Kamis, 04 Juni 2020

13. Pembagian Pengetahuan

Mencari Batu Pijakan Pengetahuan


Disebut dalam bahasan sebelumnya bahwa sebagian pengetahuan dan persepsi sepenuhnya pasti. Bahkan, sekian argumen yang diajukan kaum skeptis untuk membenarkan pandangan-pandangan menyimpang mereka, yang bersandar pada penyangkalan mutlak pengetahuan, justru menunjukkan dan mengharuskan adanya pengetahuan. Namun di sisi lain, kita sadar bahwa tak semua "pengetahuan" dan keyakinan kita benar atau sesuai fakta, lebih jauh, dalam banyak hal kita sendiri menemukan sekian kesalahan. 

Membandingkan dua sisi ini, lalu muncul soalan tentang apa saja yang membedakan sekian macam persepsi manusia. Apa-apa persepsi yang pasti dan luput dari kesalahan, apa-apa pula yang bisa salah dan boleh diragukan. Bagaimana memilahnya. 

Mafhum bahwa Descartes coba meramu filsafat yang solid dalam memerangi skeptisisme, ia menggunakan ketakpastian ragu itu sendiri sebagai batu pijakan filsafat. Lebih jauh, adanya "diri" si peragu dan pemikir adalah kemestian yang ia sandarkan pada pondasi itu. Selain itu, ia mengajukan kejelasan dan keterbedaan sebagai syarat bagi kepastian. Ia jadikan keduanya sebagai patokan dalam memilah benar dari ide-ide yang salah. Ia juga coba menerapkan pendekatan matematis pada filsafat, yakni dalam mengenalkan logika yang baru. 

Sekarang kita tak dalam posisi menilai filsafat Descartes, tak pula melihat sejauh mana ia berhasil dalam target pribadinya. Kami ingin menekankan bahwa memakai keraguan sebagai titik tolak perdebatan dengan skeptis cukuplah masuk akal. Ini seperti nampak pada bahasan terdahulu. Namun, jika ada yang membayangkan bahwa tak ada apapun yang cukup jelas dan pasti, hingga adanya si peragu harus disimpulkan dari keraguan, ini keliru. Adanya "diri" yang sadar dan berpikir mestinya paling tidak sejelas dan sepasti adanya ragu itu sendiri, yang merupakan salah satu keadaan diri. 

Demikian pula, jelas dan keterbedaan tak bisa dipandang sebagai syarat umum dalam memilah ide benar dari ide yang salah. Hal ini karena syarat ini sendiri tak cukup jelas dan terbedakan tak pula bebas dari multitafsir. Bukan pula patokan yang pokok dan paling signifikan, wajar ia tak mampu menguak rahasia pastinya beberapa macam persepsi. Bahkan, sekian pendapat Descartes dapat didebat panjang lebar. Namun, evaluasi demikian akan di luar kajian kita sekarang. 

Pembagian Mendasar Pengetahuan


Pembagian mendasar pengetahuan yang perlu dipertimbangkan adalah beda dua hal ini:

1) pengetahuan yang ditau langsung dari esensi/zat objek, dalam hal ini adanya objek pengetahuan secara nyata dan asli tersingkap bagi si penerima atau si tau, 

2) pengetahuan yang adanya objek secara eksternal tak teramati atau tersaksikan "langsung" oleh si tau.  Alih-alih, ia menyadarinya melalui perantara sesuatu yang mewakilinya, yakni bentuk akli atau konsep aklinya. 

Macam pertama disebut pengetahuan dengan kehadiran atau pengetahuan langsung (ilm al hudhuri), yang kedua disebut pengetahuan tak langsung (ilm al husuli). 

Pembagian pengetahuan ke dalam dua jenis ini masuk akal, menyeluruh, dan khas. Dengan cara ini tak ada posisi pengetahuan ketiga yang dapat menyanding keduanya. Yakni tak ada pengetahuan selain dua jenis pengetahuan ini. Ada perantara antara sosok yang tau dengan esensi objek yang ditau, dengannya persepsi diperoleh, inilah pengetahuan "tak langsung". Atau, jika tak ada keperantaraan, inilah pengetahuan "langsung". Selanjutnya, dua macam pengetahuan ini pada manusia kiranya perlu dijelaskan. 

Pengetahuan Langsung


Pengetahuan dan persepsi yang dipunya setiap orang tentang dirinya sendiri sebagai wujud yang menyadari adalah satu pengetahuan yang tak terbantah. Sofis sekalipun, yang memandang manusia sebagai patokan ukur semua hal, tak membantah adanya manusia beserta pengetahuan pribadi yang dipunyainya. 

Tentu manusia, yakni "diri", adalah dia yang merasa, yang berpikir. Dia yang dengan penyaksian internal menyadari diri sendiri, tidak melalui sensasi atau pengalaman, tidak pula melalui bentuk dan konsep akli. Yakni, ia sendirilah pengetahuan itu, dalam pengetahuan dan persepsi ini tak ada kejamakan atau beda antara pengetahuan, si tau, dengan objek yang ditau. Seperti disebut sebelumnya, "ketunggalan si tau dan yang ditau" adalah contoh paling sempurna tentang "hadirnya objek yang ditau pada subjeknya". 

Adapun, persepsi manusia tentang warna, bentuk, dan sifat-sifat lain tubuh tidaklah demikian. Ia diperoleh dengan penglihatan, sentuhan, dan indera-indera lain, juga dengan bentuk-bentuk akli. Juga, bahwa di dalam tubuh ada banyak sekali organ internal yang tak kita sadari langsung. Namun, kita mengenalnya melalui sekian tanda dan efek, atau kita menyadarinya dengan belajar anatomi, fisiologi, dan ilmu biologi lain. 

Demikian, pengetahuan tentang diri adalah sederhana dan tak terbagi, tak semacam proposisi, "saya adalah", atau "saya ada", yang tersusun dari beberapa konsep. Jadi, maksud "mengetahui diri" adalah kesadaran yang sangat intuitif, sederhana, dan langsung akan jiwa-jiwa kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran inilah ciri mendasar "mengetahui diri". Akan dibuktikan pada tempat yang tepat, bahwa jiwa adalah nonmateri, pun bahwa setiap wujud nonmateri mengetahui akan dirinya. Topik-topik ini terkait ontologi dan psikologi filosofis, tentunya bahasan ini bukanlah tempat untuk mengulasnya. 

Pengetahuan kita akan keadaan, kecenderungan, dan hasrat psikologis kita sendiri adalah juga contoh pengetahuan langsung. Saat takut, seketika kita tau akan keadaan psikologis ini tanpa perantara apapun, tanpa media bentuk atau konsep akli apapun. Saat menyukai seorang atau sesuatu, kita mendapati kecenderungan ini dalam diri sendiri. Saat memutuskan untuk melakukan satu hal, kita tau akan keputusan dan niat kita. Takut akan sesuatu, atau suka dengan sesuatu, atau memutuskan melakukan sesuatu tanpa tau akan rasa takut, rasa suka, atau niat adalah omong kosong. Dengan cara yang sama, adanya ragu atau dugaan adalah tak terbantah. Tak seorangpun bisa mengklaim ia tak tau tentang keraguannya sendiri, tidak pula bahwa ia ragu akan adanya keraguan dirinya. 

Contoh lain pengetahuan langsung adalah pengetahuan tentang kemampuan perseptif [berpikir, merenung, dst] dan kemampuan motorik. Kesadaran diri akan kemampuannya berpikir dan mengkhayal atau akan berbagai kemampuan motorik merupakan pengetahuan dengan kehadiran dan langsung. Ini semua tak ditau melalui bentuk dan konsep akli. Karena itu seorang tak pernah salah dalam penempatannya. Ia tak pernah menggunakan kemampuan perseptif menggantikan motorik, tak pula menggunakan kecakapan bergerak menggantikan berpikir akan sesuatu. 

Di antara hal-hal yang ditau dengan kehadiran adalah bentuk dan konsep akli, yang ditau tanpa melalui perantara bentuk dan konsep akli lainnya. Jika pengetahuan akan apapun harus diperoleh melalui bentuk dan konsep akli, manusia mestinya tau setiap bentuk akli melalui bentuk akli yang lain. Pengetahuan akan bentuk akli tersebut juga melalui bentuk akli yang lain lagi. Dengan begini, untuk setiap hal yang anda tau anda harus mengenal sejumlah tak terbatas hal lain dan harus punya bentuk akli sebanyak tak terbatas. 

Mungkin ada yang bertanya, jika pengetahuan langsung adalah hadirnya objek pengetahuan itu sendiri, dan pengetahuan tak langsung adalah yang berperantara, maka bentuk-bentuk akli adalah pengetahuan langsung sekaligus tak langsung. Bentuk-bentuk akli ini di satu sisi dikenal secara langsung, yakni pengetahuan dengan kehadiran. Di sisi lain mereka dinyatakan sebagai pengetahuan tak langsung akan hal-hal eksternal. Bagaimana mungkin satu pengetahuan adalah langsung sekaligus tak langsung? 

Bentuk-bentuk akli bersifat mencerminkan dan mewakili objek eksternal, dan memang mereka adalah sarana untuk mengenal hal-hal di luar diri. Dengan begini dianggaplah mereka sebagai contoh pengetahuan tak langsung. Dari sisi faktual bahwa mereka hadir di hadapan diri, dan diri mengetahui mereka secara langsung, dihitunglah mereka sebagai pengetahuan langsung. Dua sisi ini beda satu sama lain: di satu sisi mereka hadir yakni mereka secara langsung disadari, di sisi lain mereka tak langsung yakni mewakili ihwal eksternal. 

Lebih jauh tentang hal ini, mari cermati analogi cermin. Kita bisa mengamati satu cermin dari dua cara pandang berbeda. Dari satu cara pandang katakan ada orang yang ingin membeli cermin, ia mengamati kedua sisinya ada yang cacat atau tidak. Dari cara pandang lain ada orang yang memakai cermin, melihat cermin untuk menatap wajah, meski arah pandang adalah pada cermin, perhatiannya tertuju pada wajah bukan pada cermin. 

Bentuk-bentuk akli dapat secara langsung disasar oleh diri, inilah kita bilang mereka sebagai pengetahuan langsung. Mereka dapat pula menjadi sarana untuk mengenal berbagai hal dan sekian sosok luar, di sini kita bilang mereka sebagai pengetahuan tak langsung. Perlu dicatat bahwa maksud penjelasan ini bukanlah memisahkan kedua kasus itu dalam waktu; melainkan pembedaan dua sudut pandang saja. Saat konsep akli adalah contoh pengetahuan tak langsung akan objek luar, tak mesti bahwa ia tak disadari secara langsung, tak mesti ia kehilangan sisi kehadirannya. 

Sahihnya Pengetahuan Langsung


Dari keterangan tentang pengetahuan langsung dan pengetahuan tak langsung serta beda keduanya, menjadi jelas mengapa pengetahuan tentang diri, rasa, dan contoh lain pengetahuan langsung bersifat pasti. Ini karena fakta itu sendiri yang teramati. Sebaliknya, pada pengetahuan tak langsung, bentuk dan konsep akli berperan sebagai perantara, dan mungkin tidak  persis serupa dengan fakta dan sosok luarnya. 

Atau, salah persepsi dapat terjadi saat ada perantara antara si tau dengan entitas yang ditau, lalu ada pengetahuan diperoleh. Dalam hal ini mungkin ada yang bertanya, apakah bentuk atau konsep yang menengahi si tau dengan objek yang ditau mewakili objek tersebut secara tepat dan persis serupa dengannya atau tidak. Kecuali terbukti bahwa bentuk dan konsep akli tepat sesuai dengan objek yang ditau, keyakinan akan sahihnya persepsi tak akan didapat. 

Namun, jika sesuatu atau sosok yang ditau hadir secara langsung bagi si tau tanpa perantara apapun, atau bahkan menyatu dengannya, maka tak ada celah kekeliruan, tak bisa dipertanyakan apakah pengetahuan itu sesuai atau tidak dengan objeknya, karena di sini pengetahuannya adalah objek itu sendiri. 

Sejauh ini pahaman tentang persepsi yang sahih dan keliru telah jelas. Sahih artinya persepsi yang sesuai dengan fakta dan sepenuhnya mengungkapkannya. Keliru artinya keyakinan yang tak sesuai dengan fakta. 

Pengetahuan Tak Langsung yang Serempak dengan Pengetahuan Langsung


Ada satu hal, akal selalu memotret apa yang hadir seperti mesin otomatis. Darinya ia mendapat bentuk dan konsep khas lalu menganalisa dan menafsirkannya. Contoh, saat seorang merasa takut, akalnya akan memotret kondisi takut itu, yang akan dapat diingat kembali setelahnya. Selanjutnya ia menangkap konsep umum darinya dan dengan menyematkan konsep lain ia menampilkan pernyataan (proposisi) seperti "saya takut", atau "saya punya rasa takut", atau "takut ada pada saya". Ia menafsirkan hadirnya kondisi psikologis ini serta merta berdasar pengetahuan sebelumnya dan mencoba cari sebabnya. 

Segenap proses akal ini, yang terjadi sangat cepat, beda dari kondisi takut dan pengetahuan langsungnya. Dan, keserempakannya dengan pengetahuan langsung sering jadi sumber kekeliruan. Orang kadang menduga bahwa karena ia mendapati rasa takut dan pengetahuan langsung iapun tau sebabnya dengan pengetahuan langsung. Nyatanya apa yang ditangkap dengan pengetahuan langsung adalah sederhana, tanpa bentuk atau konsep akli sama sekali, bebas pula dari tafsir bagaimanapun, makanya itu tak mungkin salah. Sebaliknya, tafsir yang seketika ada adalah dari persepsi tak langsung, yang pada dasarnya tak selalu benar dan tak selalu sesuai fakta. Menjadi jelas kemudian mengapa dan bagaimana kesalahan-kesalahan terjadi pada sebagian pengetahuan tak langsung. 

Contoh: orang merasa lapar dan langsung beranggapan bahwa ia perlu makanan. Sementara kadang yang ada adalah hasrat yang keliru, yakni ia tidak benar-benar perlu makanan. Apa yang sebenarnya ditangkap oleh pengetahuan langsung yang pasti benar adalah rasa khasnya. Yang itu seketika diikuti oleh tafsir akli, berdasar pembandingan dengan rasa-rasa semisal, itu disebabkan oleh perlu makanan. 

Pembandingan ini tentu saja tidak selalu tepat dan karenanya sebuah kesalahan dapat terjadi dalam menentukan sebab dan dalam memberi tafsiran aklinya. Berbagai kesalahan yang terjadi dalam penyingkapan mistis adalah semacam ini. Makanya penting menentukan pengetahuan langsung secara cermat dan membedakannya dari tafsiran akli yang menyertai, agar tak keliru seperti tersebut. 

Gradasi Pengetahuan Langsung


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengetahuan langsung tidaklah seragam dalam intensitasnya. Pengetahuan langsung ada kalanya hadir cukup kuat dan membekas pada kesadaran manusia, ada kalanya sangat lemah dan ringan sehingga orang setengah menyadari atau bahkan tak menyadarinya sama sekali. 

Beda tingkatan pengetahuan langsung kadang disebabkan bedanya tingkat wujud si tau. Jika diri si tau lemah dalam gradasi wujud, maka pengetahuan langsungnya juga lemah dan ringan. Jika tingkatan wujudnya lebih sempurna, pengetahuan langsungnya akan lebih sempurna dan lebih disadari. Penjelasannya tentu bergantung pada paparan tentang gradasi wujud dan gradasi kesempurnaan diri, yang mesti dibuktikan di ranah lain filsafat. Sementara akan kita terima saja, berdasar dua prinsip ini, bahwa pengetahuan langsung bisa kuat dan bisa lemah. 

Pengetahuan langsung akan kondisi psikologis dapat pula kuat dan lemah. Contoh: orang sakit, yang menangkap rasa sakit dengan pengetahuan langsung, saat mengalihkan perhatian kepada seorang teman akrab, tak lagi merasakan sakit. Sebaliknya saat sepi, khususnya di malam larut saat tak ada pengalih perhatian, ia merasakan sakit yang lebih kuat, sebabnya adalah kuatnya perhatian. 

