Selasa, 31 Oktober 2017

Beroleh manfaat alQuran

Beroleh  Manfaat  Al-Quran
Oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini

Karena  anda  telah mengenal  topik-topik dan sasaran-sasaran  sang kitab ilahiah,  seharusnya  anda bersiap  akan satu  hal  penting, dengan  melakukannya  pintu  beroleh  manfaat  al-Quran  akan terbuka  bagi anda,  jalur  menuju pengetahuan  dan hikmah akan  terbuka  lebar untuk  anda.  Yakni, memandang kitab cemerlang  ini  sebagai  kitab pendidikan, buku pelajaran yang selayaknya  anda  beroleh  manfaatnya, memandang  bahwa  tugas  andalah belajar  darinya. Belajar, mengajar,  beroleh manfaat,  dan memberi manfaat  dengan al-Quran  yang  kami  maksud bukanlah  dalam  hal  ragam  penulisan, pembentukan kalimat, dan morfologinya,  bukan pula  kefasihan dan retorikanya  atau  poin-poin keindahannya,  bukan pula  tentang cerita-cerita,  kisah-kisah, dan  episode-episodenya  dari  sudut  pandang  sejarah  untuk beroleh berita  tentang bangsa-bangsa  di  masa  lalu.  Tak  satupun  darinya  adalah  sasaran  al-Quran, bahkan  semua  itup  berada  jauh dari  sasaran  kitab  ilahiah ini.

Kenyataan bahwa  manfaat  yang kami  dapatkan dari  kitab  besar ini  sangat  sedikit  adalah  karena kami  biasanya  tidak  memandangnya  sebagai  buku pelajaran  dan pendidikan. Kami  membaca  al-Quran untuk  beroleh pahalanya.  Makanya  kami  hanya  memperhatikan  intonasi  saat  membacanya. Kami  ingin bacaan kami  sempurna  dan benar sehingga  beroleh  pahala,  lalu  kami  berhenti  pada  itu dan berpuas  diri dengannya.  Demikianlah,  kami  menghabiskan  sekira  empat  puluh  tahun usia  membaca  al-Quran tanpa beroleh manfaat  darinya, kecuali  mungkin pahala  bacaannya.  Jika  kami  benar memandang  kepada  sisi pembelajaran  dan pendidikannya,  kami  menyibukkan diri  dengan kefasihan dan pembentukan  baitbaitnya  juga  sisi-sisi  kemukjizatannya,  atau bahkan  sesuatu yang lebih tinggi, kami  menyibukkan diri dengan  sejarah-sejarah yang  dinukilnya,  kesempatan-kesempatan pewahyuan  ayat-ayatnya,  waktuwaktu  turunnya, surah mana  atau  ayat-ayat  mana  yang diwahyukan  di  Makkah dan  mana  yang diwahyukan  di  Madinah,  ragam  bacaan dan  penafsirannya  di  kalangan sunnah dan syiah,  juga  ihwal sekunder lain-lainnya  yang  sebenarnya  di  luar sasaran utama  al-Quran dan semua  itu  menyebabkan kami  terhalang  dari  al-Quran  dan mengabaikan  zikir  akan  Allah. Bahkan  para  penafsir  al-Quran kita sangat  tertarik dengan  satu atau  beberapa  dari  ihwal  yang telah disampaikan  tadi,  tanpa  membukakan pintu  pembelajaran bagi  umat  manusia.

Penulis  ini  percaya  bahwa  sampai  sejauh ini  tidak ada  tafsir  yang  telah  dituliskan untuk sang kitab Allah.  Hal  ini  karena  secara  umum,  menuliskan tafsir  satu kitab  berarti  menjelaskan  sasaran-sasaran kitab itu  dan mengarahkan perhatian  pembaca  kepada  apa  yang  ingin disampaikan  oleh penulisnya. Kitab  mulia  ini,  yang  Allah sang Mulia  nyatakan  sebagai  kitab bimbingan  dan pembelajaran, juga cahaya  jalan safir  manusia,  tafsirnya  harusnya  menunjukkan  dalam  tiap  kisahnya, atau bahkan  dalam tiap ayatnya, panduan  yang jelas  kepada  alam  gaib, menunjukkan  pula  kepada  para  pembacanya  jalan kebahagiaan,  hikmah,  dan kemanusiaan. Seorang  mufassir adalah  dia  yang  menyampaikan  kepada  kita apa  “sasaran”  dari  apa  yang  diwahyukan, bukan “kapan”  ia  diwahyukan  sebagaimana  dijelaskan  pada tafsir-tafsir yang ada.  Dalam  kisah  Adam-Hawa  dan  ihwal  mereka  dengan  iblis  misalnya,  dari  saat penciptaan  mereka  hingga  diturunkannya  mereka  ke  bumi,  kisah yang diulang oleh  Allah  beberapa  kali dalam  al-Quran, ada  banyak  sekali  hikmah  tersurat  dan tersirat  juga  peringatan-peringatan, ia  juga mengingatkan kita  akan banyak  sekali  cacat-cacat  ruhani  dan sifat-sifat  setani, juga  banyak kesempurnaan-kesempurnaan jiwa  dan pengetahuan manusia, yang  itu semua  masih kita  abaikan.

Pendek  kata, kitab  Allah adalah kitab hikmah dan akhlak, dan  satu  seruan kepada  bahagia  dan kesempurnaan. Makanya,  tafsir-tafsirnya  harusnya  juga  buku tentang  hikmah  ilahiah dan akhlak, menjelaskan sudut  pandang hikmah ilahiah  dan moral, juga  sudut-sudut  lain  dari  seruan kepada bahagia. Pembedah al-Quran  yang  mengabaikan  poin-poin ini,  menyepelekannya  atau  tak menyematkan pentingnya  hal  itu,  pada  hakikatnya  mengabaikan sasaran al-Quran dan tujuan pokok pewahyuan  kitab-kitab  suci  dan pengutusan  para  rasul. Ini  kesalahan  fatal  yang menghalangi  umat manusia  selama  berabad-abad dari  beroleh  manfaat  al-Quran agung, dan itu  memblokir  jalan pembimbingan di  hadapan mereka.  Kita  harusnya  belajar sasaran  pewahyuan  al-Quran— kesampingkan dulu  sudut-sudut  pandang intelektual  dan argumentatif,  yang coba  menunjukkan  sasaran al-Quran dengan jalannya  masing-masing—dari  al-Quran sendiri.  Penulis  buku pastinya  lebih  tahu sasaran yang  ia  maksud. Karena  itu,  mari  kita  tengok  sekilas  pada  apa  yang  disampaikan oleh  sang Penulis  kitab  ini  ihwal  al-Quran. Dia  bilang  “Itulah  sang kitab, tiada keraguan  di  dalamnya, panduan  bagi  kaum  bertakwa,”  (al-Quran, 2:2) Dia  menggambarkan kitabNya  sebagai  kitab panduan.  Dalam  satu surah pendek Dia  mengulangi  hal  itu dengan  “Dan  nyata telah  Kami mudahkan  al-Quran  untuk  zikir, maka adakah  sebagian  yang peduli?”  (al-Quran, 54:17) Dia berkata  “...Dan  Kami  turunkan  kepada anda sang zikir  untuk  anda menjelaskan  kepada umat manusia apa yang diturunkan  untuk  mereka dan  mudah-mudahan  mereka merenungkan.”  (alQuran, 16:44)  juga  “Kitab  yang diturunkanNya kepada anda, terberkati, untuk  mereka renungi ayat-ayatnya, dan  supaya merenungkan  kaum  yang paham.”  (al-Quran, 38:29)  juga  banyak  ayat lain, yang penyebutannya  akan menjadikan panjang lebar.

Pendapat  kami  ini  bukan bermaksud mengkritik tafsir-tafsir  yang ada,  karena  masing-masing penulisnya  telah menanggung banyak  kepayahan  dan berupaya  dengan keras  untuk  menulis  buku tafsirnya,  semoga  Allah  memberkati  mereka  dan memberi  mereka  pahala  yang  baik.  Niatan kami adalah bilang bahwa   pintu beroleh  manfaat  dari  kitab  ini  harus  dibuka  di  hadapan umat  manusia,  yang itu  adalah satu-satunya  yang mengarahkan kepada  Allah dan satu-satunya  yang mendidik  jiwa-jiwa dengan  adab-adab  dan hukum-hukum  ilahiah, sarana  terbaik  yang menghubungkan  makhluk  dan Pencipta, sang pegangan  kokoh dan tali  kuat  dalam  keterikatan pada  kuasa  ilahiah.  Biarlah  kaum terpelajar dan  para  pengkaji  menulis  tafsir-tafsir  dalam  bahasa  Persia  dan bahasa  Arab  dengan tujuan menjelaskan pelajaran-pelajaran dan  panduan-panduan  irfan dan akhlak, menunjukkan jalan  yang menghubungkan makhluk kepada  sang Pencipta,  juga  menguraikan  hijrah dari  rumah  kepalsuan menuju rumah  kesenangan dan  keabadian, sesuai  apa  yang  tersimpan dalam  kitab mulia  ini. Sang Penulis  kitab  ini  bukanlah as-Sakkaki  atau sang Syaikh,  yang  tujuannya  adalah kefasihan  dan retorika, bukan  pula  Dia  Sibawayh  atau al-Khalil,  yang tujuannya  adalah tata  bahasa  dan pembentukan  kalimat benar,  bukan pula  Dia  al-Masudi  atau bin  Khillakan,  yang tujuannya  adalah berkutat  dengan sejarah dunia.  Kitab ini  tidak seperti  tongkatnya  Musa  atau tangan putihnya,  bukan pula  ia  seperti  nafas  Isa yang  mampu membangkitkan  orang mati  (dengan  izin  Allah), yang  diturunkan  hanya  sebagai  mukjizat untuk  membuktikan benarnya  kenabian sang Nabi  suci.  Kitab ilahiah  ini, faktanya,  adalah  kitab  yang menghidupkan hati  dengan  hidup abadi  dan hikmah ilahiah.  Ia  adalah kitab  Allah  yang menyeru kepada ihwal  ilahiah. Makanya,  pembedahnya  harusnya  mengajarkan  ihwal-ihwal  ilahiah  ini  kepada  umat manusia, dan umat  manusia  harusnya  merujuk kepada  ulasan-ulasan ini  untuk belajar ihwal-ihwal  tadi, sehingga  mereka  dapat  beroleh  manfaat  “Dan  Kami  turunkan  dari  al-Quran  apa-apa yang adalah penyembuh  dan  kasih  bagi  kaum  beriman, dan  tidak  menambahkan  bagi  kaum  zalim  selain kerugian.”  (al-Quran, 17:82) Kutukan apakah yang lebih berat  dari  bahwa  kita  terus  membaca  kitab ilahiah  ini  selama  tiga  puluh  atau  empat  puluh tahun  juga  merujuk kepada  tafsir-tafsirnya,  namun  kita tak  mendapati  tujuan-tujuan yang  diinginkannya?  “Pemelihara  kami! Kami  menzalimi  diri-diri kami, dan  jika  Anda tak  mengampuni  kami  dan  mengasihi  kami  pastilah  jadinya kami  bagian kaum  merugi.”  (al-Quran, 7:23)

