Kamis, 12 November 2020

14. Pengetahuan Tak Langsung

 Telah kita pahami pengetahuan langsung adalah mendapati fakta tanpa perantara, dan karenanya tak ada celah bagi ragu atau tanya tentang validnya. Namun kita sadar bahwa cakupan pengetahuan langsung terbatas dan secara mandiri tak bisa menyajikan solusi bagi sekian banyak soalan epistemologi. 


Jika tak ada cara memastikan fakta-fakta melalui pengetahuan tak langsung, secara logis kita tak akan bisa membenarkan teori  keilmuan apapun. Bahkan, prinsip-prinsip dasar swabukti bisa kehilangan kepastian dan keniscayaannya, dengan hanya menyisakan label swabukti dan niscaya. Karenanya, kita perlu terus berupaya mengevaluasi pengetahuan tak langsung dan beroleh kriteria-kriteria validnya. Untuk itu berikut kita akan mengulas berbagai macam pengetahuan tak langsung. 


Gambaran dan Pembenaran


Logikawan membagi pengetahuan menjadi dua: gambaran (tasawwur) dan pembenaran (tasdiq). Mereka bahkan mendefinisi konsep pengetahuan sebagai pengetahuan tak langsung. Memperluas batasnya hingga mencakup pula gambaran sederhana. 


Makna harfiah tasawwur adalah "membentuk gambaran" dan "beroleh bentuk". Adapun bagi logikawan artinya penampakan akli sederhana yang bersifat menyingkap sesuatu di luar dirinya. Semisal gambaran akli Gunung Damavand dan konsep gunung. 


Makna harfiah tasdiq adalah "menganggap valid" dan "mengiyakan". Sementara bagi logikawan dan filosof maksudnya serupa, dan tampaknya multitafsir: 


a. Pernyataan logika yang secara garis besar mencakup subjek, predikat, dan penilaian berupa penyatuan [pernyataan positif, contoh: Saya ada.]; 


b. Penilaian an sich yakni hal sederhana dan menunjukkan keyakinan orang akan menyatunya subjek dan predikat. 


Sebagian logikawan barat modern menggambarkan "pembenaran" ini sebagai berpindahnya akal dari satu gambaran ke gambaran lain bersandar pada pola keterkaitan gambaran. Namun pahaman ini keliru, karena pembenaran tak selalu ada pada keterkaitan gambaran. Tidak pula keterkaitan gambaran harus ada pada setiap pembenaran. Tepatnya, pembenaran adalah penilaian, dan inilah beda sebenarnya antara proposisi dari sekian gambaran yang saling berjajar tersemat di akal tanpa kaitan satu sama lain. 


Unsur-unsur Pernyataan


Kita tau "pembenaran" sebagai bentuk penilaian adalah hal sederhana, namun sebagai bentuk pernyataan ia tersusun atas beberapa unsur. Ada beda pendapat tentang unsur-unsur penyusun pernyataan logika. 


Karena menilik satu-satu sekian pendapat tersebut akan menjadikan bahasan kita panjang lebar, di sini kita akan melihat sekilas saja. Sebagian orang bilang bahwa pernyataan predikatif terdiri atas dua unsur: subjek dan predikat. Sebagian lain menambahkan kaitan antara kedua unsur tadi sebagai unsur ketiga. Yang lain lagi menambahkan penilaian akan ada tidaknya kaitan sebagai unsur keempat. 


Sebagian membedakan pernyataan positif dan negatif dan bilang bahwa pada pernyataan negatif tidak ada penilaian, lebih tepatnya mereka katakan sebagai negasi penilaian. Yang lain menyangkal adanya kaitan pada "pernyataan keberadaan" (halliyyah basitah). Pernyataan keberadaan adalah pernyataan logika yang menyatakan subjek sebagai ada, di dunia luar. 


Tidak pula dibilang ada kaitan pada predikasi primer, yakni pernyataan yang subjeknya semakna dengan predikat. Seperti "manusia adalah hewan berakal." 


Bagaimanapun, tak satupun pernyataan logika tanpa kaitan atau penilaian. Sebagaimana kami katakan, pembenaran adalah penilaian, sementara penilaian adalah mengenai kedua unsur pernyataan. Dan, kadang kita mesti membedakan pernyataan bersudut filosofis dari pernyataan bersudut ontologis. 


Pembagian Gambaran Akli


Gambaran akli kadang dibedakan menjadi dua: umum [universal] dan khusus [partikular]. "Gambaran umum" adalah konsep yang dapat mewakili banyak hal atau banyak orang. Misal konsep "manusia" yang dapat diterapkan pada sekian juta sosok. "Gambaran khusus" adalah bentuk akli yang hanya mewakili satu wujud. Misal bentuk akli Sokrates. 


Masing-masing gambaran akli, baik umum maupun khusus, lebih jauh dapat dibagi sebagai berikut. 


Gambaran inderawi: fenomena sederhana dalam jiwa yang dihasilkan dari efek-efek relasi antara indera dengan realitas material. Misal gambar pemandangan yang dilihat dengan mata, atau suara yang didengar dengan telinga. Keberlangsungan gambaran ini bergantung pada hubungan langsung dengan dunia luar, setelah kontak dengan dunia eksternal terputus ia segera menghilang (sekitar sepersepuluh detik). 


Gambaran imajiner: fenomena khas sederhana dalam jiwa yang dihasilkan dari gambaran inderawi, dan dari kaitan dengan dunia luar. Namun keberlangsungannya tak bergantung pada kaitan langsung dengan dunia luar. Misal gambaran mental dari pemandangan sebuah taman yang tetap ada dalam benak meski setelah mata tertutup, dan dapat diingat kembali bahkan setelah bertahun kemudian. 


Gambaran perasaan: banyak filosof menyebutkan gambaran akli tertentu yang terkait dengan makna-makna khas. Ia dicontohkan dengan perasaan benci sebagian hewan terhadap sebagian hewan lain, yang memicu mereka untuk pergi menjauh. Sebagian filosof memperluas istilah ini hingga mencakup sebagian besar makna khusus, termasuk perasaan suka dan benci pada manusia. 


Tentu, konsep umum perasaan suka dan benci adalah gambaran akli yang umum (universal). Itu semua tak bisa dihitung sebagai jenis gambaran khusus (partikular). 


Kesadaran akan perasaan suka dan benci tertentu dalam diri si subjek. Perasaan suka atau benci yang ia rasakan terhadap dirinya atau selainnya, adalah benar-benar sejenis pengetahuan langsung tentang kualitas jiwa. Maka, kita tak dapat memandangnya sebagai pengetahuan tak langsung. 


Perasaan kita terkait kebencian orang lain, tak seperti itu, bukanlah perasaan tanpa perantara. Ia adalah pembandingan keadaan yang ia dapati dalam dirinya lalu dialamatkan kepada orang lain dalam kondisi serupa. Adapun penilaian tentang kesadaran hewan-hewan, tampaknya perlu pembahasan berbeda yang tak mungkin kita sertakan di sini. 


Yang dapat dipandang sebagai gambaran khusus adalah gambaran akli yang dihasilkan dari kondisi-kondisi jiwa, yang mungkin diingat kembali. Sebagaimana gambaran imajiner terkait gambaran inderawi, semisal mengingat rasa takut spesifik yang hadir di saat tertentu. Atau, perasaan suka spesifik yang ada di momen tertentu. Kadang gambaran perasaan ini dinyatakan tidak terkait dengan realitas manapun dan disebut "fantasi". 


Gambaran Umum Akli (Universal)


Telah kita lihat bahwa gambaran akli dapat dibagi ke dua bagian, umum (universal) dan khusus (partikular). Gambaran akli yang telah kita bahas sejauh ini adalah gambaran khusus. Gambaran umum, yakni "konsep-konsep akli" atau "mafhum" adalah pusat perdebatan filosofis yang penting, pun sejak dulu menjadi topik diskusi. 


Dari zaman kuno ada pandangan bahwa pada dasarnya tak ada konsep yang berlaku umum. Istilah-istilah yang digunakan untuk menunjuk konsep umum hakikatnya adalah semacam istilah ambigu yang menunjuk banyak hal. Misal, istilah "orang" yang digunakan untuk menunjuk banyak sosok adalah seperti nama diri yang digunakan oleh beberapa keluarga untuk menamai anak-anaknya, atau seperti sebuah nama keluarga yang berlaku pada semua anggotanya. 


Para pendukung teori ini dikenal sebagai "nominalis". Pada akhir abad pertengahan William dari Ockham condong pada teori ini, kemudian diiyakan oleh Berkeley. Di zaman modern, positivis dan beberapa aliran lain dipastikan berpegang pada posisi serupa. 


Teori lain yang serupa dengan itu adalah bahwa gambaran umum adalah gambaran khusus yang mengambang, yakni beberapa bagian yang khusus dan spesifik dapat diabaikan sehingga bisa sesuai dengan hal atau sosok lain. Misal, gambaran kita tentang sosok tertentu dapat diterapkan kepada saudaranya dengan menghapus beberapa bagian. Dengan menghapus lebih banyak bagian lain ia bahkan dapat diterapkan pada lebih banyak orang. Demikian seterusnya gambaran akli jadi lebih umum dan berlaku pada jauh lebih banyak orang hingga akhirnya bahkan dapat diterapkan pada hewan-hewan, atau bahkan tanam-tanaman dan bebatuan.  Seperti bayangan yang nampak dari kejauhan, karena samar ia dapat sesuai dengan gambaran batu, pohon, hewan, atau orang. Inilah sebabnya pada kilasan pertama kita ragu apakah itu orang atau yang lain. Semakin mendekat dan semakin jelas kita lihat, semakin terbatas cakupan dan kemungkinannya. Hingga akhirnya, kita mendapati sosok atau hal yang tertentu. 


Hume meyakini semacam itu tentang gambaran umum, dan banyak lagi yang berpandangan demikian tentang gambaran umum (universal). 


Di sisi lain ada filosof kuno, seperti Plato. Mereka berkeras akan keberadaan konsep umum, dan bahkan memandangnya memiliki semacam wujud mandiri di luar lingkup ruang-waktu. Gambaran umum (universal) adalah semacam pengamatan terhadap wujud nonmateri dan model akli (gambaran akli Platonis). 


Teori ini telah ditafsirkan dalam berbagai cara dan banyak teori lain bersumber darinya. Yakni, sebagian berpandangan bahwa jiwa manusia sebelum beroleh tubuh telah melihat hakikat akli di alam immateri. Setelah beroleh tubuh ia lupa.  Dengan melihat sosok-sosok material, jiwa diingatkan lagi kepada hakikat-hakikat immateri. Pahaman akan gambaran umum (universal) adalah pengingatan ini. Adapun mereka yang tak mengakui wujud jiwa sebelum melekat pada tubuh, memahami pahaman inderawi sebagai alat bagi diri mempersiapkan pengamatan wujud immateri. 


Pengamatan yang didapat dengan kemampuan ini adalah pengamatan dari kejauhan. Pahaman akan gambaran umum adalah pengamatan serupa akan wujud-wujud nonmateri dari kejauhan. Ia berbeda dari penyingkapan mistis, yang didapat dengan persiapan tertentu, teramati dari dekat. 


Sebagian filosof Islam, seperti Mulla Sadra dan Allamah Tabatabai mengiyakan tafsiran ini. 


Teori paling mafhum akan gambaran umum adalah bahwa itu adalah konsep akli khas yang disadari dengan label keumuman dalam tingkatan (martabah) benak tertentu. Bahkan benak sendiri ada yang mendefinisi sebagai alat memahami gambaran umum. Teori ini dialamatkan kepada Aristoteles dan diiyakan oleh hampir semua filosof Islam. 


Teori yang pertama dan kedua berdampak pada penyangkalan pahaman akli. Itu merupakan titik tumpu penolakan metafisika dan peremehan diskusi literatif serta analisis kebahasaan. Karenanya penggalian lebih dalam tentang hal ini penting, untuk beroleh pondasi yang kokoh bagi diskusi kita kemudian. 


Tentang Gambaran Umum


Nominalis berpandangan bahwa gambaran umum melibatkan semacam ekuivokasi atau semacamnya sehingga bisa mengacu kepada banyak hal. Karenanya, untuk menjawab mereka dengan pasti perlu kiranya  penjelasan tentang ambiguitas (mustarak lafzi) dan makna umum (mustarak maanawi). 


Ambiguitas (mustarak lafzi) adalah ungkapan tertentu yang digunakan untuk beberapa objek berbeda. Ia terjadi saat satu kata memberikan beberapa penunjukan atau digunakan untuk merujuk makna-makna berbeda melalui banyak kesepakatan. Seperti kata "spring" yang digunakan untuk pegas, musim, mata air, dan lompatan. 


Adapun makna umum (mustarak maanawi), ia terjadi saat satu ungkapan oleh satu kesepakatan merujuk kepada sisi umum beberapa kasus. Dengan satu makna ia menunjukkan kesemuanya. Beberapa perbedaan terpenting ambiguitas dengan makna umum adalah seperti berikut.


1. Ambiguitas perlu banyak kesepakatan dasar, sementara makna umum perlu hanya satu darinya. 


2. Makna umum mungkin memiliki sosok atau objek sejumlah tak terbatas, sementara ambiguitas hanya mungkin memiliki sejumlah tertentu makna. 


3. Makna umum adalah satu makna lazim yang dipahami tanpa pembandingan, sementara ambiguitas melibatkan beberapa makna tujuan yang perlu perujukan tertentu [yang sesuai]. 


Berdasar pembedaan tersebut mari kita simpulkan diskusi kita tentang ungkapan seperti "manusia", "hewan", dst. Apakah masing-masing ungkapan ini dapat dipahami punya satu makna tanpa perlu penjelasan tentang perujukannya? Apakah beberapa makna hadir dalam akal siapapun saat mendengarnya? Apakah tak ada lagi pertanyaan tentang perujukan mana yang dimaksud oleh pembicara? 


Tak diragukan, kita tak menganggap Muhammad, Ali, Hasan, dan Husain sebagai makna kata "manusia". Karenanya, saat kita mendengar ungkapan "manusia" ini kita tak ragu tentang kewajaran ungkapan ini, yakni tak menanyakan lagi tentang maknanya. Bahkan kita tau bahwa ungkapan ini punya satu makna yang berlaku umum bagi sosok-sosok ini, juga selainnya. Itu bukanlah ambiguitas. 


Sekarang mari lihat apakah ungkapan semacam ini punya  keterbatasan jumlah objek. Atau ia berlaku bagi sejumlah tak terbatas objek? Jelas bahwa makna ungkapan ini tidak punya semacam batasan jumlah objek, yakni bisa berlaku pada sejumlah tak terbatas objek. 


Kemudian, kita lihat bahwa tak satupun dari ungkapan manapun yang punya sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan. Tak seorangpun bisa membayangkan di benaknya sejumlah tak terbatas figur, sementara menentukan sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan untuk satu ungkapan tertentu. Di sisi lain, kita lihat bahwa kita sendiri bisa menentukan satu ungkapan sedemikian sehingga ia selaras dengan sejumlah tak terbatas figur. Demikianlah, makna umum (universal) tak perlu sejumlah tak terbatas kesepakatan penunjukan. 


Kesimpulannya, gambaran umum adalah istilah dengan makna umum, bukan istilah yang ambigu. 


Mungkin ada yang menyangkal bahwa ungkapan tersebut tidaklah cukup untuk menjelaskan mustahilnya banyak kesepakatan penunjukan, karena mungkin saja seorang yang menunjuk membayangkan satu hal (dan bukan sejumlah tak hingga hal) di benaknya, dan memakai satu ungkapan untuk semua figur yang serupa. 


Kita tau bahwa orang ini harus membayangkan makna "semua" dan "figur" dan "serupa" untuk membuat sebuah konvensi (ketentuan). Maka pertanyaannya kembali kepada bagaimana ungkapan ini ditujukan. Bagaimana itu bisa diterapkan kepada sejumlah tak terbatas kasus? Kita tak punya pilihan selain membenarkan bahwa benak punya kemampuan menampung konsep yang berlaku pada sejumlah tak terbatas kasus. Karenanya, mustahil konsep demikian dipakai untuk sejumlah tak terbatas kasus di satu waktu, karena ini tak terjangkau oleh manusia manapun. 


Tanggapan atas Keraguan


Nominalis, dalam menyangkal adanya gambaran umum (universal), memunculkan keraguan berikut: setiap gambaran yang muncul dalam satu benak adalah gambaran yang khusus dan spesifik, yang beda dari gambaran serupa pada benak lain. Bahkan jika seorang menyadari gambaran yang sama pada waktu lain, itu sebenarnya gambaran yang lain. Bagaimana dikata bahwa gambaran umum ada dalam benak dengan label keumuman dan ketunggalan? 


Keraguan ini berasal dari kebingungan antara gambaran dengan wujud, yakni bingung antara prinsip logika dengan prinsip filsafat. Kita tak ragu bahwa setiap gambaran, sejauh itu ada, adalah khusus, dalam bahasa filosofis "wujud adalah setara dengan kekhususan". Saat dibayangkan lagi, ia akan punya wujud lain, namun keumuman dan ketunggalan aklinya bukanlah dalam hal wujud melainkan dalam hal ia akli, yakni dalam hal mewakili berbagai figur dan objek. 


Saat benak kita memandang satu gambaran dari sudut fungsi, bahwa ia mencerminkan, dan menilai fungsi tersebut terkait berbagai objek, nilai keumuman terabstraksi darinya. Sebaliknya, saat wujudnya disadari ada dalam akal, itu adalah contoh kekhususan. 


Sekilas Pandangan Lain


Mereka yang menduga gambaran umum akli sebagai gambaran khusus yang samar, pun makna umum menunjuk pola samar dan lemah yang sama [seolah kekhususan telah dipisahkan darinya], tak akan menemukan hakikat makna umum. 


Cara terbaik menunjukkan kesalahan mereka adalah memperhatikan makna yang tak punya wujud di dunia luar, seperti "nonwujud" atau "mustahil". Atau, yang tak punya wujud material atau inderawi, seperti makna Tuhan, malaikat, dan ruh. Atau, yang sesuai dengan wujud material dan nonmaterial sekaligus, seperti makna sebab dan akibat. Makna-makna tersebut tak bisa dikatakan pola-pola yang lemah. Juga, terkait makna-makna yang benar untuk hal-hal berlawanan, seperti warna, yang berlaku untuk hitam dan putih. Tak bisa dikatakan warna putih demikian samar sehingga ia menjadi bentuk absolut warna yang juga benar untuk hitam. Atau, bahwa warna hitam menjadi demikian lemah dan pucat hingga mungkin berlaku untuk putih. 


Platonis juga beroleh masalah, karena kebanyakan makna, seperti nonwujud dan mustahil, tak punya model mafhum, sehingga mereka tak mungkin berkeras bahwa persepsi kata umum adalah pengamatan kepada semacam wujud akli dan nonmaterial. Karenanya, posisi yang tepat adalah yang dipegang oleh kebanyakan filosof Islam dan rasionalis. Yakni, kita punya kemampuan kognitif khas yang disebut akal, berfungsi menangkap gambaran umum mental, entah itu wujud inderawi atau tidak.


(Dari Philosophical Instructions, oleh M.T. Misbah Yazdi)


Kamis, 04 Juni 2020

13. Pembagian Pengetahuan

Mencari Batu Pijakan Pengetahuan


Disebut dalam bahasan sebelumnya bahwa sebagian pengetahuan dan persepsi sepenuhnya pasti. Bahkan, sekian argumen yang diajukan kaum skeptis untuk membenarkan pandangan-pandangan menyimpang mereka, yang bersandar pada penyangkalan mutlak pengetahuan, justru menunjukkan dan mengharuskan adanya pengetahuan. Namun di sisi lain, kita sadar bahwa tak semua "pengetahuan" dan keyakinan kita benar atau sesuai fakta, lebih jauh, dalam banyak hal kita sendiri menemukan sekian kesalahan. 

Membandingkan dua sisi ini, lalu muncul soalan tentang apa saja yang membedakan sekian macam persepsi manusia. Apa-apa persepsi yang pasti dan luput dari kesalahan, apa-apa pula yang bisa salah dan boleh diragukan. Bagaimana memilahnya. 

Mafhum bahwa Descartes coba meramu filsafat yang solid dalam memerangi skeptisisme, ia menggunakan ketakpastian ragu itu sendiri sebagai batu pijakan filsafat. Lebih jauh, adanya "diri" si peragu dan pemikir adalah kemestian yang ia sandarkan pada pondasi itu. Selain itu, ia mengajukan kejelasan dan keterbedaan sebagai syarat bagi kepastian. Ia jadikan keduanya sebagai patokan dalam memilah benar dari ide-ide yang salah. Ia juga coba menerapkan pendekatan matematis pada filsafat, yakni dalam mengenalkan logika yang baru. 

Sekarang kita tak dalam posisi menilai filsafat Descartes, tak pula melihat sejauh mana ia berhasil dalam target pribadinya. Kami ingin menekankan bahwa memakai keraguan sebagai titik tolak perdebatan dengan skeptis cukuplah masuk akal. Ini seperti nampak pada bahasan terdahulu. Namun, jika ada yang membayangkan bahwa tak ada apapun yang cukup jelas dan pasti, hingga adanya si peragu harus disimpulkan dari keraguan, ini keliru. Adanya "diri" yang sadar dan berpikir mestinya paling tidak sejelas dan sepasti adanya ragu itu sendiri, yang merupakan salah satu keadaan diri. 

Demikian pula, jelas dan keterbedaan tak bisa dipandang sebagai syarat umum dalam memilah ide benar dari ide yang salah. Hal ini karena syarat ini sendiri tak cukup jelas dan terbedakan tak pula bebas dari multitafsir. Bukan pula patokan yang pokok dan paling signifikan, wajar ia tak mampu menguak rahasia pastinya beberapa macam persepsi. Bahkan, sekian pendapat Descartes dapat didebat panjang lebar. Namun, evaluasi demikian akan di luar kajian kita sekarang. 

Pembagian Mendasar Pengetahuan


Pembagian mendasar pengetahuan yang perlu dipertimbangkan adalah beda dua hal ini:

1) pengetahuan yang ditau langsung dari esensi/zat objek, dalam hal ini adanya objek pengetahuan secara nyata dan asli tersingkap bagi si penerima atau si tau, 

2) pengetahuan yang adanya objek secara eksternal tak teramati atau tersaksikan "langsung" oleh si tau.  Alih-alih, ia menyadarinya melalui perantara sesuatu yang mewakilinya, yakni bentuk akli atau konsep aklinya. 

Macam pertama disebut pengetahuan dengan kehadiran atau pengetahuan langsung (ilm al hudhuri), yang kedua disebut pengetahuan tak langsung (ilm al husuli). 

Pembagian pengetahuan ke dalam dua jenis ini masuk akal, menyeluruh, dan khas. Dengan cara ini tak ada posisi pengetahuan ketiga yang dapat menyanding keduanya. Yakni tak ada pengetahuan selain dua jenis pengetahuan ini. Ada perantara antara sosok yang tau dengan esensi objek yang ditau, dengannya persepsi diperoleh, inilah pengetahuan "tak langsung". Atau, jika tak ada keperantaraan, inilah pengetahuan "langsung". Selanjutnya, dua macam pengetahuan ini pada manusia kiranya perlu dijelaskan. 

Pengetahuan Langsung


Pengetahuan dan persepsi yang dipunya setiap orang tentang dirinya sendiri sebagai wujud yang menyadari adalah satu pengetahuan yang tak terbantah. Sofis sekalipun, yang memandang manusia sebagai patokan ukur semua hal, tak membantah adanya manusia beserta pengetahuan pribadi yang dipunyainya. 

Tentu manusia, yakni "diri", adalah dia yang merasa, yang berpikir. Dia yang dengan penyaksian internal menyadari diri sendiri, tidak melalui sensasi atau pengalaman, tidak pula melalui bentuk dan konsep akli. Yakni, ia sendirilah pengetahuan itu, dalam pengetahuan dan persepsi ini tak ada kejamakan atau beda antara pengetahuan, si tau, dengan objek yang ditau. Seperti disebut sebelumnya, "ketunggalan si tau dan yang ditau" adalah contoh paling sempurna tentang "hadirnya objek yang ditau pada subjeknya". 

Adapun, persepsi manusia tentang warna, bentuk, dan sifat-sifat lain tubuh tidaklah demikian. Ia diperoleh dengan penglihatan, sentuhan, dan indera-indera lain, juga dengan bentuk-bentuk akli. Juga, bahwa di dalam tubuh ada banyak sekali organ internal yang tak kita sadari langsung. Namun, kita mengenalnya melalui sekian tanda dan efek, atau kita menyadarinya dengan belajar anatomi, fisiologi, dan ilmu biologi lain. 

Demikian, pengetahuan tentang diri adalah sederhana dan tak terbagi, tak semacam proposisi, "saya adalah", atau "saya ada", yang tersusun dari beberapa konsep. Jadi, maksud "mengetahui diri" adalah kesadaran yang sangat intuitif, sederhana, dan langsung akan jiwa-jiwa kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran inilah ciri mendasar "mengetahui diri". Akan dibuktikan pada tempat yang tepat, bahwa jiwa adalah nonmateri, pun bahwa setiap wujud nonmateri mengetahui akan dirinya. Topik-topik ini terkait ontologi dan psikologi filosofis, tentunya bahasan ini bukanlah tempat untuk mengulasnya. 

Pengetahuan kita akan keadaan, kecenderungan, dan hasrat psikologis kita sendiri adalah juga contoh pengetahuan langsung. Saat takut, seketika kita tau akan keadaan psikologis ini tanpa perantara apapun, tanpa media bentuk atau konsep akli apapun. Saat menyukai seorang atau sesuatu, kita mendapati kecenderungan ini dalam diri sendiri. Saat memutuskan untuk melakukan satu hal, kita tau akan keputusan dan niat kita. Takut akan sesuatu, atau suka dengan sesuatu, atau memutuskan melakukan sesuatu tanpa tau akan rasa takut, rasa suka, atau niat adalah omong kosong. Dengan cara yang sama, adanya ragu atau dugaan adalah tak terbantah. Tak seorangpun bisa mengklaim ia tak tau tentang keraguannya sendiri, tidak pula bahwa ia ragu akan adanya keraguan dirinya. 

Contoh lain pengetahuan langsung adalah pengetahuan tentang kemampuan perseptif [berpikir, merenung, dst] dan kemampuan motorik. Kesadaran diri akan kemampuannya berpikir dan mengkhayal atau akan berbagai kemampuan motorik merupakan pengetahuan dengan kehadiran dan langsung. Ini semua tak ditau melalui bentuk dan konsep akli. Karena itu seorang tak pernah salah dalam penempatannya. Ia tak pernah menggunakan kemampuan perseptif menggantikan motorik, tak pula menggunakan kecakapan bergerak menggantikan berpikir akan sesuatu. 

Di antara hal-hal yang ditau dengan kehadiran adalah bentuk dan konsep akli, yang ditau tanpa melalui perantara bentuk dan konsep akli lainnya. Jika pengetahuan akan apapun harus diperoleh melalui bentuk dan konsep akli, manusia mestinya tau setiap bentuk akli melalui bentuk akli yang lain. Pengetahuan akan bentuk akli tersebut juga melalui bentuk akli yang lain lagi. Dengan begini, untuk setiap hal yang anda tau anda harus mengenal sejumlah tak terbatas hal lain dan harus punya bentuk akli sebanyak tak terbatas. 

Mungkin ada yang bertanya, jika pengetahuan langsung adalah hadirnya objek pengetahuan itu sendiri, dan pengetahuan tak langsung adalah yang berperantara, maka bentuk-bentuk akli adalah pengetahuan langsung sekaligus tak langsung. Bentuk-bentuk akli ini di satu sisi dikenal secara langsung, yakni pengetahuan dengan kehadiran. Di sisi lain mereka dinyatakan sebagai pengetahuan tak langsung akan hal-hal eksternal. Bagaimana mungkin satu pengetahuan adalah langsung sekaligus tak langsung? 

Bentuk-bentuk akli bersifat mencerminkan dan mewakili objek eksternal, dan memang mereka adalah sarana untuk mengenal hal-hal di luar diri. Dengan begini dianggaplah mereka sebagai contoh pengetahuan tak langsung. Dari sisi faktual bahwa mereka hadir di hadapan diri, dan diri mengetahui mereka secara langsung, dihitunglah mereka sebagai pengetahuan langsung. Dua sisi ini beda satu sama lain: di satu sisi mereka hadir yakni mereka secara langsung disadari, di sisi lain mereka tak langsung yakni mewakili ihwal eksternal. 

Lebih jauh tentang hal ini, mari cermati analogi cermin. Kita bisa mengamati satu cermin dari dua cara pandang berbeda. Dari satu cara pandang katakan ada orang yang ingin membeli cermin, ia mengamati kedua sisinya ada yang cacat atau tidak. Dari cara pandang lain ada orang yang memakai cermin, melihat cermin untuk menatap wajah, meski arah pandang adalah pada cermin, perhatiannya tertuju pada wajah bukan pada cermin. 

Bentuk-bentuk akli dapat secara langsung disasar oleh diri, inilah kita bilang mereka sebagai pengetahuan langsung. Mereka dapat pula menjadi sarana untuk mengenal berbagai hal dan sekian sosok luar, di sini kita bilang mereka sebagai pengetahuan tak langsung. Perlu dicatat bahwa maksud penjelasan ini bukanlah memisahkan kedua kasus itu dalam waktu; melainkan pembedaan dua sudut pandang saja. Saat konsep akli adalah contoh pengetahuan tak langsung akan objek luar, tak mesti bahwa ia tak disadari secara langsung, tak mesti ia kehilangan sisi kehadirannya. 

Sahihnya Pengetahuan Langsung


Dari keterangan tentang pengetahuan langsung dan pengetahuan tak langsung serta beda keduanya, menjadi jelas mengapa pengetahuan tentang diri, rasa, dan contoh lain pengetahuan langsung bersifat pasti. Ini karena fakta itu sendiri yang teramati. Sebaliknya, pada pengetahuan tak langsung, bentuk dan konsep akli berperan sebagai perantara, dan mungkin tidak  persis serupa dengan fakta dan sosok luarnya. 

Atau, salah persepsi dapat terjadi saat ada perantara antara si tau dengan entitas yang ditau, lalu ada pengetahuan diperoleh. Dalam hal ini mungkin ada yang bertanya, apakah bentuk atau konsep yang menengahi si tau dengan objek yang ditau mewakili objek tersebut secara tepat dan persis serupa dengannya atau tidak. Kecuali terbukti bahwa bentuk dan konsep akli tepat sesuai dengan objek yang ditau, keyakinan akan sahihnya persepsi tak akan didapat. 

Namun, jika sesuatu atau sosok yang ditau hadir secara langsung bagi si tau tanpa perantara apapun, atau bahkan menyatu dengannya, maka tak ada celah kekeliruan, tak bisa dipertanyakan apakah pengetahuan itu sesuai atau tidak dengan objeknya, karena di sini pengetahuannya adalah objek itu sendiri. 

Sejauh ini pahaman tentang persepsi yang sahih dan keliru telah jelas. Sahih artinya persepsi yang sesuai dengan fakta dan sepenuhnya mengungkapkannya. Keliru artinya keyakinan yang tak sesuai dengan fakta. 

Pengetahuan Tak Langsung yang Serempak dengan Pengetahuan Langsung


Ada satu hal, akal selalu memotret apa yang hadir seperti mesin otomatis. Darinya ia mendapat bentuk dan konsep khas lalu menganalisa dan menafsirkannya. Contoh, saat seorang merasa takut, akalnya akan memotret kondisi takut itu, yang akan dapat diingat kembali setelahnya. Selanjutnya ia menangkap konsep umum darinya dan dengan menyematkan konsep lain ia menampilkan pernyataan (proposisi) seperti "saya takut", atau "saya punya rasa takut", atau "takut ada pada saya". Ia menafsirkan hadirnya kondisi psikologis ini serta merta berdasar pengetahuan sebelumnya dan mencoba cari sebabnya. 

Segenap proses akal ini, yang terjadi sangat cepat, beda dari kondisi takut dan pengetahuan langsungnya. Dan, keserempakannya dengan pengetahuan langsung sering jadi sumber kekeliruan. Orang kadang menduga bahwa karena ia mendapati rasa takut dan pengetahuan langsung iapun tau sebabnya dengan pengetahuan langsung. Nyatanya apa yang ditangkap dengan pengetahuan langsung adalah sederhana, tanpa bentuk atau konsep akli sama sekali, bebas pula dari tafsir bagaimanapun, makanya itu tak mungkin salah. Sebaliknya, tafsir yang seketika ada adalah dari persepsi tak langsung, yang pada dasarnya tak selalu benar dan tak selalu sesuai fakta. Menjadi jelas kemudian mengapa dan bagaimana kesalahan-kesalahan terjadi pada sebagian pengetahuan tak langsung. 

Contoh: orang merasa lapar dan langsung beranggapan bahwa ia perlu makanan. Sementara kadang yang ada adalah hasrat yang keliru, yakni ia tidak benar-benar perlu makanan. Apa yang sebenarnya ditangkap oleh pengetahuan langsung yang pasti benar adalah rasa khasnya. Yang itu seketika diikuti oleh tafsir akli, berdasar pembandingan dengan rasa-rasa semisal, itu disebabkan oleh perlu makanan. 

Pembandingan ini tentu saja tidak selalu tepat dan karenanya sebuah kesalahan dapat terjadi dalam menentukan sebab dan dalam memberi tafsiran aklinya. Berbagai kesalahan yang terjadi dalam penyingkapan mistis adalah semacam ini. Makanya penting menentukan pengetahuan langsung secara cermat dan membedakannya dari tafsiran akli yang menyertai, agar tak keliru seperti tersebut. 

Gradasi Pengetahuan Langsung


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengetahuan langsung tidaklah seragam dalam intensitasnya. Pengetahuan langsung ada kalanya hadir cukup kuat dan membekas pada kesadaran manusia, ada kalanya sangat lemah dan ringan sehingga orang setengah menyadari atau bahkan tak menyadarinya sama sekali. 

Beda tingkatan pengetahuan langsung kadang disebabkan bedanya tingkat wujud si tau. Jika diri si tau lemah dalam gradasi wujud, maka pengetahuan langsungnya juga lemah dan ringan. Jika tingkatan wujudnya lebih sempurna, pengetahuan langsungnya akan lebih sempurna dan lebih disadari. Penjelasannya tentu bergantung pada paparan tentang gradasi wujud dan gradasi kesempurnaan diri, yang mesti dibuktikan di ranah lain filsafat. Sementara akan kita terima saja, berdasar dua prinsip ini, bahwa pengetahuan langsung bisa kuat dan bisa lemah. 

Pengetahuan langsung akan kondisi psikologis dapat pula kuat dan lemah. Contoh: orang sakit, yang menangkap rasa sakit dengan pengetahuan langsung, saat mengalihkan perhatian kepada seorang teman akrab, tak lagi merasakan sakit. Sebaliknya saat sepi, khususnya di malam larut saat tak ada pengalih perhatian, ia merasakan sakit yang lebih kuat, sebabnya adalah kuatnya perhatian. 

Beda tingkat pengetahuan langsung bisa berdampak pada beda tafsiran akli sesuai kuat lemahnya. Contoh: meski diri pada tingkat paling rendah punya pengetahuan langsung akan dirinya, tak mustahil karena lemahnya pengetahuan ini ia menduga bahwa hubungan antara diri dan tubuhnya adalah identitas. Ia mungkin menyimpulkan bahwa hakikat diri adalah semata tubuh material atau fenomenanya. Namun, saat pengetahuan langsung yang hadir lebih sempurna, yakni saat hakikat si diri tersempurnakan, kesalahan demikian tak akan ada lagi. 

Pada tempat yanh sesuai akan dibuktikan bahwa manusia punya pengetahuan langsung akan Penciptanya. Namun, karena lemahnya tingkat wujud dan perhatian yang hanya tercurah pada tubuh dan hal-hal material, pengetahuan ini lalu tak tersadari. Namun, dengan menyempurnanya diri dan berkurangnya perhatian pada tubuh juga hal-hal material, serta menguatnya perhatian qalbu pada Allah Taala, pengetahuan yang ini akan mencapai tahapan terang dan tersadari hingga orang ini bilang "[Ya Allah] adakah perwujudan dari selain Anda dan bukan dari Anda?" 

(Dari Philosophical Instructions, oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi)

Senin, 01 Juni 2020

12. Tentang Aksioma Epistemologi

Bagaimana Filsafat Bergantung pada Epistemologi


Konsep pengetahuan dalam arti luas mencakup setiap jenis kesadaran dan persepsi. Ia dapat disajikan oleh epistemologi melalui topik-topik kajiannya. Namun demikian, ada beberapa dari konsep pengetahuan yang tidak secara formal berada dalam lingkup epistemologi. Yakni seperti wahyu, ilham, serta berbagai penyingkapan dan intuisi mistis. Adapun, soalan yang biasa disertakan dalam diskusi cabang filsafat ini adalah korelasi antara indera dan akal. 

Kami tak mungkin membahas semua topik ini di sini. Ini karena tujuan utama kami adalah menjelaskan nilai persepsi akli [penerimaan realitas oleh akal] dan membuktikan benarnya filsafat juga kesahihan metode-metode rasionalnya. Untuk itu, kami hanya akan menghadirkan beberapa topik yang berguna dalam metafisika dan teologi. Sesekali itu juga berguna bagi ranah lain filsafat seperti psikologi filosofis dan akhlak filosofis. 

Pada titik ini boleh kita ajukan tanya: Apa premis-premis dasar yang mendukung epistemologi? Di mana dapat ditemukan? Jawabnya adalah bahwa epistemologi tak perlu meminjam aksioma-aksioma untuk semua bahasannya. Ini karena berbagai topik yang ada dapat diklarifikasi secara mandiri pada pengetahuan-pengetahuan mudah (badihiyyat awwaliyyah) yang swabukti [membuktikan dirinya sendiri]. 

Dikatakan bahwa ontologi dan ilmu rasional lain tak perlu kepada ilmu lain. Nyatanya semua solusi untuk mereka ini bergantung pada mampu tidaknya akal menjawab soalan-soalannya. Bukankah berarti ranah filsafat tersebut perlu epistemologi untuk menyajikan aksioma-aksioma dasarnya?

Di bagian lain kami telah mengisyaratkan jawab untuk soal ini. Adapun gamblangnya, begini. Pertama, sekian premis yang secara langsung dibutuhkan oleh ilmu-ilmu rasional adalah penilaian-penilaian [tasdiq] yang swabukti dan tanpa perlu pembuktian. 

Adapun jabaran tentang penilaian-penilaian tersebut dalam logika atau epistemologi sebenarnya bersifat eksposisi atau keterangan, bukan argumentatif. Yakni, itu semua adalah alat untuk mengarahkan perhatian benak kepada hakikat yg dipahami akal tanpa perlu dalil apapun. Alasan di balik pembahasan penilaian macam ini dalam ilmu-ilmu tersebut adalah salah paham tentangnya yang pada gilirannya menjadikan keraguan. Seperti dalam kasus penilaian paling swabukti, "mustahilnya kontradiksi". Pada sebagian orang ini mengarah pada anggapan bahwa kontradiksi tidaklah mustahil. Bahkan kontradiksi kadang dianggap sebagai pondasi realitas. 

Sekian ragu yang mengemuka tentang nilai pengetahuan rasionalpun polanya sama. Diskusi kita ini ada untuk menghapus keraguan dan kesalah-pahaman seperti tersebut. Sebenarnya, menyelipkan penilaian-penilaian ini di antara topik logika dan epistemologi adalah perhatian, sikap mengalah, atau sikap sopan terhadap mereka yg mengarah kepada ragu. 

Jika seorang, tanpa sadar, tak mengakui adanya pengetahuan rasional, bagaimana orang lain berdiskusi dengannya bersandar pada bukti rasional? Bahkan, argumen-argumen yg diajukan untuk mendukung ragu demikian adalah berupa argumen rasional (perhatikan). 

Kedua, butuhnya berbagai ranah filsafat kepada prinsip-prinsip logika dan epistemologi adalah penerapan pengetahuan pada pengetahuan. Yakni, seorang yg benaknya belum teracuni oleh ragu dapat menalar hingga kesimpulan tertentu terkait kebanyakan topik. Dan penalarannya akan sesuai dengan prinsip-prinsip logika tanpa perlu ia mempelajarinya dan tanpa ia tau. Misal, bahwa penalarannya sesuai dengan bentuk pertama silogisme serta syarat-syaratnya, atau tanpa menyadari bahwa ada benak yg menyadari premis-premis ini dan menerima sahihnya kesimpulan yg mengikuti. 

Di sisi lain, mungkin sebagian orang, dalam menolak rasionalisme atau metafisika menggunakan penalaran dan tanpa sadar dg premis-premis metafisika. Atau, dalam menolak aturan-aturan logika mereka malah menyandarkan penalaran pada sekian aturan logika. Bahkan, dalam menolak mustahilnya kontradiksi, mereka malah menggunakannya tanpa sadar, dan saat dikatakan, "Penalaran anda ini sahih sekaligus tak sahih" mereka akan tersinggung dan menganggapnya pelecehan. 

Dengan demikian, bergantungnya penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika dan prinsip-prinsip epistemologi bukanlah seperti meletakkan prinsip-prinsip pada bahasan keilmuan. Tapi ia adalah kebutuhan sekunder, yakni terkait menggantungkan prinsip-prinsip keilmuan ini pada dirinya masing-masing. Yaitu, ia adalah kebutuhan untuk pembenaran ulang keilmuan. Yakni untuk beroleh konfirmasi lebih lanjut bagi penilaian-penilaian ini. 

Seperti swabukti pada proposisi-proposisi, yang bergantung pada mustahilnya kontradiksi. Jelas bahwa bergantungnya proposisi-proposisi swabukti pada prinsip ini tak sama dengan bergantungnya proposisi-proposisi spekulatif pada proposisi-proposisi swabukti. Jika tidak, maka beda antara proposisi swabukti dan spekulatif tak akan ada. Dan setidaknya, satu proposisi, yakni prinsip mustahilnya kontradiksi, harus diterima sebagai swabukti. 

Mungkinnya Pengetahuan


Setiap orang yang berakal sehat percaya bahwa ia benar tau sekian hal, pun bahwa ia mungkin untuk tahu sekian hal. Ia bahkan berupaya untuk beroleh informasi tentang ihwal yang ia perlu atau suka. Tanda terbaik untuk upaya macam ini adalah yang telah dilakukan oleh para ilmuwan dan filosof, dengan membawakan berbagai ranah ilmu dan filsafat. 

Bahkan, mungkin dan aktualnya ilmu bukanlah suatu yang disangkal atau diragukan oleh orang berakal yang benaknya belum tercemari ragu. Apa yg terbuka untuk diskusi atau telaah dan apa yg masuk akal untuk diperdebatkan adalah penentuan batas-batas pengetahuan manusia, syarat alat-alat untuk beroleh pengetahuan tertentu, cara memilah pemikiran benar dari yg salah, dan semisalnya. 

Seperti disinggung sebelumnya, gelombang-gelombang skeptisisme telah muncul berulang-ulang di Eropa, bahkan para pemikir hebatpun tertelan olehnya. Sejarah filsafat mencatat sekian aliran pemikiran yg sepenuhnya menyangkal pengetahuan, semisal sofisme, skeptisisme, agnostisisme. Penjelasan terbaik tentang penyangkalan total pengetahuan (jika anggapan ini benar) adalah bahwa korban-korbannya terjangkit kecerobohan akut, satu keadaan yg dialami sebagian orang terkait beberapa hal lain juga. Selayaknya dianggap sebagai semacam penyakit jiwa. 

Adanya orang-orang demikian, niat di balik pandangan-pandangannya, ataupun fakta atas tuduhan kepada yang diklaim memilikinya, biarlah kita serahkan rinciannya kepada putusan riset sejarah. Adapun kami, menganggapnya sebagai deskripsi keraguan atau tanya yang perlu jawaban filosofis. 

Menilik Klaim Kaum Skeptis


Kutipan-kutipan dari kaum sofis dan skeptis dapat dibagi menjadi dua: satunya adalah ungkap mereka tentang ada dan yang ada (wujud), lainnya adalah tentang ilmu dan pengetahuan. Ungkap-ungkap tersebut punya dua aspek: satu aspek terkait ontologi, yang lain terkait epistemologi. 

Contoh, kutipan yg di sandarkan kepada sofis paling ekstrim, Gorgias: "Tiada wujud, jikapun ada sesuatu, ia mustahil ditau, dan meski ada pengetahuan tentang wujud, pengetahuan ini mustahil disampaikan kepada yg lain." Frasa pertama adalah tentang wujud, mesti dibahas di bagian ontologi. Namun yang kedua, relevan dengan diskusi sekarang, epistemologi, maka wajarnya frasa kedua inilah yang kita bahas lebih lanjut. 

Hal pertama yang perlu diungkapkan: Yang meragukan semua hal tak akan mampu meragukan adanya diri mereka sendiri, adanya ragu mereka, tidak pula organ-organ persepsi, seperti penglihatan dan pendengaran, pun adanya bentuk mental dan berbagai keadaan psikologisnya. 

Jika seorang bahkan menyatakan keraguan tentang ihwal ini, ia pasti sakit, dan perlu penyembuh, atau ia bohong dan punya niat jahat, karenanya perlu dikoreksi dan ditegur. Demikian pula, siapa yang bicara dan berdiskusi atau menulis buku mustahil menolak adanya lawan diskusi, atau adanya kertas atau pena yang dipakai. 

Pada titik ekstrim bisa dikatakan seorang menyadari semua hal dalam kediriannya namun ia ragu akan adanya mereka di dunia luar. Sebagaimana muncul dari pernyataan-pernyataan Berkeley dan beberapa idealis lain. Mereka menerima semua objek persepsi sebagai semata berbagai bentuk dalam benak, dan menyangkal adanya secara eksternal. Namun begitu, mereka menerima adanya orang-orang lain yang punya benak dan persepsi. Pandangan ini tak sepenuhnya menyangkal pengetahuan dan keberadaan, namun menyangkal keberadaan material, segenap keraguan mereka adalah tentang wujud terkait beberapa objek pengetahuan. 

Jika seorang mengklaim bahwa pengetahuan-yakin adalah mustahil, tanya yang harus diberikan kepadanya apakah ia tau itu, ataukah ia juga punya keraguan tentangnya. Jika ia bilang ia tau, maka setidaknya satu hal diketahui telah dibenarkan, dan klaimnya sendiri gugur. Jika ia bilang ia tak tau itu, artinya ia mungkin berkesempatan mendapat pengetahuan-yakin. Dengan kata lain, ungkapannya sendiri terbukti salah. Namun, jika seorang bilang bahwa ia ragu tentang klaim kemungkinan pengetahuan dan pengetahuan-yakin, mesti ditanya apakah ia tau bahwa ia ragu atau tidak. Jika menjawab ia tau bahwa ia ragu, maka bukan hanya mungkin bahkan pengetahuan secara aktual telah diakui. Jikapun, ia bilang meragukan ragu yg ada padanya, ungkap ini entah disebabkan penyakit jiwa atau niatan buruk, perlu tanggapan nonteoritis. 

Para pembela kenisbian semua pengetahuan mengklaim bahwa tak ada proposisi yang sahih secara mutlak, berlaku umum, selalu. Sesiapa boleh menanyai orang-orang itu apakah klaimnya tersebut sahih secara mutlak, berlaku umum, selalu, atau apakah ia nisbi, partikular, dan temporal. Jika itu berlaku selalu, dalam semua kasus, tanpa syarat dan tanpa kecuali, maka itulah sahih. Maka setidaknya ada satu proposisi yang mutlak, berlaku umum, selalu yang telah terbukti. Jika pengetahuan ini sendiri juga relatif berarti ia tak berlaku pada beberapa kasus. Dan, pada kasus-kasus yg ia tak berlaku itu ada proposisi yang mutlak, berlaku umum, selalu. 

Menolak Ragu Skeptis


Satu ragu yang jadi sandaran kaum sofis dan skeptis, mereka ungkap dalam berbagai bentuk, dan dengan bermacam contoh adalah: Kadang orang beroleh kepastian tentang adanya sesuatu melalui indera, namun kemudian sadar bahwa ia salah. Demikianlah seorang tau bahwa persepsi inderawi ternyata tak dapat dipercaya. Polanya lalu seperti mengemuka, persepsi-persepsi inderawi yang lain mungkin juga salah, akan datang hari saat sekian luput itu nampak juga. Demikian pula kadang seorang mendapati satu prinsip sebagai benar secara rasional, namun kemudian ia dapati bahwa penalarannya tidak tepat, keyakinannya pun berubah ke ragu. Begitulah, penalaran juga nyatanya tak dapat dipercaya. Dengan cara yang sama kemungkinan salah berimbas ke persepsi akal yang lain. Kesimpulannya tak inderawi tak pula penalaran dapat dipercaya. Tak ada yg tersisa bagi manusia kecuali ragu. 

Tanggapannya begini: 

1. Sasaran argumentasi ini adalah sampai kepada sahihnya skeptisisme, dan sampainya pengetahuan akan benarnya ia melalui penalaran, dan paling tidak menarik lawan diskusi agar menerima ide anda. Yakni, anda berharap bahwa ia akan mencapai pengetahuan tentang sahihnya klaim-klaim anda, sementara anda berkeras bahwa mencapai pengetahuan adalah mustahil mutlak. 

2. Ditemukannya kesalahan persepsi inderawi dan akli menuntun kepada pengetahuan bahwa persepsi-persepsi tersebut tak sesuai dengan realitas. Ini secara logis menunjukkan bahwa kita menerima adanya pengetahuan tentang kelirunya persepsi. 

3. Kemestian lainnya adalah kita tau bahwa ada realitas yang tak sesuai dengan persepsi keliru kita, jika tidak maka tak akan ada konsep kelirunya persepsi. 

4. Kemestian lainnya adalah bahwa kita pasti tau bahwa persepsi yang keliru dan bentuk aklinya berlawanan dengan realitas. 

5. Akhirnya, adanya orang yang keliru, begitupun indera dan akalnya pastilah diterima. 

6. Penalaran ini sendiri adalah argumentasi akli (meski cacat) dan bersandar padanya adalah  anggapan bahwa akal dan persepsinya sebagai dapat dipercaya. 

7. Sebagai tambahan, pengetahuan lain diasumsikan ada, yaitu persepsi-persepsi yang keliru itu, dalam keadaan keliru, tak mungkin benar. Jadi, argumentasi kaum skeptis itu sendiri meniscayakan diterimanya beberapa contoh pengetahuan, bagaimana seorang demikian lalu menafikan mungkinnya pengetahuan sepenuhnya, atau bahkan meragukannya?!

Semua jawab ini menyangkal argumentasi kaum skeptis. Dengan meneliti dan menunjukkan cacatnya, kita membuktikan sahih dan tidaknya persepsi inderawi dengan bantuan penalaran. Bagaimanapun, seperti telah dinyatakan, tidak benar bahwa ditemukannya salah pada persepsi akli juga berimbas ke semua persepsi akli yang lain, karena kemungkinan salah hanya dapat terjadi pada persepsi-persepsi spekulatif, yang tak swabukti. Adapun proposisi-proposisi akli swabukti yang menjadi sandaran pembuktian filosofis tidak pernah luput sama sekali, penjelasannya akan disajikan pada bab ke 19. (Dari Philosophical Instructions, oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi)

Minggu, 31 Mei 2020

11. Menuju Epistemologi

Nilai Epistemologi

Ada serangkaian soalan mendasar menghadang manusia, sebagai zat sadar yang segenap aktifitasnya muncul dari kesadaran. Jika ia abai dan gagal dalam upayanya menemukan jawab-jawab yang tepat untuk rangkaian soalan ini, ia akan mendapati dirinya melewati batas kemanusiaan menuju batas kehewanan. 

Berdiam dalam keraguan atau bertindak sembrono menghalangi manusia dari tabiatnya yang haus akan kebenaran. Selain itu menyisakan risau ihwal tanggung jawab-tanggung jawab yang menjadi kemestiannya. Seringnya ia akan terlemahkan, atau dalam beberapa kasus, menjadikannya makhluk yang berbahaya. 

Solusi-solusi yang salah dan menyimpang, semisal materialisme dan nihilisme, tak mampu memberikan kenyamanan psikologis dan kemakmuran sosial. Kita perlu mencari sebab mendasar dari kerusakan individu dan sosial berupa pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikiran yang melenceng. Karenanya, tak ada jalan lain kecuali mencari jawab untuk soalan-soalan ini dengan tekad yang mantap dan sungguh-sungguh. Mestinya kita berupaya total menancapkan pondasi kemanusiaan kita sendiri. Dengan ini membantu pula yang lain. Menghalangi pengaruh merusak pemikiran-pemikiran salah dalam masyarakat dan ajaran-ajaran menyimpang yang kini ada. 

Jelas sekarang bahwa upaya intelektual dan filosofis niscaya perlu. Tak ada ruang lagi untuk ragu atau ketak-pastian dan sembrono. Yang tersisa adalah mengambil langkah dalam perjalanan wajib yang tak terelakkan. Dengannya kita menjawab tanya berikut: Mampukah akal manusia menjawab soalan-soalan ini? 

Pertanyaan ini mengarahkan pada pembentukan inti soalan-soalan epistemologi. Hingga kita menjawab soalan-soalan cabang filsafat yang ini, kita tak akan sampai pada solusi-solusi soalan-soalan ontologi, tak pula cabang-cabang filsafat yang lain. Hingga nilai dari pengetahuan akal ditentukan, maka klaim-klaim yang dihadirkan sebagai solusi-solusi aktual untuk soalan-soalan demikian tidaklah bernilai dan tak dapat diterima. Akan selalu tersisa pertanyaan-pertanyaan bagaimana akal dapat menyajikan solusi yang tepat untuk soalan-soalan ini. 

Di sinilah banyak tokoh-tokoh filsafat barat, seperti Hume, Kant, Auguste Compte, dan semua positifis telah kebingungan. Dengan pandangan-pandangan keliru mereka telah meletakkan pondasi peradaban secara salah bagi masyarakat barat. Bahkan para pakar ilmu lain, misal psikolog behavioris, telah sesat karena mereka. Sayang, gelombang bertubi ajaran-ajaran yang menghempas dan menghancurkan itu telah menyebar ke belahan-belahan lain bumi. Menyisakan hanya filsafat ilahiah, puncak-puncak tinggi dan tebing-tebing tak tertembus yang berdiri di atas pondasi-pondasi stabil yang kokoh. Semua selainnya bisa dikata berada dalam pengaruh mereka. 

Karenanya, kita mesti berupaya mengambil langkah pertama dengan meletakkan pondasi rumah pemikiran-pemikiran filosofis kita secara kokoh dan mapan untuk lalu layak menapaki tahap-tahap selanjutnya dan sampai ke tujuan, insya Allah. 

Kilas Sejarah Epistemologi

Meski epistemologi sebagai cabang filsafat tak punya sejarah panjang sebagai ilmu yang terpisah, dapat dikatakan bahwa soalan tentang nilai pengetahuan, yang membentuk porosnya, telah muncul kira-kira sejak filsafat paling purba. Bisa jadi perhatian para pemikir terpapar dengan soalan ini saat mendapati cacat dan cela dalam penyingkapan berbagai peristiwa eksternal oleh indera. Hal inilah yang memicu kaum Eleatik untuk tak percaya dengan persepsi inderawi dan lebih bergantung pada pengetahuan rasional. 

Di sisi lain, beda pendapat para pemikir ihwal soalan-soalan rasional, dan berbagai pembuktian berlawanan yang diajukan masing-masing kelompok, untuk menguatkan  bermacam ide dan pandangan masing-masing, lalu memberi kaum sofis kesempatan menyangkal nilai pengetahuan rasional itu sendiri. Melangkah jauh di jalan ini, yakni meragu, mereka bahkan hingga menyangkal realitas eksternal. 

Setelah itu, soalan pengetahuan tak muncul secara serius hingga Aristoteles. Ia menyusun prinsip-prinsip logika sebagai standar berpikir tepat, dan penguji berbagai dalil. Setelah duapuluh sekian abad prinsip-prinsip ini masih tetap berguna. Bahkan Marxis, setelah berseteru sekian tahun melawannya, akhirnya membenarkan butuhnya manusia akan bagian dari logika. 

Setelah abad-abad yang menyuburkan filsafat Yunani, gejolak muncul dalam menilai pengetahuan inderawi dan rasional. Dua kali eropa berhadapan dengan krisis skeptisisme. Setelah Renaisans dan berkembangnya ilmu empiris, empirisisme perlahan berkuasa. Sekarang empirisisme masih mendominasi aliran pemikiran, meski para rasionalis bermunculan dari waktu ke waktu. 

Secara terbatas penyidikan sistematik pertama dalam epistemologi dilakukan oleh Leibniz di daratan eropa, dan oleh John Locke di Inggris. Demikianlah satu cabang filsafat yang mandiri terbentuk. Penyidikan Locke pun dilanjutkan oleh para penerusnya, Berkeley dan Hume. Filsafat empirisisme naik daun dan perlahan posisi para rasionalis melemah sedemikian hingga Kant, seorang rasionalispun, faktanya sangat terpengaruh oleh ide-ide Hume.

Kant mendeklarasikan bahwa perombakan pengetahuan dan penalaran merupakan tugas terpenting filsafat. Namun, ia hanya menerima berbagai kesimpulan penalaran teoritis dalam batasan ilmu-ilmu empiris, matematika, dan sekian wilayah subordinatnya. Serangan pertama dari kaum rasionalis adalah kepada metafisika. Setelah sebelumnya Hume, tokoh dominan di antara kaum empiris, telah memulai serangan tersebut dengan cukup telak, yang lalu diikuti oleh kaum positifis secara lebih serius. Selanjutnya pengaruh langsung epistemologi di ranah-ranah lain filsafat dan penalaran kian meredup, yang menandai antiklimaks filsafat barat. 

Pengetahuan dalam Filsafat Islam

Naik turun dan krisis telah menimpa filsafat barat, khususnya ranah epistemologi. Setelah rentang hidupnya yang duapuluh lima abad, filsafat barat bukan saja tak beroleh pijakan dan pondasi yang kuat. Bahkan dapat dikata dukungan baginya semakin labil. 

Filsafat islam sebaliknya, secara lestari beroleh tenaga dan kestabilan, tak pernah goncang, mengalami naik turun, apatah krisis. Kecuali beberapa kecenderungan negatif yang kadang menghadang para filosof islam, mereka telah menjaga doktrin bahwa akal adalah hal mendasar dalam mencari solusi soalan-soalan metafisik. Tanpa meremehkan pentingnya pengalaman inderawi, tak pula menyangkal perlunya metode penelitian dalam ilmu-ilmu alam, mereka bertahan menerapkan metode rasional pada soalan-soalan filosofis. 

Benturan dengan pandangan-pandangan yang berlawanan dan bergulat dengan berbagai kritik, jauh dari menjadikan para filosof islam lemah, justru menguatkan dan meningkatkan keterampilan mereka. Karena alasan inilah, pohon filsafat islam terus tumbuh dan makin berbuah dari hari ke hari, bahkan tahan dan imun terhadap serangan-serangan para seterunya. Ia kini mampu sepenuhnya mempertahankan posisinya yang layak dan melibas para pesaingnya. 

Beberapa kecenderungan yang kurang lebih berbenturan dengan filsafat punya dua sumber utama. Di satu sisi ada kaum yang menilai beberapa pandangan filsafat sebagai bertentangan dengan tafsir-tafsir literal dari Kitab dan hadis, khawatir bahwa tersebarnya filsafat akan melemahkan keimanan orang-orang. Di sisi lain ada urafa (kaum gnostik) yang menekankan pentingnya perjalanan ruhani, takut bahwa kecenderungan-kecenderungan filosofis akan mengarah kepada pengabaian laku gnosis dan minimnya kemajuan dalam perjalanan batiniah. Merekapun mengabaikannya, mengklaim bahwa para rasionalis hanya memakai kaki kayu. (Lihat Matsnawi, oleh Maulana Jalaluddin Rumi) 

Orang mestinya sadar bahwa agama yang benar seperti Islam sejati tak akan pernah terancam oleh ide-ide para filosof. Terlepas dari berbagai kekurangan dan penyimpangan ide-ide tersebut, dengan pertumbuhan dan kematangan filosofis setelah melalui fasa mentah dan naifnya, doktrin-doktrin Islam akan tampil ke depan dan kebenarannya akan makin jelas. Filsafat malah jadi pelayan (Islam) yang penting dan tak terganti di satu sisi dengan menjelaskan ajaran-ajarannya yang luhur, di sisi lain dengan membelanya dari berbagai aliran pemikiran yang sesat dan berbahaya, sebagaimana telah dan akan terus ia lakukan dengan semakin baik, insya Allah. 

Perjalanan ruhani dan gnostik tak sedikitpun bertentangan dengan filsafat ilahiah; bahkan ia membantu dan terbantu olehnya. Mesti dicatat bahwa serangkaian ketegangan ini benar berguna dalam menghindarkan fanatisme dan ekstrimisme, pun dalam menentukan sekian batas masing-masing. 

Karena kokoh, tak tergoyahkannya posisi akal dalam filsafat islam, tak mengemuka perlunya studi rinci tentang soalan-soalan pengetahuan secara metodis dan sistematis sebagai cabang filsafat yang mandiri. Tak lebih dari beberapa topik acak tentang pengetahuan, yang ada pada beberapa bab logika dan filsafat, dianggap memadai, misal dalam satu bahasan tentang ajaran sofis saat kekeliruannya dibahas, juga dalam bahasan tentang pembagian ilmu dan prinsip-prinsipnya. Bahkan soalan wujud akli, satu dari sekian topik relevan bagi soalan-soalan pengetahuan, tak berkembang sebagai topik mandiri hingga Ibn Sina. Bahkan setelahnya, semua sudut dan sisi dari masalah tersebut belum secara serius diteliti dan dikaji. 

Menimbang kondisi yang ada kini, saat pemikiran barat telah nyaris masuk ke kultur masyarakat kita, muncul berbagai tanya tentang sekian aksioma filsafat ilahiah, soalan-soalan filosofis tak lagi dapat dibatasi pada kerangka yang lama, pembahasan tak lagi dapat dibawakan dengan cara-cara tradisional. Bukan hanya karena cara-cara tersebut mencegah tumbuh kembang filsafat melalui pertukaran antar aliran pemikiran, pun menjadikan kaum terpelajar kita, yang mau tak mau telah dan akan makin akrab dengan pemikiran barat, pesimis tentang filsafat islam, menghadirkan bayang bahwa filsafat islam telah kehilangan aji dan tak mampu bersaing dengan berbagai aliran filsafat lain. Bahkan hari demi hari kecenderungan mereka kepada budaya barat makin bertambah, dengan dampak-dampaknya yang merusak. Situasi seperti ini nampak di banyak universitas kita selama rezim sebelumnya [yakni rezim Pahlevi di Iran]

Melunasi hutang kita kepada revolusi islam dan darah suci yang tumpah untuk itu, pun memenuhi tanggung jawab ilahiah kita, kita mesti menambah upaya untuk menjelaskan pondasi-pondasi filsafat dan menyebarkannya sedemikian hingga ia dapat menjawab sekian keraguan yang dimunculkan oleh berbagai aliran pemikiran yang amoral dan ateistik, pun kita mesti peduli akan kebutuhan akan keyakinan dan memungkinkannya terjangkau oleh kaum muda yang mencari dan meneliti kebenaran, sehingga pengajaran filsafat islam dapat menyebar, pada gilirannya budaya islam mampu bertahan dari rong-rongan berbagai ide asing. 

Definisi Epistemologi

Sebelum mendefinisi epistemologi [ilmu tentang pengetahuan] perlu kiranya mengurai kata pengetahuan. Kata yang semakna dengan ma'rifah dalam bahasa Arab ini memiliki beberapa penggunaan. Makna umumnya meliputi segenap mafhum, kesadaran, informasi. Kadang digunakan untuk persepsi khusus, kadang untuk pengenalan. Kadang ia digunakan untuk pengetahuan yang bersesuaian dengan realitas secara meyakinkan. Ada beberapa perdebatan dalam filologi dan etimologi tentang sinonim bahasa asingnya, yang bukan tempatnya diungkap di sini. 

Pengetahuan sebagai objek ilmu epistemologi dapat dipahami mengandung makna-makna tersebut atau selainnya. Faktanya ia hanya bersandar pada kesepakatan. Namun karena sasaran telaah soalan-soalan epistemologis tidak khusus untuk pengetahuan spesifik manapun, baik digunakan saja makna lazimnya yakni setara dengan pengetahuan dalam pahaman umum. 

Konsep pengetahuan adalah satu dari sekian konsep yang paling jelas dan swabukti [membuktikan dirinya sendiri], bukan hanya tak perlu definisi, pun mustahil didefinisi, karena tak ada term lain yang lebih mafhum untuk mendefinisinya. 

Berbagai frasa dan pernyataan yang digunakan dalam buku-buku filsafat dan logika sebagai definisi pengetahuan dan ilmu bukanlah definisi-definisi asli. Tujuan penyebutannya adalah untuk membatasi cakupan-cakupannya dalam ilmu atau ranah studi tertentu. Misal, logikawan mendefinisi pengetahuan sebagai "beroleh bentuk sesuatu dalam benak", yang  maksud definisi ini adalah menentukan cakupan yang dimau yakni "pengetahuan tak langsung". Atau, merujuk kepada pandangan beberapa filosof ihwal soalan-soalan tertentu ontologi  yang mendefinisi pengetahuan sebagai "hadirnya wujud nonmateri pada wujud nonmateri lain", atau "hadirnya sesuatu pada wujud nonmateri". Sasaran definisi-definisi ini adalah menyatakan pandangan mereka tentang ke-nonmateri-an pengetahuan dan subjeknya. 

Jikapun kita menjabarkan pengetahuan, lebih baik dikatakan bahwa ia adalah hadirnya sesuatu itu sendiri atau bentuk tertentunya atau konsep umumnya dalam satu wujud nonmateri. Kita bilang juga bahwa tak perlu bahwa pengetahuan dan subjek yang tau harus selalu lain. Tak mustahil, sebagaimana kesadaran seorang akan dirinya, bahwa tak ada beda antara subjek dan objek pengetahuan. Nyatanya dalam kasus-kasus demikian kesatuan adalah contoh paling tepat untuk kehadiran. Per definisi kita telah menghadirkan kata pengetahuan. Dengan demikian epistemologi adalah "ilmu yang membahas pengetahuan manusia, memilah jenis-jenis, dan kriteria-kriteria kesahihannya". (Dari Philosophical Instructions, oleh Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi)

Rabu, 15 Agustus 2018

Meniru Nabi

Meniru Nabi

Catatan ini akan banyak mengutip ungkapan alQuran. Bukan karena ahli alQuran, atau kompeten dalam menafsirkannya, atau paham sepenuhnya Islam Muhammadi. Saya adalah pelajar yang memandang argumen-argumen sebagai bagian dari sarana berpengetahuan, berkeyakinan. Allah, saya berharap hanya kepada Anda. Sampaikanlah kami kepada pengetahuan! Sampaikan kepada keyakinan! Lebih dari itu, sampaikan kami kepada kerelaan Anda! Demi benarnya Muhammad, kekasih Anda, juga keluarga Muhammad, para pilihan Anda. ###

"Katakan! Jika kalian mencinta Allah maka tirulah saya (Muhammad), Allah akan mencinta kalian dan mengampuni untuk kalian dosa-dosa kalian..." (Ali Imran: 31)

Salah satu bagian yang unik dari ungkapan alQuran ini "tirulah saya". Tidak dinyatakan dengan tirulah yang seperti saya. Tak disebutkan dengan ikuti kata-kata saya. Tak pula dinyatakan dengan taatilah saya. Seolah beliau dihadirkan oleh representasi yang identik dengan beliau sendiri. Di zaman manapun yang mendengar ungkapan alQuran. Seolah beliau sendiri hadir bersama ungkapan agung tsb. ###

"Dan mereka yang ingkar (akan) bilang: Andai saja diturunkan kepadanya satu tanda dari Tuannya. Anda hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan untuk setiap kaum (ada) seorang pemberi petunjuk." (arRa'd: 7)

Sebagian kaum adalah mereka yang tidak mampu menerima argumentasi dalam bentuk pengetahuan dan penalaran. Lebih tepatnya enggan berpikir, berlogika, berdialektika. Itulah mereka yang merasa asing dengan agama yang dibawa Muhammad saw. Agama yang sebenarnya hanya bisa tegak di atas pondasi pengetahuan kokoh tentang kosmos, penciptaan, ketuanan, ketuhanan.

Sebagian orang adalah kaum yang instan. Kaum yang ingin dimanjakan dalam keberimanannya dengan mukjizat material yang terindera langsung olehnya. Mereka hanya akan percaya kepada seruan kepada kebenaran jika dihadirkan mukjizat material dihadapannya. (Saya jadi ingat acara di tv yang gemar mengulang-ulang ungkapan "Mukjizat itu nyata! Mukjizat itu nyata!") Termasuk dalam masyarakat yang hidup sezaman dengan Nabi saw.

Menanggapi mereka ini Allah mengingatkan Nabi. Wahai Nabi, katakan kepada kaum yang malas menalar itu! Mukjizat bukanlah mainan untuk menyenangkan mata. Sementara anda bukan pula badut bagi mereka. Bukan pada tempatnya bahwa anda membawa mukjizat material kemana-mana. Hanya Allah, Tuan anda, yang berhak menentukan kapan dan di mana mukjizatNya harus ada. Tetapi anda adalah seorang pemberi peringatan, yang terhormat, tentang akhir pedih bagi mereka yang mengingkari pengetahuan dan fakta.

Bagi mereka yang membuka hati dan penalaran untuk kebenaran, Allah menyampaikan sebuah tanda yang besar. Bahkan melebihi hebatnya mukjizat inderawi manapun. Tidak dinyatakan terpisah dari konteks ayat tsb. (Menurut saya ini bentuk komunikasi efisien yang unik. Satu pernyataan ringkas dengan banyak maksud yang saling menguatkan.)

Satu tanda bahwa Muhammad saw seorang utusan yang benar adalah bahwa dalam setiap zaman, bagi ummatnya, bagi umat manusia yang diistimewakan dengan kenabian beliau, ada seorang pemberi petunjuk. ###

"...maka siapa mengikuti/meniru petunjukKu, maka tiada (satu) takut pada mereka. Dan mereka tak akan bersedih." (alBaqarah: 38)

Allah menentukan bahwa hak Dia untuk memberi petunjuk. Adalah wewenangNya menentukan siapa sosok yang merepresentasikan petunjukNya itu.

"Bukan (kewajiban) pada anda (Muhamad) petunjuk mereka, tetapi Allah akan memberi petunjuk siapa yang Dia mau..." (alBaqarah: 272) ###

"Dan siapa (ingin) mentaati Allah dan rasulNya maka mereka itu bersama yang nikmat Allah atas mereka. Dari para nabi, juga kaum yang membenarkan, juga para saksi, juga kaum yang saleh. Dan mereka itulah sahabat karib yang terbaik." (anNisa: 69)

Para pemberi petunjuk, di antara ummat Muhammad saw, yang ditunjuk oleh Allah, ditandai dengan karakter-karakter berikut. Membenarkan Muhammad, menjadi saksi (ketuhanan, kenabian, pengadilan akhirat), saleh. Karakter mereka bahkan setara dengan para nabi, meskipun mereka bukan nabi.

"...(mereka bilang): Kami tak membeda-bedakan satu-satu sebagian rasulNya. Dan kami bilang: Kami mendengar dan kami patuh. (Kiranya) ampunan Anda untuk kami, Tuan kami! Dan adalah menuju Anda perjalanan ini." (alBaqarah: 285)

"Muhammad rasul Allah. Dan mereka yang bersamanya tegas kepada para pengingkar, berkasih sayang di antara sesamanya. Anda lihat mereka gemar rukuk, gemar sujud, berharap karunia dari Allah dan kerelaanNya..." (alFath: 29)

Dan kabar baiknya masih banyak lagi tanda-tanda para pemberi petunjuk ini dinyatakan dalam alQuran. ###

Namun demikian, mengapa alQuran hanya memuat tanda-tanda para pemberi petunjuk? Mengapa tidak dinyatakan secara tersurat saja siapa para pemberi petunjuk itu? Sampai-sampai Ali bin Abu Talib as, cahaya terang di sebelah dan setelah Muhammad saw, tak dituturkan namanya dalam alQuran. Allah lebih tahu bagaimana menjawab soalan ini. Mungkin ungkapan berikut adalah sebuah isyarat.

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah adalah penyempurna cahayaNya meski para pengingkar membenci." (asSaf: 8)

Menarik dibaca:
* An Enlightening Commentary into the Light of the Holy Qur'an vol. 8. Versi buku elektroniknya dapat diunduh di link berikut. https://www.al-islam.org/enlightening-commentary-light-holy-quran-vol-8

Sabtu, 04 Agustus 2018

Bahagia?


bahagia?

Berikut adalah menurut kbbi. Mungkin tak sama persis dengan yang ada pada benak masing-masing kita, namun anggap saja sebagai definisi yang dipakai dalam catatan ini.

bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan): -- dunia akhirat; hidup penuh --;2 a beruntung; berbahagia: saya betul-betul merasa -- karena dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga;

Rasanya, buat saya, mirip dengan puas.

puas/pu·as/ a1 merasa senang (lega, gembira, kenyang, dan sebagainya karena sudah terpenuhi hasrat hatinya): ia merasa -- sebagai penyanyi; ia merasa -- melihat pekerjaan murid-muridnya; baru -- hatinya, kalau dapat mencelakakan saingannya2lebih dari cukup; jemu: -- merasakan hinaan dan nistaan; -- bertanya-tanya, tiada seorang pun yang tahu;

Kurang lebih sama dengan senang.

senang/se·nang/ a 1 puas dan lega, tanpa rasa susah dan kecewa, dan sebagainya: ia menyelesaikan pekerjaan itu dengan --; hatiku -- kini setelah semua tugas terselesaikan; 2 betah: saya selalu -- tinggal di daerah yang dingin; 3berbahagia (tidak ada sesuatu yang menyusahkan, tidak kurang suatu apa dalam hidupnya): ia cukup -- dengan kehidupannya sekarang; 4 suka; gembira: dengan -- ia menyambut kelahiran bayinya; 5sayang: orang tuanya -- kepada calon menantunya; 6 dalam keadaan baik (tentang kesehatan, kenyamanan, dan sebagainya): sudah beberapa hari ini saya merasakan tidak --; kami selalu dalam keadaan --; 7 mudah; serba mudah; praktis: --memakai kompor ini;-- di balik -- , ki marah; jengkel; -- hati, ki gembira dalam hati;

Dalam bahasa inggris, bahagia, tampaknya sejajar dengan contentment, atau complacency, atau pleasure. ###

Ada sebagian orang menyamakan bahagia dengan kata أفلح dalam bahasa alQuran. Seperti dalam Taha: 64, atau alMu'minun: 1. Dari akar kata yang sama ada تفلحون  seperti pada alBaqarah: 189, atau Ali Imran: 130. Atau menyamakan bahagia dengan فلاح, seperti dalam bait azan dan iqamat.

Setiap orang memang bebas mendefinisi apapun sesukanya. Namun demikian, mungkin perlu dipertimbangkan bahwa yang berhak atas definisi adalah si empunya pernyataan.

Allah, sebagai pembuat pernyataan, yakni dalam hal ungkapan alQuran, harusnya yang paling layak mendefinisi apa itu أفلح, atau apa تفلحون yang Dia maksud.

Kata أفلح yang muncul dalam Taha: 64, alMu'minun: 1, alA'la: 14, asySyams: 9. Dalam Surah asySyams, jika dicermati, Allah seolah mendefinisi أفلح dengan menyebutkan lawan katanya, yakni خاب yang sebagian maksudnya adalah menjadi tiada, tak berhasil, gagal.

Berhasil=bahagia? Mungkin ilustrasi ini akan sedikit membantu. Akankah seorang berbahagia saat berhasil berbuat jahat?

Namun begitu, saya tidak tahu jika dalam alam penyingkapan atau semisalnya, yang dialami sebagian orang, bahwa sukses atau keberhasilan adalah sama dengan bahagia. ###

Sebagian orang mencari konsep bahagia dalam Islam. Menyampaikan kepada alBaqarah: 38 misalnya. "...maka siapa mengikuti petunjukKu, maka tiada takut pada mereka, dan mereka tak akan bersedih." Atau alMaidah: 119, "...Allah ridha dengan mereka dan mereka ridha denganNya. Itulah kemenangan yang besar."

Mungkin benar bahwa bahagia (diri), dalam konteks ayat-ayat tsb, adalah hal yang berharga. Namun demikian, jika diperhatikan, dalam ayat-ayat alQuran, konteks "bahagia" selalu menjadi keterangan tambahan dari ketaatan kepada Allah, atau kerelaan Allah. Yakni, dalam bahasa alQuran, bahagia (diri) bukanlah tujuan akhir. Ia bukan titik, tapi koma. Seperti diungkapkan secara gamblang dalam ayat berikut. "Dan di antara manusia ada yang mau menjual dirinya demi kepuasan Allah." (alBaqarah: 207) ###

Menarik dibaca:
* An Enlightening Commentary into the Light of the Holy Quran vol. 11. Versi buku elektroniknya dapat diunduh di link berikut. https://www.al-islam.org/enlightening-commentary-light-holy-quran-vol-11
* https://www.almaany.com/en/dict/ar-en/أفلح/
* https://www.almaany.com/en/dict/ar-en/خاب/

Kamis, 02 Agustus 2018

Islam 100%

Islam 100%

Islam adalah ajaran yang diturunkan untuk segenap manusia. Oleh Allah, sebagai bentuk kasihNya, disampaikan melalui segenap utusan mulia, dari Adam (as) hingga sang Nabi terakhir, Muhammad (saw). Sebagai satu ajaran yang utuh, dalam masa kenabian terakhir, Islam dibawa, dipahami, diamalkan, disampaikan, dijaga oleh Muhammad (saw). Pada masa ini beliaulah Islam itu sendiri. Sementara manusia lain, pada masa kenabian beliau, semuanya, adalah pelajar, peniru Islam, di hadapan beliau.

Namun demikian, salah satu kehilangan terbesar dalam sejarah manusia tampaknya harus terjadi. Muhammad (saw) berpulang pada tahun ke-10 hijrah, bertepatan dengan tahun ke-632 masehi. (Allah lebih tahu betapa besar kehilangan yang dirasakan kaum beriman dengan terputusnya wahyu, dengan wafatnya sang Nabi). Apakah kemudian Islam sebagai satu ajaran yang utuh terkubur bersama jasad mulia beliau?

Mari kita simak ilustrasi yang melatari tanya tsb. Ini adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman saja, mungkin bukan yang paling tepat, tapi insyaAllah menyampaikan maksud yang ingin saya sampaikan.

Katakan bahwa Muhammad (saw) adalah manifestasi sempurna Islam, seperti diungkap sebelumnya. Generasi yang belajar langsung tentang Islam kepada Nabi (saw) disebut dengan para sahabat (Nabi). Generasi yang selanjutnya belajar tentang Islam kepada para sahabat disebut tabiin. Dst.

Para sahabat beragam dalam hal kecerdasan, kesungguhan, juga lamanya belajar dari Nabi. Dari segi lamanya berinteraksi dengan Nabi misalnya. Ada sepupu Nabi, sekaligus anak angkat, juga menantunya yang telah mengenal dekat siapa Nabi, selama masa kerasulan, bahkan lebih lama lagi. Ada Abu Bakar, pedagang yang memeluk Islam pada masa awal kenabian, sebagai orang pertama di luar keluarga Muhammad yang mengakui kenabian beliau. Ada Abu Hurairah yang berislam sejak empat tahun menjelang wafat Nabi. Dengan asumsi bahwa ada bias dalam penerimaan ajaran Islam dari Nabi kepada para sahabat ini, atau setidaknya fakta bahwa Nabi tidak selalu bersama dengan masing-masing sahabat, maka kemudian apa yang ada pada Nabi tak sama persis dengan apa yang ada pada masing-masing sahabat.

Katakan bahwa Muhammad (saw) adalah Islam 100%, Abu Bakar memahami Islam 90%, Umar memahami 70% dari Islam, dst. Setelah itu ada generasi tabiin yang berguru tentang Islam kepada para sahabat, tentunya dengan kadar pemahaman yang lebih rendah dari para sahabat utama Nabi. (Toh?) Demikian seterusnya hingga kita yang hidup ratusan tahun, seribuan tahun lebih setelah Nabi wafat. Alhasil, berapa persen keislaman kita, atau keislaman para ahli Islam di zaman kita? 10%? 5%? Silahkan perhatikan narasi yang dibangun oleh sebagian orang yang menyatakan bahwa generasi terbaik adalah para sahabat. Setelah itu adalah tabiin. Setelahnya adalah tabiit tabiin. Dst. Betapa malang nasib anda, saudara! Anda lahir teramat jauh dari zaman Nabi. Anda lahir teramat jauh dari zaman dan predikat "terbaik". Takdir, terima saja!(?)

Jika dirunut kembali ke belakang pada saat Nabi saw berpulang, dengan teori keberagamaan seperti disebutkan, maka sebenarnya Islam sudah tiada. Mengapa? Bukankah yang ada adalah 90% Islam, 70% Islam, dst, bukan Islam sebagai satu bangunan utuh? Adakah yang akan bilang bahwa Islam tetap ada 100% dengan menggabungkan keislaman masing-masing sahabat? Saya berani jamin tak ada yang dapat menunjukkan Islam 100% seperti apa, dengan teori semacam itu.

Atau apakah Islam itu maksudnya semangat, spirit semata, tanpa rincian amaliah yang tertentu? Dalam Islam ada ajaran salat misalnya. Jika niatnya benar maka salatnya benar? Apakah salat yang beragam, masing-masing mazhab punya cara salatnya sendiri, itu benar semua (bergantung niatnya)? ###

Mari sejenak kembali kepada salah satu sumber ajaran Islam paling terpercaya. Yang diakui posisinya sebagai rujukan utama semua muslim. AlQuran. (Atau ada yang meragukan posisi dan keaslian alQuran? Bisa, bisa banget didiskusikan. Sambil ngopi?) Jadi apa yang alQuran katakan tentang polemik ini?

"Wahai sekalian kaum beriman masuklah dalam Islam, semua!..." Atau "Katakan: Jika kalian mencintai Allah maka tirulah saya (Muhammad)!..."

Apakah dengan ungkapan ini Allah bercanda? Mustahil menjadi seperti Nabi, yakni Islam 100%, tapi Allah mengajak semua mukmin menjadi seperti Nabi? Apakah Dia pernah bergurau dengan ungkapan semisal "Wahai sekalian manusia jadilah kecebong atau kampret (secara harfiah)!"? Perlukah Allah membanyol hanya untuk menyenangkan anda?

"Ia (alQuran) sungguh satu pernyataan tegas. Dan ia bukanlah candaan."

Semakin jauh menyelami alQuran dengan dada dan pikiran terbuka akan anda dapati bahwa menjadi seperti Nabi, bukanlah pepesan kosong. Itu bukan candaan sama sekali. Itu kalau belajar dari ahlinya. Siapa? Ya, Nabi lah. Atau yang serupa dengan beliau. Emang ada? ###

Alkisah. Kaum Nasrani dari Najran meyakini bahwa Isa bin Maryam adalah tuhan. Argumennya adalah bahwa ia tak punya ayah biologis. Pada Surah Ali Imran: 59 alQuran menjawab argumen tsb. "Perumpamaan Isa di sisi Allah sungguh seperti Adam. Dia menciptanya dari debu. Lalu Dia bilang kepadanya 'Jadi!' Maka terjadi."

Menjawab lebih lanjut keyakinan kaum Nasrani tsb Allah mempersilahkan Nabi, disertai orang-orang terdekatnya, mengajak kaum Nasrani bermubahalah. Yakni beradu doa di area umum, agar pihak yang klaimnya salah beroleh bencana dan kehancuran seketika. Tertarik dengan kelanjutannya? Silahkan cari buku tentang "mubahalah".

Kembali ke topik kita. Adapun yang menarik tentang kisah ini adalah bagaimana Allah dan alQuran mengungkapkan secara harfiah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Khususnya dari pihak Muhammad (saw).

"...maka katakan! Mari kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kalian, juga perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, juga diri-diri kami dan diri-diri kalian, lalu kita bermubahalah..."

Salah satu yang paling menarik adalah bagaimana Allah menyebutkan sebagian peserta mubahalah dengan ungkapan "diri-diri kami". Yakni orang selain Nabi yang Allah samakan dengan diri Nabi. ###

Seolah ayat-ayat tentang mubahalah tsb ingin mengungkapkan siapa ulul amr (secara harfiah: para pemilik otoritas) dalam Surah anNisa: 59. "Wahai kaum beriman sekalian taatilah Allah, taati pula sang Rasul dan ulul amr dari kalian..."

Betapa dalam ayat tsb ketaatan kepada ulul amr disandingkan dengan ketaatan kepada Allah dan rasulNya. Silahkan cermati bahwa secara tekstual ketaatan kepada ulul amr dalam hal ini tanpa syarat sebagaimana ketaatan kepada Allah, pun rasulNya. Mengapa demikian? Karena ulul amr dalam ungkapan Allah disetarakan dengan sang Rasul, seperti diungkapkan dengan frasa "diri-diri kami" pada rangkaian ayat mubahalah. ###

"Dan mereka yang ingkar akan bilang 'anda bukan seorang rasul'. Katakan! 'Cukuplah Allah sebagai saksi antara saya dan kalian, juga dia yang padanya pengetahuan sang kitab.'" (AlQuran Surah arRa'd: 43)

Sang kitab dalam hal ini adalah ungkapan lain untuk kitab yang terang, lembaran yang terjaga. Lauhul mahfuz.

Bagian akhir ayat ini seolah turut menjelaskan siapa ulul amr. Bukankah wajar bahwa seorang pemegang otoritas atas segenap manusia adalah setara dengan Nabi, juga seorang yang tahu tentang ilmu dalam lauhul mahfuz? Dan berita baiknya masih banyak lagi ayat lain yang turut menjelaskan siapa ulul amr. ###

Silahkan bertanya kepada para pakar sejarah Islam tentang siapa sosok yang dimaksud dengan ulul amr, atau "diri-diri kami", atau dia yang padanya ilmu sang kitab! Itu adalah orang yang sama. Itulah Islam 100% sebagaimana Nabi (saw). Para pakar itu tak akan punya sandaran kuat untuk menolak bahwa itu adalah tentang bin Abu Talib, Ali. ###

Menarik dibaca:
* AlQuran, Surah Ali Imran: 19, tentang Islam sebagai agama yang benar
* ibid, Surah Ali Imran: 59-61
* ibid, Surah Yunus: 61, tentang kitab yang terang
* ibid, Surah alBuruj: 22, tentang lembaran yang terjaga
* ibid, Surah alMaidah: 3, tentang Islam sebagai agama yang disenangiNya
* ibid, tentang lengkap dan tuntasnya agama (dengan kenabian Muhammad)
* ibid, Surah Ali Imran: 31, tentang meniru Muhammad (saw)
* ibid, Surah alBaqarah: 108
* ibid, Surah atTariq: 13-14
* ibid, Surah anNisa: 59
* ibid, Surah arRa'd: 43
* https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Hurairah
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakr
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ali
* https://id.m.wikipedia.org/wiki/Najran
* https://muslim.or.id/2406-inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html
* Imamate and Infallibility of Imams in the Quran, oleh Ridha Kardan. versi buku elektroniknya dapat diunduh di link ini. https://www.al-islam.org/imamate-and-infallibility-imams-quran-ridha-kardan