Beda tingkat pengetahuan langsung bisa berdampak pada beda tafsiran akli sesuai kuat lemahnya. Contoh: meski diri pada tingkat paling rendah punya pengetahuan langsung akan dirinya, tak mustahil karena lemahnya pengetahuan ini ia menduga bahwa hubungan antara diri dan tubuhnya adalah identitas. Ia mungkin menyimpulkan bahwa hakikat diri adalah semata tubuh material atau fenomenanya. Namun, saat pengetahuan langsung yang hadir lebih sempurna, yakni saat hakikat si diri tersempurnakan, kesalahan demikian tak akan ada lagi. 

Pada tempat yanh sesuai akan dibuktikan bahwa manusia punya pengetahuan langsung akan Penciptanya. Namun, karena lemahnya tingkat wujud dan perhatian yang hanya tercurah pada tubuh dan hal-hal material, pengetahuan ini lalu tak tersadari. Namun, dengan menyempurnanya diri dan berkurangnya perhatian pada tubuh juga hal-hal material, serta menguatnya perhatian qalbu pada Allah Taala, pengetahuan yang ini akan mencapai tahapan terang dan tersadari hingga orang ini bilang "[Ya Allah] adakah perwujudan dari selain Anda dan bukan dari Anda?" 

(Dari Philosophical Instructions, oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi)

Senin, 01 Juni 2020

12. Tentang Aksioma Epistemologi

Bagaimana Filsafat Bergantung pada Epistemologi


Konsep pengetahuan dalam arti luas mencakup setiap jenis kesadaran dan persepsi. Ia dapat disajikan oleh epistemologi melalui topik-topik kajiannya. Namun demikian, ada beberapa dari konsep pengetahuan yang tidak secara formal berada dalam lingkup epistemologi. Yakni seperti wahyu, ilham, serta berbagai penyingkapan dan intuisi mistis. Adapun, soalan yang biasa disertakan dalam diskusi cabang filsafat ini adalah korelasi antara indera dan akal. 

Kami tak mungkin membahas semua topik ini di sini. Ini karena tujuan utama kami adalah menjelaskan nilai persepsi akli [penerimaan realitas oleh akal] dan membuktikan benarnya filsafat juga kesahihan metode-metode rasionalnya. Untuk itu, kami hanya akan menghadirkan beberapa topik yang berguna dalam metafisika dan teologi. Sesekali itu juga berguna bagi ranah lain filsafat seperti psikologi filosofis dan akhlak filosofis. 

Pada titik ini boleh kita ajukan tanya: Apa premis-premis dasar yang mendukung epistemologi? Di mana dapat ditemukan? Jawabnya adalah bahwa epistemologi tak perlu meminjam aksioma-aksioma untuk semua bahasannya. Ini karena berbagai topik yang ada dapat diklarifikasi secara mandiri pada pengetahuan-pengetahuan mudah (badihiyyat awwaliyyah) yang swabukti [membuktikan dirinya sendiri]. 

Dikatakan bahwa ontologi dan ilmu rasional lain tak perlu kepada ilmu lain. Nyatanya semua solusi untuk mereka ini bergantung pada mampu tidaknya akal menjawab soalan-soalannya. Bukankah berarti ranah filsafat tersebut perlu epistemologi untuk menyajikan aksioma-aksioma dasarnya?

Di bagian lain kami telah mengisyaratkan jawab untuk soal ini. Adapun gamblangnya, begini. Pertama, sekian premis yang secara langsung dibutuhkan oleh ilmu-ilmu rasional adalah penilaian-penilaian [tasdiq] yang swabukti dan tanpa perlu pembuktian. 

Adapun jabaran tentang penilaian-penilaian tersebut dalam logika atau epistemologi sebenarnya bersifat eksposisi atau keterangan, bukan argumentatif. Yakni, itu semua adalah alat untuk mengarahkan perhatian benak kepada hakikat yg dipahami akal tanpa perlu dalil apapun. Alasan di balik pembahasan penilaian macam ini dalam ilmu-ilmu tersebut adalah salah paham tentangnya yang pada gilirannya menjadikan keraguan. Seperti dalam kasus penilaian paling swabukti, "mustahilnya kontradiksi". Pada sebagian orang ini mengarah pada anggapan bahwa kontradiksi tidaklah mustahil. Bahkan kontradiksi kadang dianggap sebagai pondasi realitas. 

Sekian ragu yang mengemuka tentang nilai pengetahuan rasionalpun polanya sama. Diskusi kita ini ada untuk menghapus keraguan dan kesalah-pahaman seperti tersebut. Sebenarnya, menyelipkan penilaian-penilaian ini di antara topik logika dan epistemologi adalah perhatian, sikap mengalah, atau sikap sopan terhadap mereka yg mengarah kepada ragu. 

Jika seorang, tanpa sadar, tak mengakui adanya pengetahuan rasional, bagaimana orang lain berdiskusi dengannya bersandar pada bukti rasional? Bahkan, argumen-argumen yg diajukan untuk mendukung ragu demikian adalah berupa argumen rasional (perhatikan). 

Kedua, butuhnya berbagai ranah filsafat kepada prinsip-prinsip logika dan epistemologi adalah penerapan pengetahuan pada pengetahuan. Yakni, seorang yg benaknya belum teracuni oleh ragu dapat menalar hingga kesimpulan tertentu terkait kebanyakan topik. Dan penalarannya akan sesuai dengan prinsip-prinsip logika tanpa perlu ia mempelajarinya dan tanpa ia tau. Misal, bahwa penalarannya sesuai dengan bentuk pertama silogisme serta syarat-syaratnya, atau tanpa menyadari bahwa ada benak yg menyadari premis-premis ini dan menerima sahihnya kesimpulan yg mengikuti. 

Di sisi lain, mungkin sebagian orang, dalam menolak rasionalisme atau metafisika menggunakan penalaran dan tanpa sadar dg premis-premis metafisika. Atau, dalam menolak aturan-aturan logika mereka malah menyandarkan penalaran pada sekian aturan logika. Bahkan, dalam menolak mustahilnya kontradiksi, mereka malah menggunakannya tanpa sadar, dan saat dikatakan, "Penalaran anda ini sahih sekaligus tak sahih" mereka akan tersinggung dan menganggapnya pelecehan. 

Dengan demikian, bergantungnya penalaran filosofis pada prinsip-prinsip logika dan prinsip-prinsip epistemologi bukanlah seperti meletakkan prinsip-prinsip pada bahasan keilmuan. Tapi ia adalah kebutuhan sekunder, yakni terkait menggantungkan prinsip-prinsip keilmuan ini pada dirinya masing-masing. Yaitu, ia adalah kebutuhan untuk pembenaran ulang keilmuan. Yakni untuk beroleh konfirmasi lebih lanjut bagi penilaian-penilaian ini. 

Seperti swabukti pada proposisi-proposisi, yang bergantung pada mustahilnya kontradiksi. Jelas bahwa bergantungnya proposisi-proposisi swabukti pada prinsip ini tak sama dengan bergantungnya proposisi-proposisi spekulatif pada proposisi-proposisi swabukti. Jika tidak, maka beda antara proposisi swabukti dan spekulatif tak akan ada. Dan setidaknya, satu proposisi, yakni prinsip mustahilnya kontradiksi, harus diterima sebagai swabukti. 

Mungkinnya Pengetahuan


Setiap orang yang berakal sehat percaya bahwa ia benar tau sekian hal, pun bahwa ia mungkin untuk tahu sekian hal. Ia bahkan berupaya untuk beroleh informasi tentang ihwal yang ia perlu atau suka. Tanda terbaik untuk upaya macam ini adalah yang telah dilakukan oleh para ilmuwan dan filosof, dengan membawakan berbagai ranah ilmu dan filsafat. 

Bahkan, mungkin dan aktualnya ilmu bukanlah suatu yang disangkal atau diragukan oleh orang berakal yang benaknya belum tercemari ragu. Apa yg terbuka untuk diskusi atau telaah dan apa yg masuk akal untuk diperdebatkan adalah penentuan batas-batas pengetahuan manusia, syarat alat-alat untuk beroleh pengetahuan tertentu, cara memilah pemikiran benar dari yg salah, dan semisalnya. 