Ali Imran:164

(لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)
[Surat Ali 'Imran 164]

lewat @QuranAndroid

Nyata Allah telah mengkaruniakan kpd kaum beriman saat telah membangkitkan dalam mrk seorang rasul dr kalangan mrk. Ia akan membacakan kpd mrk ayat2Nya, juga akan mensucikan mrk, juga akan mengajari mrk sang kitab dan sang hikmah, dan meski keadaan mrk sebelumnya dr sungguh dalam sesat yg nyata. (Ali Imran:164)

(لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ * تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ)
[Surat Al-Waqi'ah 79 - 80]

lewat @QuranAndroid

Sang rasul tak akan memulai pengajaran sang kitab dan sang hikmah, tak akan menyentuhkan seorang kpd alquran sementara seorang itu belum tersucikan. Perhatikan bahwa hal ini oleh alquran dibedakan dr membacakan ayat2Nya.

Semua tahapan yg disebutkan, yakni pembacaan ayat2Nya, juga pensucian, juga pengajaran sang kitab dan sang hikmah, mensyaratkan keimanan, hakikat keimanan.

(هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)
[Surat Al-Jumu'ah 2]

lewat @QuranAndroid

Sepertinya juga mensyaratkan hakikat buta huruf, buta huruf secara maknawi.


Senin, 30 Oktober 2017

AlWaqi ah:79-80

(لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ * تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ)
[Surat Al-Waqi'ah 79 - 80]

lewat @QuranAndroid

Tidak menyentuhnya kecuali kaum yg disucikan. Curahan dr Tuan semua alam. (AlWaqi ah:79-80)

Rangkaian ayat ini biasanya disandingkan dg bagian akhir alAhzab:33 (saja)

(وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا)
[Surat Al-Ahzab 33]

lewat @QuranAndroid

...Allah hanya ingin menghilangkan noda dr kalian, ahlul bait, dan akan mensucikan kalian sesucinya. (AlAhzab:33)

Secara tak sadar sebagian orang kemudian terdoktrin bahwa menyentuh alquran, yakni memahaminya, hanya terbatas pada Nabi saw dan keluarganya.

Benar bahwa gurunya alquran bagi umat manusia adalah para sosok mulia tsb. Tapi mustahilkah umat manusia yg lain mengikuti mereka, menjadi suci seperti mrk, menjadi penyentuh alquran seperti mrk?

Sementara...

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)
[Surat Ali 'Imran 31]

lewat @QuranAndroid

Katakan... Jika kalian mencinta Allah maka ikuti saya, Allah akan mencinta kalian juga mengampuni untuk kalian dosa2 kalian... Dan Allah pengampun pengasih. (Ali Imran:31)

Bukankah bersih dr dosa2 adl tersucikan itu sendiri? Bukankah "kalian" di sini adl setiap yg membaca ayat ini?

(قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ)
[Surat Al-Hijr 56]

lewat @QuranAndroid

Dia berkata... Dan tiada yg akan berputus asa dr kasih Tuannya kecuali kaum sesat. (AlHijr:56)

Ketika kemudian kesucian adalah sesuatu yg jauh...dlm pandangan qta

(إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)
[Surat Al-Muzzammil 20]

lewat @QuranAndroid

...maka bacalah oleh kalian apa yg mudah dr alquran...(alMuzzammil:20)

Mungkin maksudnya renungkanlah ungkapan2 alquran yg terjangkau pengetahuan kalian. Lakukan perintah yg tak menyulitkan kalian.

Allah mengajarkan, menunjukkan bagaimana menjadi optimis. Allah tau posisi kalian di mana, kalian jauh dr posisi suci. Tapi Dia menunjukkan seperti apa kesucian, sementara menjanjikan bahwa kesucian itu bukanlah kemustahilan untuk kalian. Allah percaya qta bisa. Apakah qta tak percaya bahwa qta bisa?

Selasa, 24 Oktober 2017

AlHasyr:9

(وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)
[Surat Al-Hasyr 9]

lewat @QuranAndroid

Dan mereka yang mendiami sang kota dan sang iman dari sebelum mereka mencinta siapa yang berhijrah menuju mereka. Sementara tiada dalam dada2 mrk keperluan sedikitpun kpd apa yg diberi, mrk juga mengutamakan di atas diri2 mrk sendiri meski keadaan mrk susah. Dan siapa yg terpelihara dr kekikiran dirinya maka itu adl kaum berhasil. (AlHasyr:9)

*Dan mereka yg mendiami sang kota dan sang iman dr sebelum mrk*. Sang kota tampaknya merujuk kpd berikut ini

(يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ)
[Surat Ghafir 39]

lewat @QuranAndroid

Hai kaumku kehidupan dunia ini hanya bekal, dan akhirat sungguh adl kota yg permanen. (Ghafir:39)

Adapun tentang "dr sebelum mrk" tampaknya merujuk kpd ini

(وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ * أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ)
[Surat Al-Waqi'ah 10 - 11]

lewat @QuranAndroid

Dan para pendahulu. Para pendahulu itulah kaum yg didekatkan (AlWaqi ah:10-11)

*mencinta siapa yang berhijrah menuju mereka.*. Ini sepertinya terkait ayat berikut.

(وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا)
[Surat An-Nisa' 100]

lewat @QuranAndroid

...dan siapa akan keluar dr rumahnya, musfir, menuju Allah dan rasulNya...(anNisa:100)

Tapi dlm ayat tsb yg dituju oleh musafir, selain Allah, adalah rasul (tunggal) sedangkan dlm pembahasan yg dituju adl jamak. Jadi? Mungkin yg berikut akan menjawab.

(مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا)
[Surat Al-Fath 29]

lewat @QuranAndroid

...dan mrk yg bersamanya tegas kpd para pengingkar, saling mengasihi di antara mrk...(alFath:29)

*Sementara tiada dalam dada2 mrk keperluan sedikitpun kpd apa yg diberi, mrk juga mengutamakan di atas diri2 mrk sendiri meski keadaan mrk susah. * Ini kurang lebih seperti...

(وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا)
[Surat Al-Insan 8 - 9]

lewat @QuranAndroid

Dan mrk akan memberi makanan atas kecintaanNya seorang miskin, juga seorang yatim, juga seorang tawanan. "Kami memberi makan kalian semata untuk wajah Allah. Kami tak berharap dr kalian balasan, tidak pula terima kasih." (AlInsan:8-9)

Perhatikan kaum yg dikisahkan, mereka "memberi makanan" bukan "memberi sebagian makanan".

Khusus terkait "keadaan mrk susah" mungkin juga terkait dg...

(إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ)
[Surat Al-Qashash 56]

lewat @QuranAndroid

Anda sungguh tak akan menyampaikan siapa yg anda cinta, tapi Allah yg menyampaikan siapa yg Dia mau. Dan Dia lebih tau kaum yg lurus. (AlQashash:56)

Nabi, juga kaum yg bersamanya, tidak punya otoritas tentang siapa yg akan sampai kepada jalan lurus.

Senin, 23 Oktober 2017

AlAn am:119-122

[13/10 7.26 PM] Saban Subiadi🤗: (وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ)
[Surat Al-An'am 119]

lewat @QuranAndroid
[13/10 7.33 PM] Saban Subiadi🤗: Dan apa yg kalian punya bahwa kalian tak memakan sebagian apa yg telah dibacakan padanya nama Allah, sementara nyata telah dibedakan bagi kalian apa2 yg terlarang bg kalian kecuali apa yg dipaksakan untuk kalian menujunya. Dan kebanyakan sungguh sesat dg hasrat2 mereka, dg sesuatu selain pengetahuan. Tuan anda sungguh adl lebih tau dg para pelampau batas.
[14/10 5.16 AM] Saban Subiadi🤗: Bagian awal ayat ini adl tentang sebagian org yg enggan makan hewan sembelihan yg sah dg alasan2 mengada2, sementara Allah telah menunjukkan dg jelas mana yg boleh, mana yg terlarang.
[14/10 5.22 AM] Saban Subiadi🤗: Ungkapan ما لكم scr harfiah adl "apa untuk kalian", maksud yg ingin disampaikan adl "kalian tak punya dalil untuk apa yg kalian lakukan selain mengada2"
[14/10 5.26 AM] Saban Subiadi🤗: Mengikuti hasrat, yg itu sama dg mengikuti sesuatu selain pengetahuan, yg itu bertentangan dg fakta, pasti akan menghalangi dr tujuan alamiah manusia yakni menyempurna, pasti sesat.
[14/10 5.28 AM] Saban Subiadi🤗: Yg demikian itu, yakni mengikuti hasrat, disebut sebagai melampaui batas Allah.
[14/10 4.21 PM] Saban Subiadi🤗: Nambah sedikit, فَصًلَ scr harfiah "Dia telah mempasalkan", sy pahami sbg Dia memisahkan, atau Dia telah menjelaskan, atau Dia telah membedakan.
[16/10 7.43 PM] Saban Subiadi🤗: (وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ)
[Surat Al-An'am 120]

lewat @QuranAndroid
[16/10 7.45 PM] Saban Subiadi🤗: Dan tinggalkan lahiriah dosa, juga batiniahnya. Mrk yg akan mengupayakan dosa sungguh nanti akan diupah dg apa yg biasa mrk lakukan.
[16/10 7.48 PM] Saban Subiadi🤗: Batiniah dosa ada yg tau? Di ranah barzakhi apa di ranah qalbu apa? Hayo...
[17/10 6.25 AM] Dede Rislah: Dosa batiniah itu gmn?
[17/10 6.25 AM] Dede Rislah: Niat2 buruk?
[17/10 7.25 PM] Saban Subiadi🤗: Ranah barzakhi adl tempatnya pengetahuan, wujud kebiasaan dan sifat. Tapi ayat di atas sptinya tidak merujuk kpd ranah ini.
[17/10 8.03 PM] Saban Subiadi🤗: (قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ)
[Surat Al-A'raf 33]

lewat @QuranAndroid
[17/10 8.05 PM] Saban Subiadi🤗: Batiniah dosa menurut ayat ini adl mensekutukan Allah.
[17/10 8.18 PM] Saban Subiadi🤗: (وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ)
[Surat Al-An'am 121]

lewat @QuranAndroid
[17/10 8.23 PM] Saban Subiadi🤗: Dan jangan kalian makan dr apa yg tak dibacakan nama Allah padanya. Dan itu sungguh biadab. Dan para setan sungguh berbisik menuju para penolong mrk untuk mendebat kalian. Dan jika kalian mentaati mrk kalian sungguh kaum yg mensekutukan.
[18/10 5.23 AM] Saban Subiadi🤗: Ternyata wahyu bukan hanya dr Allah, para setan juga bisa ليوحون mewahyukan...
[18/10 5.27 AM] Saban Subiadi🤗: Bedanya. Klo seorang ikut wahyu setan akan jadi musyrik
[18/10 5.47 PM] Saban Subiadi🤗: (أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)
[Surat Al-An'am 122]

lewat @QuranAndroid
[18/10 5.52 PM] Saban Subiadi🤗: Dan apakah siapa yg adl mayat lalu Kami menghidupkannya sementara Kami jadikan baginya cahaya, ia berjalan dgnya di antara para manusia seperti siapa yg perumpamaannya dlm sekian kegelapan, tiada keluar darinya? Demikianlah dijadikan indah bagi para pengingkar apa yg biasa mereka lakukan.
[18/10 6.07 PM] Saban Subiadi🤗: Sy cukup kesulitan menerjemah ليس بخارج منها krn model spt ini ndak ada dlm bahasa indo. Kira2 sy pahami "tiada dg aktualisasi keluar darinya" atau "tiada upaya keluar darinya". Model bahasanya sama dg bagian akhir tasbih rukuk (juga sujud). سبحان ربي العظيم وبحمده . Suci Tuanku sang hebat, juga dg pujiNya. Dlm pahaman sy ... Juga dg upaya memujiNya.
[18/10 6.13 PM] Saban Subiadi🤗: Atau ... Juga dg aktualisasi memujiNya.

AnNisa:100

[11/10 7.35 PM] Saban Subiadi🤗: (وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا)
[Surat An-Nisa' 100]

lewat @QuranAndroid
[11/10 7.40 PM] Saban Subiadi🤗: Dan siapa akan berhijrah di jalan Allah akan ia dapati di bumi tempat pelarian yg banyak, juga kelapangan. Dan siapa akan keluar dr rumahnya, musafir, menuju Allah dan rasulNya, lalu nanti kematian menyusulnya, maka nyata upahnya tanggung jawab pada Allah. Dan Allah adl sangat pengampun, pengasih.
[11/10 7.56 PM] Saban Subiadi🤗: Tadinya tempat pelarian yg banyak, juga kelapangan, di sini hanya terkait rizki dan ihwal materi saja. Mungkin krn masih matre. Tapi ternyata tempat pelarian maksudnya, kayaknya, dr keburukan. Selalu ada tempat sembunyi dr pengaruh buruk. Kelapangan maksudnya, kayaknya, jalan kpd kebaikan selalu ada.
[11/10 7.58 PM] Saban Subiadi🤗: Untuk merasakan sepenuhnya makna ayat ini seorang harus melampaui tahapan kaum yg kembali, para hamba, para pemuji. Namun demikian kilasan2nya tampaknya tidak khusus untuk mereka.

AtTaubah:111-112

[8/10 8.29 PM] Saban Subiadi🤗: (إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ)
[Surat At-Taubah 111]

lewat @QuranAndroid
[8/10 8.30 PM] Saban Subiadi🤗: (التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ)
[Surat At-Taubah 112]

lewat @QuranAndroid
[8/10 8.41 PM] Saban Subiadi🤗: Allah sungguh telah membeli dr kaum beriman diri2 mrk, juga harta benda mrk, dg bahwa bg mrk sang kebun. Mrk akan berperang di jalan Allah, maka mrk akan membunuh juga akan terbunuh. Satu janji atasNya, ketetapan dlm Taurat, juga Injil, juga Alquran. Dan siapa yg lebih menepati janjinya dr Allah? Maka bergembiralah dg perniagaan yg kalian niagakan dgNya. Dan itu adalah perolehan yg besar. (111)
Kaum yg kembali, para hamba, para pemuji, para musafir, kaum yg rukuk, kaum yg sujud, para penyeru kepatutan juga para pencegah kemunkaran, juga para penjaga batas2 Allah. Dan gembirakanlah kaum beriman. (112)
[8/10 8.52 PM] Saban Subiadi🤗: Pada awalnya kaum beriman berupaya membunuh ego dg segenap harta bendanya. Dg harta benda di sini adl segenap alat yg ada padanya, yakni uangnya, segenap jasadnya, segenap imajinasi dan pengetahuannya, niatnya. Kemudian Allah pasti akan menyampaikan kepada kematian egonya, sang kebun bahasa lainnya.
[8/10 8.57 PM] Saban Subiadi🤗: Kaum beriman meliputi banyak tahapan. Paling umum adl kaum yg kembali kpd Tuan mrk, kaum yg melakukan kewajiban, meninggalkan larangan. Paling khusus adl para penyeru kepatutan pencegah kemunkaran. Masing2 tahapan punya batas2 Allah yg berbeda2.
[8/10 9.20 PM] Saban Subiadi🤗: Ayat 112 mungkin mengisyaratkan 7 tingkatan kebun Allah