Pendidikan, mestinya...
Seorang bocah bilang kepada teman sebayanya. Tentang menjadi dewasa. "Enak kali ya jadi dewasa.... Tubuh kita kuat. Tampan, atau kalo perempuan jadi cantik. Bisa suka-suka... gak disuruh-suruh sama ortu gini gitu... Blablabla..." Dewasa dalam sudut pandang bocah. Dewasa khayali bisa dibilang. Kira-kira bermanfaat gak omongan kayak gini, dari sudut pandang menjadikan dewasa? Untuk temannya, atau untuk si bocah sendiri?
Atau dalam kasus yang pernah saya temui seorang yang biasa merokok bilang kepada anaknya. "Nak jangan ngerokok ya! Gak sehat." Ada manfaatnya gak ya kata-kata gini? Buat si anak, buat si perokok?
Pendidikan dikatakan penyampaian nilai-nilai dari guru kepada murid. Tapi nilai-nilai apa? Kesehatan jasmani dan panjang umur? Intelektualitas? Kreativitas? Bertahan hidup? Kesehatan emosi? Atau apa?
Dalam tataran terminologi penyampaian nilai apapun kemudian dapat dikatakan sebagai pendidikan. Lalu di sebelah mana positifnya term "pendidikan" dong?
Dalam satu konsep kosmologi dikatakan bahwa sarana hidup yang paling penting bagi manusia adalah hati. Jika segenap sarana hidup manusia diibaratkan sebuah kerajaan, hati inilah yang mestinya berkuasa. Jika hati condong kepada sang Tuan, segenap kerajaan diripun akan menjadi seperti para malaikat yang selalu mentaatiNya. Jika hati condong kepada selain sang Tuan, segenap kerajaan diri akan seperti tempat yang penuh kekacauan dan pemberontakan kepadaNya.
Mungkin ada yang bertanya. Di mana tempatnya akal, penalar, dalam konsep kosmologi ini? Bukankah ia sarana hidup manusia yang paling dewasa, yang paling cerdas? Benar bahwa akal adalah sarana paling cerdas pada manusia, pada awalnya. Namun demikian akal bukanlah sarana dengan kapasitas berkehendak, pun mencinta. Sementara hal yang paling utama pada manusia adalah kehendaknya, dan cintanya. Hal yang signifikan pada manusia adalah niatnya, pun apa yang jadi cintanya. Karena itulah kemudian akal menjadi penasehat dalam kerajaan diri, sementara hati sebagai rajanya.
Pendidikan, dengan demikian, mestinya adalah upaya mejadikan rajanya segenap sarana hidup manusia, yakni hati, sebagai sosok yang dewasa. Yakni sosok yang senang dengan ketaatan kepadaNya, sosok yang benci akan pembangkangan kepadaNya. Hal ini karena hati adalah wujud yang bodoh pada awalnya, diibaratkan seperti bayi yang hanya dapat mendengar, tak mampu melihat, tak mampu berucap pun berdalil.
Hati siapakah yang kemudian jadi target pendidikan? Hati istri/suami kita? Hati anak-anak kita? Hati semua orang?
Mungkin kepedean, tidak pada tempatnya hati yang buta dan bisu berkhayal jadi pendidik bagi hati-hati lain yang serupa.
Maka tugas manusia kemudian adalah mengajari hatinya sendiri, sembari mengiba kepada sang Sebab kedewasaan hati, sembari mengajak hati-hati yang lain belajar bersama.
Akhir kata. Adakah gunanya ocehan bocah tentang kedewasaan khayali ini? Mungkin tidak. Ah sudahlah...
Mereka yang berjuang dalam Kami pasti akan Kami sampaikan kepada jalan-jalan Kami. Dan Allah sungguh bersama para pelaku kebaikan.
Label
- AlQuran (26)
- Filsafat (10)
- epistemologi (10)
- Akhlak (9)
- Tauhid (9)
- Logika (8)
- Misbah Yazdi (8)
- etika (3)
- pengetahuan (3)
- idea (2)
- kognisi (2)
- nilai (2)
- Hukum (1)
- abstraksi (1)
- diri (1)
- empiris (1)
- fakta (1)
- ideal (1)
- ilmu hudhuri (1)
- ilmu husuli (1)
- imaterial (1)
- inderawi (1)
- kenyataan (1)
- materialisme (1)
- mental (1)
- metafisika (1)
- nilai pengetahuan (1)
- pembenaran (1)
- pemikiran (1)
- pengetahuan akli (1)
- pengetahuan inderawi (1)
- pengetahuan langsung (1)
- pengetahuan tak langsung (1)
- positifis (1)
- positivisme (1)
- rasionalis (1)
- realita (1)
- universal (1)
Rabu, 06 Juni 2018
Selasa, 05 Juni 2018
5. Penciptaan atau persekutuan
5. Penciptaan atau persekutuan
Penciptaan kurang lebih telah dijelaskan sebelum ini. Adapun persekutuan maksudnya adalah beberapa subjek yang bekerjasama menghasilkan satu atau banyak objek/akibat. Contoh mudah persekutuan adalah proses pembuatan meja, seperti dicontohkan sebelumnya. Dalam pembuatan meja ada bahan gerak, yakni kayu atau potongan-potongan kayu, ada pula alat-alat gerak, yakni apa-apa yang menyampaikan bahan kepada akhir gerak, yakni meja. Beberapa alat gerak dalam contoh meja adalah Pak Karyo, ide tentang bentuk meja, ide tentang fungsi yang diharapkan dari meja, alat-alat pertukangan, waktu pengerjaan.
Dalam pembuatan meja tersebut setidaknya ada 2 subjek. Subjek pertama adalah pencipta materi, yakni yang mengadakan materi-materi, termasuk kayu dan bahan-bahan lain yang kemudian menjadi alat-alat pertukangan, bahkan mengadakan tubuh Pak Karyo dan energi materialnya, juga menentukan hukum-hukum yang berlaku di alam materi, yakni kayu jika mengalami gesekan tertentu dapat mengalami perubahan bentuk atau terpotong, energi yang tersimpan di tubuh dapat diubah menjadi gerak tangan, gesekan yang sedemikian akan membutuhkan waktu sedemikian untuk memotong kayu setebal-lebar sekian, dst. Subjek kedua adalah Pak Karyo. Setelah mengamati dan mempelajari hukum-hukum yang berlaku di alam materi maka Pak Karyo dapat memanfaatkan hukum-hukum tersebut untuk mewujudkan idenya, yakni bentuk dan fungsi meja. Perhatikan bahwa Pak Karyo dalam hal ini tidak menentukan atau menguasai hukum-hukum yang berlaku di alam materi, dia hanya memanfaatkan hukum-hukum itu untuk kepentingannya. Kemudian pendeknya dapat dikatakan bahwa Pak Karyo bersekutu dengan pencipta materi untuk mewujudkan meja.
###
Jadi mana yang hakikatnya terjadi, penciptaan atau persekutuan, atau keduanya?
Ihwal mengadakan ini jelas akan lebih mudah dijelaskan jika diasumsikan sebagai penciptaan. Dalam kasus mengadakan meja di atas, misalnya, katakan saja ada pencipta materi dan ada Pak Karyo. Keduanya diciptakan oleh satu pencipta yang sama. Atau Pak Karyo diciptakan juga oleh pencipta materi. Selesai sudah penjelasannya.
###
Ketika mewujudkan meja, seperti contoh kita, ingin dijelaskan dengan konsep persekutuan?
Ada 2 subjek berbeda, pencipta materi dan Pak Karyo. Ada 2 kehendak berbeda, milik pencipta materi dan milik Pak Karyo. Ketika penjelasan hanya sampai di sini maka seolah ada keterpisahan antara wujud pencipta materi dan wujud Pak Karyo.
Ketika yang ada di antara keduanya hanya keterpisahan maka keduanya hakikatnya tidak akan pernah berhubungan, tak akan bersekutu, termasuk dalam mengadakan meja, atau apapun. Sementara dalam kasus contoh kita keduanya bersekutu, termasuk dalam mengadakan meja, maka mestinya ada keterkaitan antara keduanya. Bagaimana itu?
Hanya ada 2 alternatif jawaban untuk hal ini. Pertama, pencipta materi hakikatnya adalah pencipta Pak Karyo juga. Wujud Pak Karyo dengan demikian adalah gambaran atau perwujudan dari wujud sang pencipta materi. Pencipta materi juga mewujudkan dalam diri Pak Karyo kebebasan berkehendak termasuk dalam mempelajari dan memanfaatkan materi dan hukum-hukumnya. Dengan begitu kehendak Pak Karyo hakikatnya adalah gambaran atau perwujudan dari kehendak sang pencipta materi itu juga.
Kedua, pencipta materi dan Pak Karyo diciptakan oleh satu pencipta yang sama, katakan A. Dengan begitu wujud pencipta materi dan wujud Pak Karyo adalah gambaran atau akibat A. Demikian pula kehendak pencipta materi dan kehendak Pak Karyo adalah dalam lingkup kehendak A. Inilah maka pencipta materi dan Pak Karyo kemudian terpisah sekaligus terkait dalam semesta yang diwujudkan oleh A.
Lho kok?
###
Menarik di baca:
* Sebab-akibat, dalam buku "Logika (itu) Mudah", oleh penulis
Penciptaan kurang lebih telah dijelaskan sebelum ini. Adapun persekutuan maksudnya adalah beberapa subjek yang bekerjasama menghasilkan satu atau banyak objek/akibat. Contoh mudah persekutuan adalah proses pembuatan meja, seperti dicontohkan sebelumnya. Dalam pembuatan meja ada bahan gerak, yakni kayu atau potongan-potongan kayu, ada pula alat-alat gerak, yakni apa-apa yang menyampaikan bahan kepada akhir gerak, yakni meja. Beberapa alat gerak dalam contoh meja adalah Pak Karyo, ide tentang bentuk meja, ide tentang fungsi yang diharapkan dari meja, alat-alat pertukangan, waktu pengerjaan.
Dalam pembuatan meja tersebut setidaknya ada 2 subjek. Subjek pertama adalah pencipta materi, yakni yang mengadakan materi-materi, termasuk kayu dan bahan-bahan lain yang kemudian menjadi alat-alat pertukangan, bahkan mengadakan tubuh Pak Karyo dan energi materialnya, juga menentukan hukum-hukum yang berlaku di alam materi, yakni kayu jika mengalami gesekan tertentu dapat mengalami perubahan bentuk atau terpotong, energi yang tersimpan di tubuh dapat diubah menjadi gerak tangan, gesekan yang sedemikian akan membutuhkan waktu sedemikian untuk memotong kayu setebal-lebar sekian, dst. Subjek kedua adalah Pak Karyo. Setelah mengamati dan mempelajari hukum-hukum yang berlaku di alam materi maka Pak Karyo dapat memanfaatkan hukum-hukum tersebut untuk mewujudkan idenya, yakni bentuk dan fungsi meja. Perhatikan bahwa Pak Karyo dalam hal ini tidak menentukan atau menguasai hukum-hukum yang berlaku di alam materi, dia hanya memanfaatkan hukum-hukum itu untuk kepentingannya. Kemudian pendeknya dapat dikatakan bahwa Pak Karyo bersekutu dengan pencipta materi untuk mewujudkan meja.
###
Jadi mana yang hakikatnya terjadi, penciptaan atau persekutuan, atau keduanya?
Ihwal mengadakan ini jelas akan lebih mudah dijelaskan jika diasumsikan sebagai penciptaan. Dalam kasus mengadakan meja di atas, misalnya, katakan saja ada pencipta materi dan ada Pak Karyo. Keduanya diciptakan oleh satu pencipta yang sama. Atau Pak Karyo diciptakan juga oleh pencipta materi. Selesai sudah penjelasannya.
###
Ketika mewujudkan meja, seperti contoh kita, ingin dijelaskan dengan konsep persekutuan?
Ada 2 subjek berbeda, pencipta materi dan Pak Karyo. Ada 2 kehendak berbeda, milik pencipta materi dan milik Pak Karyo. Ketika penjelasan hanya sampai di sini maka seolah ada keterpisahan antara wujud pencipta materi dan wujud Pak Karyo.
Ketika yang ada di antara keduanya hanya keterpisahan maka keduanya hakikatnya tidak akan pernah berhubungan, tak akan bersekutu, termasuk dalam mengadakan meja, atau apapun. Sementara dalam kasus contoh kita keduanya bersekutu, termasuk dalam mengadakan meja, maka mestinya ada keterkaitan antara keduanya. Bagaimana itu?
Hanya ada 2 alternatif jawaban untuk hal ini. Pertama, pencipta materi hakikatnya adalah pencipta Pak Karyo juga. Wujud Pak Karyo dengan demikian adalah gambaran atau perwujudan dari wujud sang pencipta materi. Pencipta materi juga mewujudkan dalam diri Pak Karyo kebebasan berkehendak termasuk dalam mempelajari dan memanfaatkan materi dan hukum-hukumnya. Dengan begitu kehendak Pak Karyo hakikatnya adalah gambaran atau perwujudan dari kehendak sang pencipta materi itu juga.
Kedua, pencipta materi dan Pak Karyo diciptakan oleh satu pencipta yang sama, katakan A. Dengan begitu wujud pencipta materi dan wujud Pak Karyo adalah gambaran atau akibat A. Demikian pula kehendak pencipta materi dan kehendak Pak Karyo adalah dalam lingkup kehendak A. Inilah maka pencipta materi dan Pak Karyo kemudian terpisah sekaligus terkait dalam semesta yang diwujudkan oleh A.
Lho kok?
###
Menarik di baca:
* Sebab-akibat, dalam buku "Logika (itu) Mudah", oleh penulis
Rabu, 30 Mei 2018
4. Mencipta
4. Mencipta
Mencipta adalah mengadakan objek dari tiada.
Pernah saya ikuti perdebatan tentang mungkinkah mencipta ini. Mungkinkah Tuhan mengadakan makhluk dari ketiadaan? Satu pihak bilang adalah mustahil mengadakan apapun dari ketiadaan, jelas-jelas tiada, tidak ada. Pihak lain bilang mencipta sebenarnya bukan mengadakan makhluk dari tiada, melainkan memindahkan wujud dari ranah potensi ke ranah aktual... Singkat kata tak ada kesimpulan pada akhirnya.
###
Pak Karyo mencipta meja dari potongan-potongan kayu. Ini mungkin contoh penerapan ide mencipta di atas. Dari tiada meja menjadi ada meja, dengan Pak Karyo sebagai penciptanya. Sekilas tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi coba selami sedikit lebih dalam. Samakah makna yang disampaikan antara Pak Karyo mencipta meja (dari potongan-potongan kayu) dengan Tuhan mencipta makhluk (dari tiada)? Mencipta pada kasus meja adalah pengibaratan sementara mencipta pada kasus makhluk adalah makna hakikinya.
Jika dicermati ide tentang mencipta ini, ada beberapa poin yang mestinya diperhatikan. Poin pertama adalah penguasaan penuh subjek terhadap objek yang dicipta. Dalam kasus Pak Karyo dan meja misalnya, subjek benar menguasai sebagian sifat-sifat kayu atau dan meja tapi tak sepenuh sifat-sifatnya. Pak Karyo bisa mempengaruhi beberapa sifat kayu (di antaranya bentuknya dan warnanya) tapi tak bisa menentukan semua sifat kayu (termasuk perubahan fisisnya, bahkan ada dan tiadanya dalam alam materi). Pak Karyo tak bisa sesukanya mengubah kayu jadi puding rasa melon misalnya. Tak bisa pula Pak Karyo memindahkan wujud kayu dari alam materi ke alam kubur misalnya. Bisakah? (Andai Pak Karyo bisa, pasti beliau ini bukan tukang kayu biasa, tapi dewa kayu. 😅)
Poin kedua ide mencipta, sebagai konsekuensi logis dari poin pertama, adalah ketunggalan pencipta. Karena subjek menguasai sepenuhnya objek yang dicipta maka niscaya dia, dan hanya dialah, yang mencipta objek tersebut. Kalau ada campur tangan subjek kedua, ketiga, dst, secara hakiki, dalam mencipta objek, maka itu tidak lagi dapat disebut sebagai mencipta (dalam makna hakikinya). Adapun jika subjek kedua, ketiga, dst adalah pada hakikatnya ciptaan subjek pertama, maka campur tangan subjek kedua, ketiga, dst juga hakikatnya adalah dari subjek pertama, ini dengan demikian tak menyalahi ide tentang mencipta objek oleh subjek tunggal.
###
Konsep mencipta yang tampaknya cukup rumit, ada gambarannya, dan (tak disangka) ternyata cukup mudah. Menghadirkan sesuatu dalam benak. (Mengkhayal juga boleh lah.)
Coba anda bayangkan kartun ikan. Karena gaya tarik dari bawah ikan tersebut jatuh. Masuklah ia ke air. Mulailah ia mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang melayang ke arah permukaan air karena gaya apung. Ada seorang mengendarai sampan mendekati ikan tadi, mengarahkan telunjuknya ke arah ikan. Seketika ikan berubah menjadi semangka seukuran tinggi orang tadi. Orang tadi mengarahkan telunjuknya lagi, seketika semangka menghilang. Cling!...
Anda perhatikan bahwa ikan dalam khayalan anda itu dapat anda apakan sesuka, semau anda. Anda perhatikan gaya tarik ke bawah, telunjuk orang, yang mempengaruhi ikan, itu tidaklah ada secara mandiri, termasuk gaya apung yang mempengaruhi gelembung udara, termasuk pengaruh telunjuk terhadap semangka. Semua gaya itu adalah dalam kuasa anda. Hakikatnya hanya anda subjek dalam kisah tadi, pun segenap gaya yang ada hanyalah milik anda.
Kira-kira demikianlah mencipta.
###
Kembali ke bagian yang lebih mendasar, yakni ke bahasan awal di bab ini, mungkinkah ada mencipta, mungkinkah mengadakan objek dari tiada?
Dengan menambahkan sudut pandang maka soalan ini akan lebih mudah dijawab.
Dari sudut pandang pengamat jelas bahwa tiada menjadi ada dan dari ada menjadi tiada itu bukan hal yang perlu dipertanyakan. Saya ajak anda kembali ke contoh meja. Meja tadinya tiada, benar-benar tidak ada, menjadi ada. Potongan-potongan kayu terpisah tadinya ada menjadi tiada.
Dari sudut pandang pencipta, objek ciptaan itu tak pernah tiada, ia selalu ada dan selalu bergantung. (Bagian ini akan menjadi jelas pada bahasan-bahasan selanjutnya. Insya Allah.)
Mencipta adalah mengadakan objek dari tiada.
Pernah saya ikuti perdebatan tentang mungkinkah mencipta ini. Mungkinkah Tuhan mengadakan makhluk dari ketiadaan? Satu pihak bilang adalah mustahil mengadakan apapun dari ketiadaan, jelas-jelas tiada, tidak ada. Pihak lain bilang mencipta sebenarnya bukan mengadakan makhluk dari tiada, melainkan memindahkan wujud dari ranah potensi ke ranah aktual... Singkat kata tak ada kesimpulan pada akhirnya.
###
Pak Karyo mencipta meja dari potongan-potongan kayu. Ini mungkin contoh penerapan ide mencipta di atas. Dari tiada meja menjadi ada meja, dengan Pak Karyo sebagai penciptanya. Sekilas tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi coba selami sedikit lebih dalam. Samakah makna yang disampaikan antara Pak Karyo mencipta meja (dari potongan-potongan kayu) dengan Tuhan mencipta makhluk (dari tiada)? Mencipta pada kasus meja adalah pengibaratan sementara mencipta pada kasus makhluk adalah makna hakikinya.
Jika dicermati ide tentang mencipta ini, ada beberapa poin yang mestinya diperhatikan. Poin pertama adalah penguasaan penuh subjek terhadap objek yang dicipta. Dalam kasus Pak Karyo dan meja misalnya, subjek benar menguasai sebagian sifat-sifat kayu atau dan meja tapi tak sepenuh sifat-sifatnya. Pak Karyo bisa mempengaruhi beberapa sifat kayu (di antaranya bentuknya dan warnanya) tapi tak bisa menentukan semua sifat kayu (termasuk perubahan fisisnya, bahkan ada dan tiadanya dalam alam materi). Pak Karyo tak bisa sesukanya mengubah kayu jadi puding rasa melon misalnya. Tak bisa pula Pak Karyo memindahkan wujud kayu dari alam materi ke alam kubur misalnya. Bisakah? (Andai Pak Karyo bisa, pasti beliau ini bukan tukang kayu biasa, tapi dewa kayu. 😅)
Poin kedua ide mencipta, sebagai konsekuensi logis dari poin pertama, adalah ketunggalan pencipta. Karena subjek menguasai sepenuhnya objek yang dicipta maka niscaya dia, dan hanya dialah, yang mencipta objek tersebut. Kalau ada campur tangan subjek kedua, ketiga, dst, secara hakiki, dalam mencipta objek, maka itu tidak lagi dapat disebut sebagai mencipta (dalam makna hakikinya). Adapun jika subjek kedua, ketiga, dst adalah pada hakikatnya ciptaan subjek pertama, maka campur tangan subjek kedua, ketiga, dst juga hakikatnya adalah dari subjek pertama, ini dengan demikian tak menyalahi ide tentang mencipta objek oleh subjek tunggal.
###
Konsep mencipta yang tampaknya cukup rumit, ada gambarannya, dan (tak disangka) ternyata cukup mudah. Menghadirkan sesuatu dalam benak. (Mengkhayal juga boleh lah.)
Coba anda bayangkan kartun ikan. Karena gaya tarik dari bawah ikan tersebut jatuh. Masuklah ia ke air. Mulailah ia mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang melayang ke arah permukaan air karena gaya apung. Ada seorang mengendarai sampan mendekati ikan tadi, mengarahkan telunjuknya ke arah ikan. Seketika ikan berubah menjadi semangka seukuran tinggi orang tadi. Orang tadi mengarahkan telunjuknya lagi, seketika semangka menghilang. Cling!...
Anda perhatikan bahwa ikan dalam khayalan anda itu dapat anda apakan sesuka, semau anda. Anda perhatikan gaya tarik ke bawah, telunjuk orang, yang mempengaruhi ikan, itu tidaklah ada secara mandiri, termasuk gaya apung yang mempengaruhi gelembung udara, termasuk pengaruh telunjuk terhadap semangka. Semua gaya itu adalah dalam kuasa anda. Hakikatnya hanya anda subjek dalam kisah tadi, pun segenap gaya yang ada hanyalah milik anda.
Kira-kira demikianlah mencipta.
###
Kembali ke bagian yang lebih mendasar, yakni ke bahasan awal di bab ini, mungkinkah ada mencipta, mungkinkah mengadakan objek dari tiada?
Dengan menambahkan sudut pandang maka soalan ini akan lebih mudah dijawab.
Dari sudut pandang pengamat jelas bahwa tiada menjadi ada dan dari ada menjadi tiada itu bukan hal yang perlu dipertanyakan. Saya ajak anda kembali ke contoh meja. Meja tadinya tiada, benar-benar tidak ada, menjadi ada. Potongan-potongan kayu terpisah tadinya ada menjadi tiada.
Dari sudut pandang pencipta, objek ciptaan itu tak pernah tiada, ia selalu ada dan selalu bergantung. (Bagian ini akan menjadi jelas pada bahasan-bahasan selanjutnya. Insya Allah.)
Senin, 28 Mei 2018
3. Anda tak mandiri
3. Anda tak mandiri
(Perlu diperhatikan bahwa bahasan berikut bukanlah permainan kata-kata semata. Renungkan dengan baik, mudah-mudahan anda kemudian tahu apa yang dimaksud.)
Benar anda tunggal dan anda sederhana, seperti dijelaskan sebelum ini. Anda bukanlah organ-organ material yang anda gunakan untuk beraktivitas itu. Anda, selain itu, bukanlah pengetahuan-pengetahuan dalam benak itu. Pun anda bukan benak itu sendiri. Anda bukanlah perasaan-perasaan yang seolah sangat lekat itu. Pun anda bukan qalbu, hati, yang digunakan untuk merasa itu. Anda adalah (anda) yang menyadari, itu saja. Dan benar, ternyata tak mudah mendefinisi anda.
Bagaimanapun bahasan harus terus berjalan...
Sejauh ini yang dapat dipahami adalah bahwa ada anda, ada pula selain anda. Dari sudut pandang anda, anda adalah wujud hakiki, sama hakikinya dengan wujud selain anda (yakni alam materi termasuk organ-organ material anda, benak anda termasuk pengetahuan-pengetahuannya, hati anda termasuk perasaan-perasaannya). Selami sedikit kedirian anda maka anda akan paham apa yang disampaikan di sini!
Sekarang bagaimana anda tahu bahwa anda mandiri atau tidak?
Katakan saja bahwa anda menguasai ke"aku"an anda, sepenuhnya. Ternyata anda tak mungkin menguasai selain ke"aku"an itu. Sementara selain "aku" itulah yang hakikatnya menjadi batas, pada hakikatnya turut menjadikan "aku" hakiki (tentunya dari sudut pandang ke"aku"an). Dengan begitu (ternyata) anda sama sekali tak menguasai, bahkan ke"aku"an anda sendiri.
Anda perhatikan bahwa segenap organ tubuh yang katanya milik anda itu ternyata tak sepenuhnya dalam kuasa anda. Betapa akan sangat sibuknya anda andai harus mengatur setiap tarikan dan hembusan nafas, setiap detak jantung, setiap pergantian energi dalam tubuh, setiap pergantian sel, dst.
Anda perhatikan juga bahwa pengaruh anda di alam materi amat sangat jauh dari signifikan.
Anda perhatikan bahwa pengetahuan-pengetahuan anda bukanlah murni kuasa anda. Pada awalnya anda tak tahu apa-apa. Setelah sekian waktu, anda tahu tentang banyak hal. Karena yang tak punya tak mungkin memberi, anda yang dalam keadaan tak tahu pasti tak mungkin menjadikan anda kemudian tahu dengan sendirinya, maka jelas anda berhutang pengetahuan-pengetahuan yang anda punya itu. (Tapi berhutang pada siapa?)
Anda perhatikan bahwa segenap benak anda, termasuk adanya benak itu sendiri, tidaklah dalam kuasa anda. Itu hanya wujud yang dititipkan kepada anda.
Anda perhatikan bahwa rasa bukanlah sesuatu yang dalam kuasa anda. Pembuktiannya mudah. Dapatkah anda mewujudkan rasa anda sendiri terlepas apapun yang anda sadari?
Dan hati anda, bukan pula wujud yang anda kuasai.
###
Menarik dibaca:
* Some Disciplines Concerning the Clothes, dalam buku "Adab as-Salat: The Disciplines of the Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini
(Perlu diperhatikan bahwa bahasan berikut bukanlah permainan kata-kata semata. Renungkan dengan baik, mudah-mudahan anda kemudian tahu apa yang dimaksud.)
Benar anda tunggal dan anda sederhana, seperti dijelaskan sebelum ini. Anda bukanlah organ-organ material yang anda gunakan untuk beraktivitas itu. Anda, selain itu, bukanlah pengetahuan-pengetahuan dalam benak itu. Pun anda bukan benak itu sendiri. Anda bukanlah perasaan-perasaan yang seolah sangat lekat itu. Pun anda bukan qalbu, hati, yang digunakan untuk merasa itu. Anda adalah (anda) yang menyadari, itu saja. Dan benar, ternyata tak mudah mendefinisi anda.
Bagaimanapun bahasan harus terus berjalan...
Sejauh ini yang dapat dipahami adalah bahwa ada anda, ada pula selain anda. Dari sudut pandang anda, anda adalah wujud hakiki, sama hakikinya dengan wujud selain anda (yakni alam materi termasuk organ-organ material anda, benak anda termasuk pengetahuan-pengetahuannya, hati anda termasuk perasaan-perasaannya). Selami sedikit kedirian anda maka anda akan paham apa yang disampaikan di sini!
Sekarang bagaimana anda tahu bahwa anda mandiri atau tidak?
Katakan saja bahwa anda menguasai ke"aku"an anda, sepenuhnya. Ternyata anda tak mungkin menguasai selain ke"aku"an itu. Sementara selain "aku" itulah yang hakikatnya menjadi batas, pada hakikatnya turut menjadikan "aku" hakiki (tentunya dari sudut pandang ke"aku"an). Dengan begitu (ternyata) anda sama sekali tak menguasai, bahkan ke"aku"an anda sendiri.
Anda perhatikan bahwa segenap organ tubuh yang katanya milik anda itu ternyata tak sepenuhnya dalam kuasa anda. Betapa akan sangat sibuknya anda andai harus mengatur setiap tarikan dan hembusan nafas, setiap detak jantung, setiap pergantian energi dalam tubuh, setiap pergantian sel, dst.
Anda perhatikan juga bahwa pengaruh anda di alam materi amat sangat jauh dari signifikan.
Anda perhatikan bahwa pengetahuan-pengetahuan anda bukanlah murni kuasa anda. Pada awalnya anda tak tahu apa-apa. Setelah sekian waktu, anda tahu tentang banyak hal. Karena yang tak punya tak mungkin memberi, anda yang dalam keadaan tak tahu pasti tak mungkin menjadikan anda kemudian tahu dengan sendirinya, maka jelas anda berhutang pengetahuan-pengetahuan yang anda punya itu. (Tapi berhutang pada siapa?)
Anda perhatikan bahwa segenap benak anda, termasuk adanya benak itu sendiri, tidaklah dalam kuasa anda. Itu hanya wujud yang dititipkan kepada anda.
Anda perhatikan bahwa rasa bukanlah sesuatu yang dalam kuasa anda. Pembuktiannya mudah. Dapatkah anda mewujudkan rasa anda sendiri terlepas apapun yang anda sadari?
Dan hati anda, bukan pula wujud yang anda kuasai.
###
Menarik dibaca:
* Some Disciplines Concerning the Clothes, dalam buku "Adab as-Salat: The Disciplines of the Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini
Rabu, 23 Mei 2018
2. Anda ini Apakah?
2. Anda ini apakah?
Materi adalah wujud yang dapat dijangkau dengan indera (yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, rabaan). Ciri-ciri materi, selain dapat diindera, di antaranya menempati ruang materi, selalu dapat dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, berubah seiring waktu.
###
Tidak pernah ada orang yang mengindera ke"aku"an. Dan tampaknya tak akan ada. Yang dapat diindera adalah tanda-tanda "aku", ataupun alat kelengkapannya, seperti organ-organ tubuh, atau bagi sebagian orang termasuk tubuh astralnya.
Secara massa dan volum apa yang membedakan orang hidup dengan mayatnya? Tampaknya tak ada. Secara induktif ini membuktikan bahwa wujud yang hidup, yakni "aku", tidaklah menempati ruang materi, tidak pula memiliki massa materi. Artinya "aku" bukanlah materi.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa "aku", atau hidup yang menyatu dengan tubuh, adalah semacam energi. Karenanya saat seorang mati massa dan volum materialnya tak berubah, tapi energinya yang berubah. Kita tanya, saat seorang mati, energinya, yakni "aku"nya pergi ke mana? Atau berubah jadi apa? Dengan kaca mata empirisme, yakni pengamatan inderawi, saya tak yakin ada yang bisa menjawab ini. Apakah menjadi tiada? Bagaimana bisa dijelaskan secara empiris bahwa ada menjadi tiada (cling!)?
###
Secara teori semua materi dapat dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dalam prakteknya yang membatasi pembagian materi ini hanyalah ketelitian alat yang digunakan. Bagaimana dengan ke"aku"an anda, dapatkah dibagi-bagi?
Organ-organ tubuh anda dapat dibelah-belah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. (Tapi jangan dicoba! Sakit.) Apa-apa yang ada dalam benak anda, yakni pengetahuan-pengetahuan, dapat dipisah-pisahkan. Perasaan-perasaan anda dapat dipisah-pisahkan. Sekarang senang, beberapa saat yang lalu agak senang, kemarin suntuk, dst. Tapi coba perhatikan ke"aku"an. Anda bukanlah wujud yang tersusun dari sesuatu ditambah sesuatu yang lain, ditambah sesuatu yang lain lagi, dst. Karenanya anda tak mungkin membedakan "aku" yang dulu dengan "aku" yang sekarang, atau dengan "aku" yang kapanpun.
###
Satu lagi ciri yang dimiliki materi adalah tak menampakkan kesengajaan (atau keinginan, atau kehendak). Anda perhatikan bangkai ikan, atau ikan pingsan, saat dilempar di udara, ia bergerak hanya mengikuti gaya yang mengenainya, tarikan maupun tolakan. Samakah dengan ikan dalam keadaan sadar yang dilempar di udara?
Demikian pula, samakah antara orang hidup dengan orang yang tidur, atau mayat?
###
Menarik dibaca:
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Self
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Consciousness
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Soul
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metaphysics
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Matter
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Incorporeality
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sense
Materi adalah wujud yang dapat dijangkau dengan indera (yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, rabaan). Ciri-ciri materi, selain dapat diindera, di antaranya menempati ruang materi, selalu dapat dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, berubah seiring waktu.
###
Tidak pernah ada orang yang mengindera ke"aku"an. Dan tampaknya tak akan ada. Yang dapat diindera adalah tanda-tanda "aku", ataupun alat kelengkapannya, seperti organ-organ tubuh, atau bagi sebagian orang termasuk tubuh astralnya.
Secara massa dan volum apa yang membedakan orang hidup dengan mayatnya? Tampaknya tak ada. Secara induktif ini membuktikan bahwa wujud yang hidup, yakni "aku", tidaklah menempati ruang materi, tidak pula memiliki massa materi. Artinya "aku" bukanlah materi.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa "aku", atau hidup yang menyatu dengan tubuh, adalah semacam energi. Karenanya saat seorang mati massa dan volum materialnya tak berubah, tapi energinya yang berubah. Kita tanya, saat seorang mati, energinya, yakni "aku"nya pergi ke mana? Atau berubah jadi apa? Dengan kaca mata empirisme, yakni pengamatan inderawi, saya tak yakin ada yang bisa menjawab ini. Apakah menjadi tiada? Bagaimana bisa dijelaskan secara empiris bahwa ada menjadi tiada (cling!)?
###
Secara teori semua materi dapat dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dalam prakteknya yang membatasi pembagian materi ini hanyalah ketelitian alat yang digunakan. Bagaimana dengan ke"aku"an anda, dapatkah dibagi-bagi?
Organ-organ tubuh anda dapat dibelah-belah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. (Tapi jangan dicoba! Sakit.) Apa-apa yang ada dalam benak anda, yakni pengetahuan-pengetahuan, dapat dipisah-pisahkan. Perasaan-perasaan anda dapat dipisah-pisahkan. Sekarang senang, beberapa saat yang lalu agak senang, kemarin suntuk, dst. Tapi coba perhatikan ke"aku"an. Anda bukanlah wujud yang tersusun dari sesuatu ditambah sesuatu yang lain, ditambah sesuatu yang lain lagi, dst. Karenanya anda tak mungkin membedakan "aku" yang dulu dengan "aku" yang sekarang, atau dengan "aku" yang kapanpun.
###
Satu lagi ciri yang dimiliki materi adalah tak menampakkan kesengajaan (atau keinginan, atau kehendak). Anda perhatikan bangkai ikan, atau ikan pingsan, saat dilempar di udara, ia bergerak hanya mengikuti gaya yang mengenainya, tarikan maupun tolakan. Samakah dengan ikan dalam keadaan sadar yang dilempar di udara?
Demikian pula, samakah antara orang hidup dengan orang yang tidur, atau mayat?
###
Menarik dibaca:
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Self
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Consciousness
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Soul
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metaphysics
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Matter
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Incorporeality
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sense
Sabtu, 19 Mei 2018
1. Anda ada
1. Anda ada
Anda dimaksud dalam makalah ini adalah manusia yang secara sengaja mengkajinya.
Pandangan tentang hakikat manusia setidaknya ada 3.
Paling lazim sepertinya, manusia dipandang sebagai fungsi penggabungan tubuh dengan jiwa. Ibarat rumah yang tersusun dari kayu, bata, semen, genteng, dst. Rumah adalah fungsi yang menyatukan unsur-unsur pembentuknya. Yang ada secara faktual adalah unsur-unsur pembentuk rumah, dengan format khas, dapat memenuhi fungsi tertentu, katakan menaungi. Karena hal itu kemudian rumah dianggap ada. Dalam pandangan ini manusia adalah fungsi, atau gambaran wujud, sementara yang ada secara faktual adalah tubuh dan jiwa yang berkaitan.
Pandangan kedua menyatakan bahwa manusia adalah wujud immateri yang sebagian alat kelengkapannya adalah tubuh material. Ibarat seorang yang mengendarai mobil, anda menggunakan tubuh untuk berinteraksi dengan alam materi. Yang membedakan manusia dari wujud immateri yang bertubuh material lainnya adalah penalaran (tingkat lanjut).
Pandangan ketiga menyatakan bahwa manusia adalah tubuh material yang terdiri dari sekian organ, sekian sistem organ. Pendek kata manusia adalah semata fungsi wujud material.
Mana pandangan yang sebenarnya mewakili hakikat manusia?
Menjawab ini perlu pembahasan pengantar tentang apa materi dan apa yang bukan. InsyaAllah pada bab-bab selanjutnya.
###
Prinsip pertama, setiap wujud pasti punya pengaruh, yakni ada tanda-tandanya. Mustahil satu wujud tak punya pengaruh, yakni tanpa tanda.
Gambaran mudahnya prinsip ini begini. Katakan ada materi tapi tak menempati ruang material, yakni tidak membatasi materi lainnya. Ia tak punya pula tanda-tanda materi. Mungkinkah ada materi semacam itu?
###
Prinsip kedua, hal yang berbeda pasti berasal dari sebab yang berbeda.
###
Perbuatan yang anda lakukan dengan sengaja ada, dan itu berbeda dari perbuatan anda yang tanpa sengaja, apalagi dari yang bukan perbuatan anda. Tindakan anda menggerakkan tangan, misalnya, itu ada. Kita tahu bahwa itu ada karena ia berpengaruh, juga ada tanda-tandanya.
Pengetahuan anda ada. Saat anda merasa lapar, tahu bahwa tubuh anda perlu asupan makanan, misalnya, anda bereaksi dengan mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Anda tahu bahwa pengetahuan anda ada karenanya anda bereaksi sesuai dengannya. Yang itu anda tahu berbeda dari yang bukan pengetahuan anda.
Niat anda, kesengajaan anda, ada. Anda sadar bahwa kadang melakukan satu hal dengan sengaja, menggerakkan tangan untuk makan, mengunyah, dan menelan misalnya. (Tanpa kesengajaan acara makan anda akan jadi lain ceritanya). Yang itu anda tahu berbeda dari yang bukan niat anda.
Perbuatan anda ada, pengetahuan anda ada, niat anda ada, yang itu adalah bagian dari tanda-tanda anda. Mungkinkah ada tanda-tanda (anda) tanpa ada subjeknya (yakni anda)?
###
Menarik dibaca
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Existence
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ontology
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sign
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Semiotics
* https://www.kompasiana.com/bro_chris/filsafat-manusia-kajian-filosofis-tentang-siapakah-manusia_581aa41d947e619f3219600c#
* On Curing The Wandering Imagination, dalam buku "Adab As-Salat: The Disciplines of The Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini
Anda dimaksud dalam makalah ini adalah manusia yang secara sengaja mengkajinya.
Pandangan tentang hakikat manusia setidaknya ada 3.
Paling lazim sepertinya, manusia dipandang sebagai fungsi penggabungan tubuh dengan jiwa. Ibarat rumah yang tersusun dari kayu, bata, semen, genteng, dst. Rumah adalah fungsi yang menyatukan unsur-unsur pembentuknya. Yang ada secara faktual adalah unsur-unsur pembentuk rumah, dengan format khas, dapat memenuhi fungsi tertentu, katakan menaungi. Karena hal itu kemudian rumah dianggap ada. Dalam pandangan ini manusia adalah fungsi, atau gambaran wujud, sementara yang ada secara faktual adalah tubuh dan jiwa yang berkaitan.
Pandangan kedua menyatakan bahwa manusia adalah wujud immateri yang sebagian alat kelengkapannya adalah tubuh material. Ibarat seorang yang mengendarai mobil, anda menggunakan tubuh untuk berinteraksi dengan alam materi. Yang membedakan manusia dari wujud immateri yang bertubuh material lainnya adalah penalaran (tingkat lanjut).
Pandangan ketiga menyatakan bahwa manusia adalah tubuh material yang terdiri dari sekian organ, sekian sistem organ. Pendek kata manusia adalah semata fungsi wujud material.
Mana pandangan yang sebenarnya mewakili hakikat manusia?
Menjawab ini perlu pembahasan pengantar tentang apa materi dan apa yang bukan. InsyaAllah pada bab-bab selanjutnya.
###
Prinsip pertama, setiap wujud pasti punya pengaruh, yakni ada tanda-tandanya. Mustahil satu wujud tak punya pengaruh, yakni tanpa tanda.
Gambaran mudahnya prinsip ini begini. Katakan ada materi tapi tak menempati ruang material, yakni tidak membatasi materi lainnya. Ia tak punya pula tanda-tanda materi. Mungkinkah ada materi semacam itu?
###
Prinsip kedua, hal yang berbeda pasti berasal dari sebab yang berbeda.
###
Perbuatan yang anda lakukan dengan sengaja ada, dan itu berbeda dari perbuatan anda yang tanpa sengaja, apalagi dari yang bukan perbuatan anda. Tindakan anda menggerakkan tangan, misalnya, itu ada. Kita tahu bahwa itu ada karena ia berpengaruh, juga ada tanda-tandanya.
Pengetahuan anda ada. Saat anda merasa lapar, tahu bahwa tubuh anda perlu asupan makanan, misalnya, anda bereaksi dengan mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Anda tahu bahwa pengetahuan anda ada karenanya anda bereaksi sesuai dengannya. Yang itu anda tahu berbeda dari yang bukan pengetahuan anda.
Niat anda, kesengajaan anda, ada. Anda sadar bahwa kadang melakukan satu hal dengan sengaja, menggerakkan tangan untuk makan, mengunyah, dan menelan misalnya. (Tanpa kesengajaan acara makan anda akan jadi lain ceritanya). Yang itu anda tahu berbeda dari yang bukan niat anda.
Perbuatan anda ada, pengetahuan anda ada, niat anda ada, yang itu adalah bagian dari tanda-tanda anda. Mungkinkah ada tanda-tanda (anda) tanpa ada subjeknya (yakni anda)?
###
Menarik dibaca
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Existence
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ontology
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sign
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Semiotics
* https://www.kompasiana.com/bro_chris/filsafat-manusia-kajian-filosofis-tentang-siapakah-manusia_581aa41d947e619f3219600c#
* On Curing The Wandering Imagination, dalam buku "Adab As-Salat: The Disciplines of The Prayer", oleh Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini
Rabu, 02 Mei 2018
7. Sebab-akibat
7. Sebab-akibat
Disadari atau tidak, setiap wujud, terindera atau tak terindera, terikat pada sebuah aturan. Aturan ini biasanya disebut dengan (hukum) sebab-akibat. Contohnya: setiap wujud pasti punya pengaruh. Wujud adalah sebab dalam contoh ini. Pengaruh adalah akibatnya.
Sebab-akibat adalah aturan yang meliputi semua wujud karenanya siapa yang dapat memahaminya secara sempurna adalah yang memahami semesta wujud secara keseluruhan. Karenanya, yang hakikatnya mengenal sebab-akibat hanyalah sang Pencipta.
Namun demikian siapapun yang punya potensi mengetahui, manusia misalnya, punya juga potensi mengenal sebab-akibat, tentunya sebatas semesta wujud yang dikenalnya. Atau lebih tepatnya manusia punya potensi mengenal gambaran dari sebab-akibat. Hal ini karena ia tidak mungkin mengenal semesta wujud sebagai sebuah keseluruhan. Karena bagaimanapun ia bukanlah yang melingkupi segenap wujud, ia bukan sang Pencipta.
Namun demikian anda tak perlu bersedih atau merasa putus asa bahwa hakikat sebab-akibat bukanlah untuk anda. Bukanlah wilayah tanggung jawab anda jika sesuatu di luar jangkauan anda. Tetapi tanggung jawab anda adalah terkait hal-hal yang dapat anda jangkau.
###
Dengan demikian yang disebut "sebab", termasuk dalam artikel ini, biasanya adalah gambaran dari sebab yang sebenarnya.
###
Kita akan melihat sebab-akibat dari sebuah sudut pandang. Istilahnya mungkin sudut filsafat gerak. (Yang tertarik mendalami filsafat gerak dipersilahkan browsing sendiri 😅).
Akibat adalah bagian akhir _sebuah_ gerak, proses, perubahan. Perlu dicermati bahwa gerak, mungkin, hakikatnya tidak akan terhenti pada satu atau banyak hal. Karena itulah pada awal paragraf ini ada ungkapan _sebuah_ . Jadi kita berfokus hanya pada gerak yang sedang dibahas. Sementara mengabaikan gerak-gerak sebelumnya, gerak-gerak sesudahnya, juga gerak-gerak di sekitarnya.
Sebab adalah apa-apa yang menyampaikan kepada akibat. Sebab ada 2 macam: bahan dan alat gerak. Bahan adalah hal yang mengalami gerak, yang dibahas. Alat gerak adalah yang menyampaikan bahan kepada akibatnya.
Sepotong kayu panjang menjadi dua potong kayu pendek. Akibat di sini adalah 2 potong kayu pendek. Bahannya adalah sepotong kayu panjang. Alat-alat geraknya bisa berupa gergaji, orang yang menggergaji, orang yang menginginkan kayu pendek, tenaga yang dipakai untuk menggergaji, maju-mundurnya gergaji, waktu yang dipakai untuk menggergaji, ide tentang dua potong kayu pendek, ide tentang penggunaan kayu pendek, dst.
Dalam hal bahan yang jelas, pertanyaan tentang sebab biasanya mengarah kepada salah satu atau beberapa alat gerak. Dalam hal bahan yang beragam atau belum diketahui maka pertanyaan tentang sebab bisa mengarah kepada bahan-bahan, bisa pula kepada alat-alat gerak, bisa pula keduanya. Tapi yang jelas adalah bahwa jawaban tentang sebab-sebab sesuatu harus dikembalikan kepada si penanya.
###
Metode Mill
Melengkapi pembahasan sebab-akibat, adalah metode induksi yang ditawarkan oleh John Stuart Mill.
A. Metode persamaan
Jika dua kesempatan atau lebih fenomena yang diamati hanya punya satu hal yang sama, hal yang berlaku pada semua kesempatan, itulah sebab (atau akibat) dari fenomena tsb.
Secara simbolis metode persamaan dapat diungkapkan:
ABCD hadir bersama wxyz
AEFG hadir bersama wtuv
------------------------------------
Maka A adalah sebab (atau akibat) w.
B. Metode perbedaan
Jika pada satu kesempatan fenomena yang diamati terjadi, dan pada satu kesempatan lain fenomena yang diamati tak terjadi, jika keduanya punya semua hal yang sama kecuali satu hal, yang satu hal itu hanya ada pada kesempatan terjadinya fenomena diamati; hanya hal yang membedakan keduanya itulah, sebab, atau akibat, atau bagian dari sebab fenomena yang diamati.
Metode perbedaan jika disimbolkan akan tampak seperti berikut.
ABCD hadir bersama wxyz
BCD hadir bersama xyz
----------------------------------------
Maka A adalah sebab, atau akibat, atau bagian sebab w.
C. Metode gabungan
Jika pada dua kesempatan atau lebih yang menghadirkan fenomena yang diamati hanya punya satu hal yang sama, sementara pada dua kesempatan atau lebih yang tak menghadirkan fenomena tersebut tak menghadirkan hanya satu hal tadi; hanya hal yang membedakan kedua set itulah, sebab, atau akibat, atau bagian sebab fenomena dimaksud.
Metode gabungan jika disimbolkan akan tampak seperti berikut.
ABC hadir bersama wxy
ADE hadir bersama wtu
BC hadir bersama xy
-----------------------------------------
Maka A adalah sebab, akibat, atau bagian sebab w.
D. Metode sisa
Sisihkan dari satu fenomena bagian-bagian yang diketahui sebagai akibat dari hal-hal tertentu, maka yang tersisa dari fenomena tersebut adalah efek dari hal-hal yang tersisa.
ABC hadir bersama wxy
B adalah sebab x
C adalah sebab y
-----------------------------------------
Maka A adalah sebab, atau bagian sebab w.
E. Metode keselarasan variasi
Fenomena apapun yang bervariasi seiring bervariasinya fenomena lain, adalah sebab, atau akibat fenomena lain tersebut, atau terhubung dengannya dalam sebab-akibat.
ABC hadir bersama wxy
A+-BC menghasilkan w+-xy
-----------------------------------------
Maka A terkait dengan w dalam sebab-akibat.
###
Menarik dibaca:
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Four_causes
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mill%27s_Methods
* Hubungan Kausalitas, dalam buku "Logika", oleh Drs. Mundiri
Disadari atau tidak, setiap wujud, terindera atau tak terindera, terikat pada sebuah aturan. Aturan ini biasanya disebut dengan (hukum) sebab-akibat. Contohnya: setiap wujud pasti punya pengaruh. Wujud adalah sebab dalam contoh ini. Pengaruh adalah akibatnya.
Sebab-akibat adalah aturan yang meliputi semua wujud karenanya siapa yang dapat memahaminya secara sempurna adalah yang memahami semesta wujud secara keseluruhan. Karenanya, yang hakikatnya mengenal sebab-akibat hanyalah sang Pencipta.
Namun demikian siapapun yang punya potensi mengetahui, manusia misalnya, punya juga potensi mengenal sebab-akibat, tentunya sebatas semesta wujud yang dikenalnya. Atau lebih tepatnya manusia punya potensi mengenal gambaran dari sebab-akibat. Hal ini karena ia tidak mungkin mengenal semesta wujud sebagai sebuah keseluruhan. Karena bagaimanapun ia bukanlah yang melingkupi segenap wujud, ia bukan sang Pencipta.
Namun demikian anda tak perlu bersedih atau merasa putus asa bahwa hakikat sebab-akibat bukanlah untuk anda. Bukanlah wilayah tanggung jawab anda jika sesuatu di luar jangkauan anda. Tetapi tanggung jawab anda adalah terkait hal-hal yang dapat anda jangkau.
###
Dengan demikian yang disebut "sebab", termasuk dalam artikel ini, biasanya adalah gambaran dari sebab yang sebenarnya.
###
Kita akan melihat sebab-akibat dari sebuah sudut pandang. Istilahnya mungkin sudut filsafat gerak. (Yang tertarik mendalami filsafat gerak dipersilahkan browsing sendiri 😅).
Akibat adalah bagian akhir _sebuah_ gerak, proses, perubahan. Perlu dicermati bahwa gerak, mungkin, hakikatnya tidak akan terhenti pada satu atau banyak hal. Karena itulah pada awal paragraf ini ada ungkapan _sebuah_ . Jadi kita berfokus hanya pada gerak yang sedang dibahas. Sementara mengabaikan gerak-gerak sebelumnya, gerak-gerak sesudahnya, juga gerak-gerak di sekitarnya.
Sebab adalah apa-apa yang menyampaikan kepada akibat. Sebab ada 2 macam: bahan dan alat gerak. Bahan adalah hal yang mengalami gerak, yang dibahas. Alat gerak adalah yang menyampaikan bahan kepada akibatnya.
Sepotong kayu panjang menjadi dua potong kayu pendek. Akibat di sini adalah 2 potong kayu pendek. Bahannya adalah sepotong kayu panjang. Alat-alat geraknya bisa berupa gergaji, orang yang menggergaji, orang yang menginginkan kayu pendek, tenaga yang dipakai untuk menggergaji, maju-mundurnya gergaji, waktu yang dipakai untuk menggergaji, ide tentang dua potong kayu pendek, ide tentang penggunaan kayu pendek, dst.
Dalam hal bahan yang jelas, pertanyaan tentang sebab biasanya mengarah kepada salah satu atau beberapa alat gerak. Dalam hal bahan yang beragam atau belum diketahui maka pertanyaan tentang sebab bisa mengarah kepada bahan-bahan, bisa pula kepada alat-alat gerak, bisa pula keduanya. Tapi yang jelas adalah bahwa jawaban tentang sebab-sebab sesuatu harus dikembalikan kepada si penanya.
###
Metode Mill
Melengkapi pembahasan sebab-akibat, adalah metode induksi yang ditawarkan oleh John Stuart Mill.
A. Metode persamaan
Jika dua kesempatan atau lebih fenomena yang diamati hanya punya satu hal yang sama, hal yang berlaku pada semua kesempatan, itulah sebab (atau akibat) dari fenomena tsb.
Secara simbolis metode persamaan dapat diungkapkan:
ABCD hadir bersama wxyz
AEFG hadir bersama wtuv
------------------------------------
Maka A adalah sebab (atau akibat) w.
B. Metode perbedaan
Jika pada satu kesempatan fenomena yang diamati terjadi, dan pada satu kesempatan lain fenomena yang diamati tak terjadi, jika keduanya punya semua hal yang sama kecuali satu hal, yang satu hal itu hanya ada pada kesempatan terjadinya fenomena diamati; hanya hal yang membedakan keduanya itulah, sebab, atau akibat, atau bagian dari sebab fenomena yang diamati.
Metode perbedaan jika disimbolkan akan tampak seperti berikut.
ABCD hadir bersama wxyz
BCD hadir bersama xyz
----------------------------------------
Maka A adalah sebab, atau akibat, atau bagian sebab w.
C. Metode gabungan
Jika pada dua kesempatan atau lebih yang menghadirkan fenomena yang diamati hanya punya satu hal yang sama, sementara pada dua kesempatan atau lebih yang tak menghadirkan fenomena tersebut tak menghadirkan hanya satu hal tadi; hanya hal yang membedakan kedua set itulah, sebab, atau akibat, atau bagian sebab fenomena dimaksud.
Metode gabungan jika disimbolkan akan tampak seperti berikut.
ABC hadir bersama wxy
ADE hadir bersama wtu
BC hadir bersama xy
-----------------------------------------
Maka A adalah sebab, akibat, atau bagian sebab w.
D. Metode sisa
Sisihkan dari satu fenomena bagian-bagian yang diketahui sebagai akibat dari hal-hal tertentu, maka yang tersisa dari fenomena tersebut adalah efek dari hal-hal yang tersisa.
ABC hadir bersama wxy
B adalah sebab x
C adalah sebab y
-----------------------------------------
Maka A adalah sebab, atau bagian sebab w.
E. Metode keselarasan variasi
Fenomena apapun yang bervariasi seiring bervariasinya fenomena lain, adalah sebab, atau akibat fenomena lain tersebut, atau terhubung dengannya dalam sebab-akibat.
ABC hadir bersama wxy
A+-BC menghasilkan w+-xy
-----------------------------------------
Maka A terkait dengan w dalam sebab-akibat.
###
Menarik dibaca:
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Four_causes
* https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mill%27s_Methods
* Hubungan Kausalitas, dalam buku "Logika", oleh Drs. Mundiri
Langganan:
Postingan (Atom)