Seperti disinggung sebelumnya, gelombang-gelombang skeptisisme telah muncul berulang-ulang di Eropa, bahkan para pemikir hebatpun tertelan olehnya. Sejarah filsafat mencatat sekian aliran pemikiran yg sepenuhnya menyangkal pengetahuan, semisal sofisme, skeptisisme, agnostisisme. Penjelasan terbaik tentang penyangkalan total pengetahuan (jika anggapan ini benar) adalah bahwa korban-korbannya terjangkit kecerobohan akut, satu keadaan yg dialami sebagian orang terkait beberapa hal lain juga. Selayaknya dianggap sebagai semacam penyakit jiwa. 

Adanya orang-orang demikian, niat di balik pandangan-pandangannya, ataupun fakta atas tuduhan kepada yang diklaim memilikinya, biarlah kita serahkan rinciannya kepada putusan riset sejarah. Adapun kami, menganggapnya sebagai deskripsi keraguan atau tanya yang perlu jawaban filosofis. 

Menilik Klaim Kaum Skeptis


Kutipan-kutipan dari kaum sofis dan skeptis dapat dibagi menjadi dua: satunya adalah ungkap mereka tentang ada dan yang ada (wujud), lainnya adalah tentang ilmu dan pengetahuan. Ungkap-ungkap tersebut punya dua aspek: satu aspek terkait ontologi, yang lain terkait epistemologi. 

Contoh, kutipan yg di sandarkan kepada sofis paling ekstrim, Gorgias: "Tiada wujud, jikapun ada sesuatu, ia mustahil ditau, dan meski ada pengetahuan tentang wujud, pengetahuan ini mustahil disampaikan kepada yg lain." Frasa pertama adalah tentang wujud, mesti dibahas di bagian ontologi. Namun yang kedua, relevan dengan diskusi sekarang, epistemologi, maka wajarnya frasa kedua inilah yang kita bahas lebih lanjut. 

Hal pertama yang perlu diungkapkan: Yang meragukan semua hal tak akan mampu meragukan adanya diri mereka sendiri, adanya ragu mereka, tidak pula organ-organ persepsi, seperti penglihatan dan pendengaran, pun adanya bentuk mental dan berbagai keadaan psikologisnya. 

Jika seorang bahkan menyatakan keraguan tentang ihwal ini, ia pasti sakit, dan perlu penyembuh, atau ia bohong dan punya niat jahat, karenanya perlu dikoreksi dan ditegur. Demikian pula, siapa yang bicara dan berdiskusi atau menulis buku mustahil menolak adanya lawan diskusi, atau adanya kertas atau pena yang dipakai. 

Pada titik ekstrim bisa dikatakan seorang menyadari semua hal dalam kediriannya namun ia ragu akan adanya mereka di dunia luar. Sebagaimana muncul dari pernyataan-pernyataan Berkeley dan beberapa idealis lain. Mereka menerima semua objek persepsi sebagai semata berbagai bentuk dalam benak, dan menyangkal adanya secara eksternal. Namun begitu, mereka menerima adanya orang-orang lain yang punya benak dan persepsi. Pandangan ini tak sepenuhnya menyangkal pengetahuan dan keberadaan, namun menyangkal keberadaan material, segenap keraguan mereka adalah tentang wujud terkait beberapa objek pengetahuan. 

Jika seorang mengklaim bahwa pengetahuan-yakin adalah mustahil, tanya yang harus diberikan kepadanya apakah ia tau itu, ataukah ia juga punya keraguan tentangnya. Jika ia bilang ia tau, maka setidaknya satu hal diketahui telah dibenarkan, dan klaimnya sendiri gugur. Jika ia bilang ia tak tau itu, artinya ia mungkin berkesempatan mendapat pengetahuan-yakin. Dengan kata lain, ungkapannya sendiri terbukti salah. Namun, jika seorang bilang bahwa ia ragu tentang klaim kemungkinan pengetahuan dan pengetahuan-yakin, mesti ditanya apakah ia tau bahwa ia ragu atau tidak. Jika menjawab ia tau bahwa ia ragu, maka bukan hanya mungkin bahkan pengetahuan secara aktual telah diakui. Jikapun, ia bilang meragukan ragu yg ada padanya, ungkap ini entah disebabkan penyakit jiwa atau niatan buruk, perlu tanggapan nonteoritis. 

Para pembela kenisbian semua pengetahuan mengklaim bahwa tak ada proposisi yang sahih secara mutlak, berlaku umum, selalu. Sesiapa boleh menanyai orang-orang itu apakah klaimnya tersebut sahih secara mutlak, berlaku umum, selalu, atau apakah ia nisbi, partikular, dan temporal. Jika itu berlaku selalu, dalam semua kasus, tanpa syarat dan tanpa kecuali, maka itulah sahih. Maka setidaknya ada satu proposisi yang mutlak, berlaku umum, selalu yang telah terbukti. Jika pengetahuan ini sendiri juga relatif berarti ia tak berlaku pada beberapa kasus. Dan, pada kasus-kasus yg ia tak berlaku itu ada proposisi yang mutlak, berlaku umum, selalu. 

Menolak Ragu Skeptis


Satu ragu yang jadi sandaran kaum sofis dan skeptis, mereka ungkap dalam berbagai bentuk, dan dengan bermacam contoh adalah: Kadang orang beroleh kepastian tentang adanya sesuatu melalui indera, namun kemudian sadar bahwa ia salah. Demikianlah seorang tau bahwa persepsi inderawi ternyata tak dapat dipercaya. Polanya lalu seperti mengemuka, persepsi-persepsi inderawi yang lain mungkin juga salah, akan datang hari saat sekian luput itu nampak juga. Demikian pula kadang seorang mendapati satu prinsip sebagai benar secara rasional, namun kemudian ia dapati bahwa penalarannya tidak tepat, keyakinannya pun berubah ke ragu. Begitulah, penalaran juga nyatanya tak dapat dipercaya. Dengan cara yang sama kemungkinan salah berimbas ke persepsi akal yang lain. Kesimpulannya tak inderawi tak pula penalaran dapat dipercaya. Tak ada yg tersisa bagi manusia kecuali ragu. 

Tanggapannya begini: 

1. Sasaran argumentasi ini adalah sampai kepada sahihnya skeptisisme, dan sampainya pengetahuan akan benarnya ia melalui penalaran, dan paling tidak menarik lawan diskusi agar menerima ide anda. Yakni, anda berharap bahwa ia akan mencapai pengetahuan tentang sahihnya klaim-klaim anda, sementara anda berkeras bahwa mencapai pengetahuan adalah mustahil mutlak. 

2. Ditemukannya kesalahan persepsi inderawi dan akli menuntun kepada pengetahuan bahwa persepsi-persepsi tersebut tak sesuai dengan realitas. Ini secara logis menunjukkan bahwa kita menerima adanya pengetahuan tentang kelirunya persepsi. 

3. Kemestian lainnya adalah kita tau bahwa ada realitas yang tak sesuai dengan persepsi keliru kita, jika tidak maka tak akan ada konsep kelirunya persepsi. 

4. Kemestian lainnya adalah bahwa kita pasti tau bahwa persepsi yang keliru dan bentuk aklinya berlawanan dengan realitas. 

5. Akhirnya, adanya orang yang keliru, begitupun indera dan akalnya pastilah diterima. 

6. Penalaran ini sendiri adalah argumentasi akli (meski cacat) dan bersandar padanya adalah  anggapan bahwa akal dan persepsinya sebagai dapat dipercaya. 

7. Sebagai tambahan, pengetahuan lain diasumsikan ada, yaitu persepsi-persepsi yang keliru itu, dalam keadaan keliru, tak mungkin benar. Jadi, argumentasi kaum skeptis itu sendiri meniscayakan diterimanya beberapa contoh pengetahuan, bagaimana seorang demikian lalu menafikan mungkinnya pengetahuan sepenuhnya, atau bahkan meragukannya?!

Semua jawab ini menyangkal argumentasi kaum skeptis. Dengan meneliti dan menunjukkan cacatnya, kita membuktikan sahih dan tidaknya persepsi inderawi dengan bantuan penalaran. Bagaimanapun, seperti telah dinyatakan, tidak benar bahwa ditemukannya salah pada persepsi akli juga berimbas ke semua persepsi akli yang lain, karena kemungkinan salah hanya dapat terjadi pada persepsi-persepsi spekulatif, yang tak swabukti. Adapun proposisi-proposisi akli swabukti yang menjadi sandaran pembuktian filosofis tidak pernah luput sama sekali, penjelasannya akan disajikan pada bab ke 19. (Dari Philosophical Instructions, oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi)