dalam menentukan sebab dan dalam memberi tafsiran aklinya. Berbagai kesalahan yang terjadi dalam penyingkapan mistis adalah semacam ini. Makanya penting menentukan pengetahuan langsung secara cermat dan membedakannya dari tafsiran akli yang menyertai, agar tak keliru seperti tersebut. 

Gradasi Pengetahuan Langsung


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengetahuan langsung tidaklah seragam dalam intensitasnya. Pengetahuan langsung ada kalanya hadir cukup kuat dan membekas pada kesadaran manusia, ada kalanya sangat lemah dan ringan sehingga orang setengah menyadari atau bahkan tak menyadarinya sama sekali. 

Beda tingkatan pengetahuan langsung kadang disebabkan bedanya tingkat wujud si tau. Jika diri si tau lemah dalam gradasi wujud, maka pengetahuan langsungnya juga lemah dan ringan. Jika tingkatan wujudnya lebih sempurna, pengetahuan langsungnya akan lebih sempurna dan lebih disadari. Penjelasannya tentu bergantung pada paparan tentang gradasi wujud dan gradasi kesempurnaan diri, yang mesti dibuktikan di ranah lain filsafat. Sementara akan kita terima saja, berdasar dua prinsip ini, bahwa pengetahuan langsung bisa kuat dan bisa lemah. 

Pengetahuan langsung akan kondisi psikologis dapat pula kuat dan lemah. Contoh: orang sakit, yang menangkap rasa sakit dengan pengetahuan langsung, saat mengalihkan perhatian kepada seorang teman akrab, tak lagi merasakan sakit. Sebaliknya saat sepi, khususnya di malam larut saat tak ada pengalih perhatian, ia merasakan sakit yang lebih kuat, sebabnya adalah kuatnya perhatian. 

Beda tingkat pengetahuan langsung bisa berdampak pada beda tafsiran akli sesuai kuat lemahnya. Contoh: meski diri pada tingkat paling rendah punya pengetahuan langsung akan dirinya, tak mustahil karena lemahnya pengetahuan ini ia menduga bahwa hubungan antara diri dan tubuhnya adalah identitas. Ia mungkin menyimpulkan bahwa hakikat diri adalah semata tubuh material atau fenomenanya. Namun, saat pengetahuan langsung yang hadir lebih sempurna, yakni saat hakikat si diri tersempurnakan, kesalahan demikian tak akan ada lagi. 

Pada tempat yanh sesuai akan dibuktikan bahwa manusia punya pengetahuan langsung akan Penciptanya. Namun, karena lemahnya tingkat wujud dan perhatian yang hanya tercurah pada tubuh dan hal-hal material, pengetahuan ini lalu tak tersadari. Namun, dengan menyempurnanya diri dan berkurangnya perhatian pada tubuh juga hal-hal material, serta menguatnya perhatian qalbu pada Allah Taala, pengetahuan yang ini akan mencapai tahapan terang dan tersadari hingga orang ini bilang "[Ya Allah] adakah perwujudan dari selain Anda dan bukan dari Anda?" 

(Dari Philosophical Instructions, oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi)